
Bukan hanya Zidan yang terperangah mendengar apa yang di ucapkan Rere, bahkan Riko sampai tidak percaya dengan apa yang di katakan Rere.
"Beneran si Rere minta talak." Gumam Riko lirih, namun detik kemudian seringai lebar mengembang di bibirnya.
Sejak tadi Riko mendengar dan melihat bagaiman suasana di dalam sana yang tegang, saling berdebat dan saling menyalahkan yang dirinya lihat.
Tapi dirinya belum mau masuk dan ikut campur jika semua berjalan dengan lancar.
"Nak..jangan bicara sembarangan." Ucap Mama Zidan mendekati menantunya itu.
"Mama minta maaf jika Zidan selama ini banyak berbuat salah sama kamu, tapi Mama mohon jangan minta pisah ya, Zidan pasti akan mengesahkan pernikahan kalian ke KUA." Ucapnya mencoba merayu Rere.
"Bukan itu yang saya ingin kan Mah, dan maaf jika keputusan Rere membuat kalian kecewa
" Rere menatap sendu wajah ibu mertuanya. "Jika kalian sayang dengan ku, kalian cukup dukung keputusanku untuk pisah dari mas Zidan."
"Aku tidak akan menalak kamu Re, apapun yang terjadi." Zidan menatap Rere penuh dengan keseriusan.
"Apa alasan kamu Mas, selama ini kamu hanya menganggap ku pembantu tidak lebih."
"Aku_"
"Kamu takut tidak bisa memiliki semua harta kedua orang tuamu."
Deg
Zidan menatap Rere tak percaya dengan apa yang di kata kan nya.
"Apa maksud semua ini Zidan..?" Gandi pun menatap Zidan penuh kemarahan.
"Kalian selesaikan masalah kalian sendiri, dan untuk kamu Zidan..saya sebagai ayah kandung Rere saya minta kamu untuk menalak putri saya sekarang juga." Hilman bicara dengan biasa saja, tapi mampu membuat tubuh Zidan diam mematung.
__ADS_1
"Hil, jangan ambil keputusan gegabah, kita pikirkan jalan terbaiknya." Ucap Gandi memohon.
"Aku tidak bisa membiarkan putriku disakiti Gan, aku pun tidak pernah menyakitinya dari dia lahir hingga sekarang...hanya saja aku terlalu egois untuk mengerti putriku." Hilman menatap Rere dengan senyum, senyum seorang ayah yang rela melindungi putrinya.
"Tapi Hil_"
"Apa Ayah tau dia melakukan itu untuk lepas dariku dan menikah dengan pria selingkuhannya itu."
"Cukup Mas, aku tidak selingkuh." Rere menatap tajam Zidan yang sudah bicara ngawur.
"Heh, mana ada maling yang mau ngaku Re." Zidan mendekati Rere yang masih menatapnya tajam. "Kamu sama saja seperti ***_*** di luaran sana, pasti kamu sudah di tiduri oleh pria brengsek itu."
Plak
Rere mendaratkan tangannya tepat di pipi Zidan.
"Jaga bicara kamu Mas.!!"
"Jika kamu tidak suka, kenapa hanya diam saja, bukan kah seharusnya kamu bisa langsung menalak ku, atau jangan-jangan kamu hanya menggunakan aku sebagi umpan agar semua proyek mu berhasil.!! iya..dasar pria tidak tahu malu.!!" Rere tak kalah keras bicara, dirinya terlanjur kesal dan tersulut emosi, dengan Zidan yang tidak mau menalaknya dan malah membuat masalah dengan membongkar semua aib nya sendiri.
Mendengar ucapan Rere, tentu saja dirinya tidak terima, harga dirinya sebagai seorang pria di injak-injak.
"Tutup mulutmu..!!"
Plak
Tangan Zidan melayang begitu saja di pipi mulus Rere yang kini menjadi merah, bahkan sudut bibir Rere terluka.
"Rere..!!!
"Zidan.. Keterlaluan kamu..!!"
__ADS_1
Bugh
Tanpa permisi Riko menerjang Zidan yang sudah menampar wanitanya, dirinya tidak pernah berlaku kasar dengan Rere, dan melihat itu Riko tidak terima.
Bugh
Bugh
Keduanya saling adu jotos, para wanita pun berteriak histeris.
Hilman hanya diam saja melihat perkelahian dua pria itu, justru dirinya tersenyum sinis.
"By, stop By.." Rere mencoba untuk melerai, karena dari mereka semua tidak ada yang mau melerai kecuali Silla yang tak di dengarkan Zidan.
"Mas, sudah Mas..!!" Silla masih mencoba meraih tubuh Zidan.
Bugh
"Auws..sshh.." Silla ambruk kelantai ketika kepalan tangan Zidan menghantam pelipisnya.
"Silla, sayang.." Zidan yang melihat pun langsung mendekati Silla dengan wajah babak belur.
"Maaf Silla, aku tidak sengaja." Dan perhatian semua orang tertuju pada Zidan, kecuali dua orang yang malah menangis dan saling berpelukan.
"Kamu tidak apa-apa, apa ini sakit." Tangan Riko menyentuh pipi Rere yang begitu merah bekas tangan Zidan.
Rere yang sudah menjatuhkan air mata hanya bisa menggelang.
"Lalu kenapa kamu menangis, kalau tidak sakit?" Riko menatap wajah Rere lekat, dirinya bingung sendiri.
"Aku_" Rere menangis sesenggukan. "Kaki aku sakit By, kamu injek..huwa.." Rere semakin menangis kencang.
__ADS_1