
"By, hati-hati." Ucap Rere dengan tersenyum.
Pagi stelah mereka menginap di hotel, tidak ada wik*wik bagi keduanya, karena Riko tidak akan merusak wanita yang Ia cintai.
Rere mengantar Riko ke bandara dan disinilah mereka berada, menunggu keberangkatan sekitar sepuluh menit lagi.
"Rasanya berat Hon, aku gak akan kuat." Riko menjatuhkan kepalanya di bahu Rere.
Rere tersenyum melihat tingkah Riko, sejak pagi pria itu selalu bertingkah bak anak kecil.
"Jangan di bawa kalau gak kuat." Ucap Rere ikut ngawur.
Riko mendongakkan kepalanya. "Kamu ngomong apa? gak nyambung." Ucap nya kesal, malah membuat Rere tertawa.
"Kamu lucu By, udah tua tapi masih kaya anak kecil.. gitu-gitu kok bisa jadi penjajah lubang wanita." Ucap Rere terkekeh.
Riko mendelik mendengar ucapan Rere. "Kamu nakal hon." Riko mencubit pipi Rere gemas.
Terdengar dari pengeras suara jika keberangkatan pesawat ke Jakarta akan segera berangkat.
"Aku pasti merindukanmu." Riko memeluk Rere.
"Jangan mencari wanita lain, jika rindu padaku." Ucap Rere bermaksud menyindir Riko, agar tidak lagi main celap celup Oreon.
"Hm..aku tidak janji, karena kamu jauh dariku." Riko mencium pucuk kepala Rere.
Rere pun mengeratkan pelukannya, menghirup aroma Riko hingga memenuhi penciumannya, dirinya pasti juga akan rindu dengan pria mesum ini.
__ADS_1
"Baiklah terserah kamu, jika kamu mau aku dicicipi pria lain." Ucapan Rere sontak membuat Riko marah.
Melepas pelukannya Riko menatap Rere tajam. "Terserah jika kamu mau." Ucap nya dingin.
Rere hanya mengulum senyum, melihat wajah Riko yang terlihat marah.
"By.."
Cup
Rere Melummatt bibir Riko sekilas, namun tangan Riko malah menekan tengkuknya untuk memperdalam ciumannya.
"Emph.." Rere memukul dada Riko ketika dirinya merasa kehabisan napas.
"Malu, By banyak orang." Ucap Rere sambil tengok kiri kanan, beruntung orang-orang tidak memperhatikan dirinya.
Riko terkekeh. "Bilang malu, tapi mulai duluan..waras mbak.."
"Jangan marah, aku hanya bercanda." Ucap Rere menatap manik mata coklat milik Riko.
"Hm..tidak janji jika kamu benar melakukan itu." Riko mengelus pipi Rere. "Jaga diri, jangan mau di elus sama buaya kadal si Zidan."
"Ada yaa, buaya kadal?" Tanya Rere mengulum senyum.
"Ada, dan itu buaya kadal peliharaan kamu."
.
__ADS_1
.
.
Di toko bunga Bella nampak heran dengan pria yang sejak tadi duduk menunggu bosnya, meskipun Bella tahu siapa pria itu, tapi dirinya malas meskipun hanya sekedar menyapa.
Zidan menunggu Rere di toko bunganya, entah mengapa dirinya mengkhawatirkan Rere ketika istri sirinya yang tak dianggap tidak pulang.
Zidan memikirkan hal lain, apakah mungkin istrinya mempunyai pria lain?
Tapi mana mungkin Rere berani menjalin hubungan dengan pria lain, sedangkan yang Zidan tahu Rere bukan wanita seperti itu.
Satu jam Zidan hanya duduk di dalam toko, menunggu Rere yang tak kunjung datang.
"Pagi.." Sapa seseorang yang Zidan kenal dengan suaranya.
"Mbak, baru datang?" Tanya Bella yang langsung menghampiri Rere.
"Iya Bell, maaf telat mbak baru nganterin temen mbak ke bandara." Ucap Rere yang belum sadar jika ada Zidan yang berdiri mengamati dirinya.
Pagi ini Rere kembali menggunakan dress, biasanya Rere akan menggunakan celana jeans jika bekerja namun penampilan Rere pagi ini membuat Zidan mengangumi kecantikan Rere diam-diam.
Ehem
Zidan berdehem keras, ketika Rere tak kunjung menyadari keberadaanya.
"Mas?" Rere yang kaget dan menoleh melihat Zidan yang berdiri melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Dari mana saja, tidak pulang semalaman."
Deg