
"Mbak ada bunga buat mbak." Ucap Lisa memberikan bunga Lily putih pada Miranda.
Miranda hanya melihat sekilas. "Dari siapa?" tanya Miranda heran, karena selama ini tidak pernah dirinya mendapatkan bunga.
"Dari Mas Tian." Ucap Lisa dengan senyum menggoda.
Miranda mengernyitkan keningnya. "Mas Tian?" Ucapnya merasa familiar dengan nama itu.
"Iya, mas Tian yang tadi nolongin mbak." Terang Lisa membuat Miranda hanya diam.
"Nih, terima dong mbak." Lisa menyodorkan bunga itu lagi.
"Buat kamu aja, anggep aja kamu yang di kasih." Ucap Miranda dengan enteng, dirinya kembali memeriksa pesanan untuk besok yang akan di kirim.
"Lah, seneng banget kalau aku yang di kasih, tapi karena harganya mahal mending tadi minta mentahanya aja, mayan buat beli Boba." Ucap Lisa nyeleneh.
Miranda hanya geleng kepala, dirinya tidak tahu jika Bastian masih mengingatnya. Karena Miranda pikir waktu itu adalah kejadian yang membuatnya terpuruk di masa remaja nya.
Dimana setelah dirinya menyerahkan keperawanannya pada pria yang dicintainya dan menurutnya adalah pria baik yang tidak akan meninggalkannya. Tapi pada kenyataannya Bastian meninggalkannya setelah pria itu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan Miranda menjadi gadis Introvert.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, Miranda dan Lisa bersiap untuk menutup toko.
Lisa adalah rekan kerja Miranda yang masih berusia muda, gadis itu baru lulus sekolah satu tahun dan karena susah mencari kerja hanya bermodalkan ijazah SMA jadi Lisa yang tidak sengaja lewat depan toko melihat ada tulisan lowongan pekerjaan.
Miranda yang di beri kepercayaan merawat dan menjaga toko bunga Rere merasa senang dan bersyukur. Apalagi rumah kedua orang tua Rere juga dititipkan kepada Miranda, karena Rere yang tahu kehidupan Miranda seperti apa. Dan perlakuan ayahnya yang juga suka berjudi dan mabuk-mabukan Rere juga tahu.
Rere hanya berharap semoga kehidupan Miranda menjadi lebih baik kedepannya, karena nasib seseorang kita tidak tahu, contohnya Bella yang sekarang menjadi gadis kesayangan seorang duda kaya beranak satu.
"Mbak, itu siapa?" Tanya Lisa yang melihat sebuah mobil berhenti di depan toko mereka.
Miranda hanya menatap mobil hitam itu dengan menggeleng kepala.
"Eh, itukan yang mas tadi siang, yang kasih mbak bunga ucap Lisa yang melihat Bastian keluar dari mobil.
"Ehh kok ada pria tampan lagi." Lisa bergumam dirinya seperti melihat dua pangeran berkuda putih yang sedang menghampiri mereka.
"Hai.. Mir?" Sapa Felik yang memang sudah akrab.
"Hay mas." Jawab Miranda dengan senyum.
"Mau balik." Tanya Felik lagi.
"Iya, sudah malam dan waktunya pulang." Miranda dengan senang hati menjawab pertanyaan Felik.
Felik hanya tertawa mendengar jawaban Miranda. Sedangkan Bastian memeperhatikan keduanya menahan kesal. Dirinya tidak suka melihat Miranda tersenyum pada sahabatnya itu, apalagi jika dengan dirinya Miranda menunjukan sikap dingin.
"Ayo kami antar." Ucap Felik menawari tumpangannya. Sebenarnya Felik juga tidak tahu jika Bastian mengambil jalan lewat sini, karena sepulang kantor Bastian menjemputnya untuk pergi ke kelab, tapi melihat dua gadis di depan toko Rere, Bastian malah berhenti.
"Tidak usah Mas, lagian kami sudah pesan Ojol." Ucap Miranda yang memang benar mereka sudah pesan ojol.
Tak lama Ojol yang Miranda pesan sampai.
"Atas nama mbak Lisa." Ucap tukang Ojol, yang melihat orderan.
"Iya pak, saya." Lisa mendekati motor Ojol itu. "Mbak Ayik jadi nebeng Ndak." Ucap Lisa polos, yang tidak bisa di ajak kerja sama dengan Miranda.
__ADS_1
Miranda mendelik kan matanya mendengar ucapan Lisa, dengan santainya gadis itu bilang 'neneng'.
"Eh, jadi dong Lis." Miranda me dekati Lisa.
Kedua pria itu hanya menahan senyum, bahkan Bastian sudah memalingkan wajahnya agar tidak terlihat sedang menertawakannya.
"Pak, bolehkan kita gayor dua, soalnya teman saya mau ikut nebeng." Ucap Lisa lagi membuat Miranda menepuk keningnya malu.
"Waduh neng kalau dua mah, harus bayar doubel atuh, soalnya neng teh udah besar..kalau masih anak-anak teh tidak apa-apa." Ucap tukang Ojol itu.
Miranda menghela napas, nasib kalau mau nebeng gratis.
"Lah, masa gitu sih pak..kasian temen saya lah kalau_"
"Sstt...udah gak papa, kamu duluan aja nanti aku pesen Ojol sendiri." Ucap Miranda akhirnya, karena merasa tidak enak dilihat oleh dua pria yang sepertinya sedang menahan tertawa.
