
"Loh Cika disini." tanya Rere yang baru saja datang ke toko bunganya pada siang hari.
Dirinya sudah mengirim pesan pada Bella jika Ia akan telat untuk datang ke toko, dan Bella memaklumi itu karena bosnya itu sedang bersama kekasih selingkuhannya. Eh..beberkan sudah punya suami tapi punya pacar lain?
"Mama dari mana saja, Cika bosan nungguin Mama." Ucap gadis kecil itu dengan wajah cemberut.
"Maaf sayang, Mama sedang ada urusan." Jawabnya dengan mencium pipi Cika.
"Cika sama siapa, sana Nanny?" Tanya Rere.
Cika hanya menggelang. "Daddy di dalam."
Rere hanya mengangguk, sejujurnya dirinya juga tidak nyaman jika Cika di temani papanya datang ke tokonya.
"Hay.." Bram berdiri dari kursinya dan meletakkan koran yang baru saja dirinya baca.
"Sudah lama anda di sini tuan?" Tanya Rere sopan, dirinya menaruh tasnya di atas meja.
"Em..lumayan hampir satu jam." Ucap Bram biasa saja.
"Maaf jika Cika menunggu saya lama, saya tidak tahu jika dia akan datang kemari hari ini."
"Tidak apa, kebetulan saya sedang tidak ada jadwal padat, jadi bisa menemaninya bermain." Bram tersenyum sekilas.
Cika kembali sibuk dengan kegiatan merangkai bunga nya di temani oleh Bella, keduanya sudah akrab apalagi Cika bukan gadis kecil manja membuat Bella senang jika Cika berada disana dirinya menjadi punya teman, lebih tepatnya teman bermain.
Ehem...
Bram berdehem untuk mengurangi rasa canggungnya kepada Rere yang hanya diam saja, memperhatikan putrinya.
"Apa kamu nanti malam ada acara?" Tanya Bram pada Rere.
"Emm.. memangnya kenapa tuan?" Rere balik bertanya.
"Ada undangan rekan bisnis, dan saya ingin mengajak kamu untuk menemani saya datang ke acara itu." Ucap Bram dengan senyum.
"Emm..seperti nya saya tidak bisa, karena sudah ada janji dengan teman saya." Jawab Rere sopan.
"Oh..baiklah kalau begitu." Bram masih tersenyum, meskipun sebenarnya ada rasa kecewa karena tidak bisa mengajak Rere.
"Iya tuan, sekali lagi saya minta maaf."
"No problem, dan jangan panggil saya tuan, saya bukan majikan kamu." Bram terkekeh pelan.
"Em..lalu?
__ADS_1
"Terserah kamu, yang penting jangan tuan."
Rere menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah. M-Mas.." Cicitnya pelan.
"Lebih baik, dan tidak buruk."
Keduanya tertawa, dan berbincang akrab.
Bram tipe pria ramah dan penyayang, dan Rere gadis baik hati dan juga ramah.
.
.
"Ck. kenapa pesan nya tidak di baca sih." Zidan masih menatap layar ponselnya yang menunjukan centang dua abu-abu, itu tandanya pesan yang dia kirim untuk Rere belum di baca sejak satu jam lalu.
'Re apa kamu bisa temani saya malam ini ke pasta..'
Zidan mendesah keras, pesannya tak juga kunjung di baca, di telpon juga tidak diangkat-angkat.
"Kenapa dia itu, apa sedang sibuk." Ucapnya dengan kembali memulai pekerjaannya, karena sejak tadi dirinya hanya melihat ponsel tak menghiraukan pekerjaannya yang menumpuk.
Bahkan pesan dari Silla pun Ia abaikan, karena hanya ada ucapan minta ijin untuk pergi keluar bersama teman-teman nya.
Bukan tanpa alasan dirinya menghubungi Rere untuk memintanya menemani ke pesta, karena memang Silla tidak akan bisa ikut jika sudah pergi dengan temanya Silla akan pulang malam dan lupa waktu.
.
.
"Sayang ponsel kamu ketinggalan." Riko datang ke toko bunga untuk menjemput Rere, menemani kekasihnya untuk mencari gaun pesta nanti malam.
"Ya ampun By, aku kira jatuh dimana aku cari tidak ada, taunya ketinggalan di apartemen." Ucap Rere menerima ponselnya, dan tanpa mengecek langsung Ia masukkan ke dalam tas nya.
Riko mengecup kepala Rere sekilas. "Kamu pelupa sayang." Ucapnya melihat toko sore ini cukup ramai.
"Apa tidak apa-apa toko kamu tinggal sekarang."
"Em..sudah biasa Bella aku tinggal By." Ucapnya melihat Bella yang sedang melayani pembeli.
"Tapi kasihan dia jika kamu tinggal, apalagi toko sedang ramai."
"Terus aku harus apa, kita tidak punya waktu banyak kalau aku harus membantu Bella dulu."
__ADS_1
"Lebih baik kamu tambah lagi pekerja kamu, biar bantu bela bele itu." Riko mengedipkan dagunya dimana Bella berdiri.
Keduanya masih duduk di kursi ruangan toko itu.
Rere nampak berfikir,.jika dirinya menambah orang otomatis pemasukan uang nya akan berkurang. Dan apakah dia sanggup harus membayar dua orang sekaligus, meskipun terkadang memang dirinya dan Bella merasa kuwalahan jika sedang orderan banyak, apalagi dirinya juga harus menyewa mobil pickup untuk mengantar bunganya.
"Kenapa?" Tanya Riko yang melihat Rere hanya diam saja.
"Tapi aku takut tidak bisa membayar mereka jika menambah orang lagi."
"Tidak usah pikirkan itu, nanti biar aku yang mengurusnya, kamu hanya perlu membayar Bela bele saja, dan mencari orang yang bis kamu andalkan, selebihnya menjadi urusanku." Ucap Riko serius.
"Tapi By_
Riko menatap Rere lekat, membuat Rere menjadi diam. "Ini kartu untuk kebutuhan kamu, apapun itu terserah kamu pergunakan untuk apa." Riko memberikan kartu blackcard nya pada Rere. "Gunakan untuk membayar orang dan membeli apapun yang kamu perlukan, karena kartu ini sudah menjadi milikmu kembali." Tangannya menyentuh kepala Rere mengelusnya pelan.
Rere hanya terdiam, meskipun bukan pertama kali diri nya menerima kartu itu dari Riko, karena dulu kartu itu sudah pernah menjadi miliknya, dan Ia kembalikan setelah mereka bertengkar dan memutuskan untuk berpisah.
"Ayo kita pergi, keburu sore." Riko berdiri dan mengulurkan tangannya pada Rere.
Menyambut tangan Riko, mereka berjalan beriringan keluar toko dan masuk ke dalam mobil Riko.
.
.
Tak lama setelah mobil Riko pergi, mobil Zidan sampai di depan toko Rere.
"Pantas saja tidak membaca pesanku, tokonya sedang ramai." Gumamnya, lalu keluar dari mobil.
Terlihat ada beberapa pengunjung di dalam toko bunga itu. Zidan berjalan masuk ke dalam tapi matanya tidak melihat adanya Rere, yang ada hanyalah Bella saja.
"Eh..pak, cari siapa?" Tanya Bella basa basi, karena dirinya memang tidak menyukai Zidan sebagai suami bosnya itu.
"Dimana Rere." Ucapnya datar.
Bella hanya mengangkat satu alisnya. "Bukanya mbak Rere sudah pulang ya."
"Pulang..?" Zidan seakan tidak percaya.
"Ya, katanya sih ada janji gitu, makanya mbak Rere buru-buru pulang." Ucap Bella tak sepenuhnya bohong, karena memang Rere pergi ada janji bersama Riko.
Zidan tersenyum tipis 'jadi dia sudah pulang, apa dia melihat pesanku' Gumamnya dalam hati, Zidan pikir Rere pulang karena pesan yang dia kirim.
"Baiklah kalau begitu." Zidan pun pergi meninggalkan Bella yang hanya cengengesan tidak jelas.
__ADS_1
"Syukurin gue kerjain."