Akhirnya pun Lisa pulang dengan Ojol, sedangkan Miranda mengeluarkan ponselnya untuk memesan Ojol.
"Tidak perlu pesan, biar aku antar." Bastian merebut ponsel Miranda.
"Kembalikan." Miranda mencoba meraih ponselnya lagi, tapi Bastian malah memasukkannya ke dalam saku celana.
"Kalian rupanya sudah saling akrab." Timpal Felik yang melihat teman nya sepertinya kenal dengan Miranda.
"Ngak..!!" Jawab mereka bersamaan, membuat kedua saling mendelik.
"Duh, kayaknya jodoh nih." Ucap Felik menggoda.
"Dih, ogah.." Ucap Miranda berbalik kesal.
Felik lebih dulu masuk ke dalam mobi, duduk di bagian jok belakang, karena pikirnya Bastian ingin berduaan dengan Miranda di depan.
Miranda tidak menjawab pertanyaan Bastian melainkan langsung masuk dan duduk di samping Felik.
"Eh..kenapa di sini, tidak duduk di depan." Ucap Felik yang terkejut melihat Miranda yang duduk di sebelahnya.
"Males." ucap Miranda cuek.
Bastian mau tidak menjadi supir di depan.
Matanya tak lepas menatap dua orang yang sejak tadi asik mengobrol, bahkan Bastian mencoba ikut bicara tapi Miranda dengan sengaja tidak menanggapi nya sama sekali.
Bastian menatap tajam kedua orang itu dari kaca spion dalam.
Ciitt..
"Aduh... Lu kalau nyetir yang bener dong Bas." Ucap Felik yang mengelus keningnya, akibat kepentok kursi depannya yang Bastian duduki.
"Turun lu, apa mau nginep di dalam mobil." Ucap Bastian kesal.
"Lah emangnya udah sampai." Felik melihat keluar ternyata mobil Bastian berhenti di depan rumahnya.
"Eh..kayanya mau ke kelab, kenapa malah nganter gue balik."
"Bawel, buruan turun." Omel Bastian lagi.
__ADS_1
"Lagian kamu disuruh meinggirt di sana, malah terus aja, akunya kan harus balik lagi." Ucap Miranda yang juga kesal, karena gang rumahnya sudah terlewat jauh.
"Ck. lu lagi nyusahin Miranda tau gak Bas." Ucap Felik tanpa sadar membuat Bastian mengepalkan tangannya.
Entah mengapa ucapan Felik membuat dadanya panas.
"Mir, kamu mau aku antar atau bareng Bastian." Ucap Felik yang akan keluar dari mobil.
"Ikut Mas aj_"
"Biar aku antar." Potong Bastian cepat. "Lu buruan keluar dodol." Ucap Bastian kesal, karena Felik tidak turun-turun dari dalam mobilnya.
"Ck.. parah lu Bas, tau gitu gue gak mau ikut bareng ku." Felik yang kesal membanting pintu mobil Bastian keras.
"Loh, mas tungguin aku."
Ketika Miranda ingin membuka pintu Bastian lebih dulu menancap gas, membuat Miranda terkejut dan langsung berpegangan.
Bastian hanya melirik dari kaca, Miranda nampak diam dan melihat keluar jendela.
Ciitt
Lagi-lagi Bastian mengerem mendadak membuat Miranda terkejut dan terjungkal kedepan.
"Bisa gak sih nyetir mobil." Ucap Miranda ketus, tangannya mengelus keningnya yang kepontok kursi.
"Pindah kedepan." Titah Bastian dengan tegas.
"Ogah." Miranda kembali duduk dengan menyilang kan kedua tangannya di depan.
"Mau suka reka apa gue paksa." Ucap Bastian lagi yang kesal, karena Miranda menolak.
"Cih, emang tukang maksa gak akan pernah berubah." Gumam Miranda yang masih terdengar oleh Bastian.
Bastian yang terlanjur kesal pun menjadi emosi., keluar dari mobil Bastian membuka paksa pintu mobil belakang dan menarik Miranda untuk keluar.
"Apa-an sih lepasin." Ucap Miranda mengibaskan tangannya yang di tarik Bastian.
"Gue udah nahan sabar sejak tadi, tapi lu selalu mancing kesabaran gue." Ucap Bastian menatap Miranda tajam.
"Lepas..!!" Miranda masih memberontak, dirinya tidak suka di bentak.
Bugh
Bastian mendorong tubuh Miranda ke badan mobilnya, dan menguncinya menggunakan tubuh Bastian.
Keduanya saling tatap, jika Bastian menatap wajah Miranda yang terlihat semakin cantik, lain hal nya dengan Miranda yang menatap wajah Bastian benci.
"Maaf untuk kesalahan yang aku buat di masa lalu." Ucap Bastian pelan, matanya menatap kedua bola mata Miranda yang menampakkan tatapan kebencian.
"Mungkin duku aku pria brengsek dan baji*Ngan." Mata Bastian turun pada bibir tebal Miranda yang ranum. "Dan aku tidak bisa menghilangkan bayangan masa lalu itu, dimana aku selalu di hantui rasa bersalah."
Miranda masih dengan tatapannya, tatapan yang begitu menusuk jantung Bastian. Kebencian terlihat jelas di kedua mata Miranda.
Cup
__ADS_1
Dengan lancangnya Bastian mengecup bibir Miranda yang sudah menggodanya sejak tadi.
Mereka berhenti di pinggir jalan, di mana niat Bastian ingin menyuruh Miranda pindah duduk, dan sekarang malah melakukan adegan live streaming di pinggir jalan.