PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
bertemu Bastian


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Miranda memeriksakan kandungannya, dirinya di temani Felik datang kembali kerumah sakit di waktu mereka bertemu, dan Felik tahu jika dirinya mengandung anaknya.


"Mas tidak sibuk?" Tanya Miranda saat mereka mengantri namanya untuk di panggil, Felik baru saja menerima telfon dari klien.


"Kalau aku bisa berarti aku tidak sibuk." Jawabnya dengan seulas senyum. Felik memang sibuk dan dan dirinya menyempatkan menemani Miranda untuk cek up bulanan rutin, karena Felik ingin menjadi papa yang sigap untuk calon buah hatinya.


Jika dituruti Felik memang tidak ada waktu untuk sekedar jalan-jalan, tapi ini adalah hal penting bahkan lebih penting untuk Felik, karena tidak akan bisa terulang kembali.


Drt.. Drt..


"Ck." Felik berdecak. "Sebentar sayang aku terima telfon lagi." Felik sedikit menjauh, sejak tadi ada saja yang menghubunginya.


Miranda hanya tersenyum dan mengangguk, dirinya tahu jika Felik sangatlah sibuk. Apalagi pekerjaanya yang banyak membuatnya sering pulang larut malam.


Tapi pria itu selalu mencoba untuk bisa berada di sampingnya ketika dia membutuhkan sesuatu. Tidak sulit untuk mencintai pria seperti Felik, apalagi pria itu berubah untuk dirinya.


Pria mantan Casanova yang sekarang sudah tobat, dan Miranda cukup terharu. Bukanya tidak mau menerima lamaran Felik, tapi dirinya ingin melahirkan bayi nya terlebih dahulu.


"Ibu Miranda." Suara suster memanggilnya.


"Iya, sus." Miranda berdiri dan berjalan menuju ruang dokter, dirinya melirik ke arah Felik sebelum masuk, dan pria itu masih menerima telepon.


"Siang Bu Miranda." Sapa dokter wanita itu ramah. Dokter itu masih ingat dengan kejadian bulan lalu ketika suaminya sembunyi hanya untuk memberi kejutan istri.


"Siang dokter." Miranda duduk didepan sang dokter.


Setelah bertanya-tanya, Miranda disuruh berbaring di atas ranjang pasien untuk melakukan USG.


"Tunggu dulu dok." Suara Felik membuat mereka menoleh. "Sayang, kenapa tidak memanggil ku." Tanyanya, ketika selesai menelpon Felik sudah tidak melihat Miranda di kursi antrian.


"Aku tidak ingin mengganggu mu Mas."


Felik hanya menghela napas, dirinya yang ingin menemani Miranda tapi kesibukan di kantor sungguh mengganggunya. "Yasudah, lanjutkan Dok."


Dokter itupun memeriksa dengan alat Transducer di atas permukaan perut Miranda yang buncit, Dangan mata berbinar dan terharu Felik begitu bahagia melihat keadaan putranya di dalam perut sang ibu.


Miranda pun demikian, tidak menyangka dirinya akan segera menjadi seorang ibu, padahal dirinya sendiri tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan dirinya berjanji akan menyayangi dan merawat putranya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


Setelah melakukan pemeriksaan mereka sama-sama keluar dari rumah sakit menuju dimana mobil Felik terparkir. Felik selalu menggandeng tangan Miranda agar tidak jauh-jauh darinya.

__ADS_1


"Mau kemana dulu, mumpung aku masih ada waktu?" Tawar Felik yang melihat jam di tangannya, masih ada waktu sekitar satu jam setengah sebelum dirinya bertemu dengan klien.


"Mau makan eskrim, boleh"? Tanya Miranda dengan wajah memelas.


Felik tersenyum tipis, "Tentu saja boleh, apapun juga boleh asal masih wajar." Felik menepuk kepala Miranda pelan.


Miranda selalu bertanya dulu ketika menginginkan sesuatu darinya, dan Felik menyukai hal itu.


Felik membelokkan mobilnya di sebuah cafe anak muda, di mana di sana menyediakan eskrim beraneka rasa dan toping karena tempat ini sangatlah ramai karena tongkrongan para anak muda.


Felik mengandeng tangan Miranda untuk masuk ke dalam, ketika membuka pintu para pengunjung didalam menoleh ke arahnya semua, pasalnya ada wanita hamil yang diperlakukan manis sejak turun dari mobil, karena dinding cafe itu kaca semua jadi mereka yang di dalam melihat dengan jelas adegan manis yang Felik lakukan.


"Mas, kenapa mereka semua pada lihatin kita?" Bisik Miranda merasa kikuk, di perhatian dengan senyum dan banyak juga yang bisik-bisik.


"Tidak apa, mungkin mereka semua pada iri." Jawab Felik cuek, dan mengajak Miranda duduk.


"Mau pesan apa, mbak mas?" tanya pelayan cafe.


"Semua farian eskrim terbaik, dan satu cofee." Ucap Felik dan pelayan itu mencatat nya.


"Kenapa semua eskrim mas, nanti aku tidak habis." Miranda menatap Felik tak percaya.


"Felik..!!" Sapa seseorang membuat mereka berdua menoleh.


Deg


"Tian." Gumam Miranda yang melihat Bastian.


"Hay, bro lama tidak bertemu..makin sukses aja lu." Felik langsung berdiri dan menyambut Bastian dengan pelukan ala sahabat, mereka memang sudah lama tidak bertemu semenjak kejadian yang sempat membuat keduanya renganag.


"Ck. lu bisa aja, itu juga berkata lu dan Riko yang udah bantuin doa untuk gue." Felik tertawa mendengar perkataan Bastian. Memang Bastian yang tidak mau mereka bantu.


"Wiiihhh..tobat lu bro, pilih cewe yang berhijab." Cetuk Bastia yang tidak melihat jelas wajah Miranda, karena menunduk.


"Ck, lupa sama tu cewek, pasti udah kebanyakan cewek yang ku gibang, sampe lu gak ngenalin dia." ya, Felik tau kehidupan Bastian setelah sukses, Bastian yang dulu kalem dan tidak pernah neko-neko, kini tekenal sebagai Casanova.


"Mana ada gue kayak gitu, terkadang ucapan lu bikin gue sadar tau ngak." Dan mereka pun tertawa bersama. Miranda hanya diam dengan perasaan tak menentu.


Hingga seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.

__ADS_1


"Lu ngidam apa doyan Lik, pesan begitu banyak." Beo Bastian yang sudah ikut duduk dimeja mereka, dirinya belum menyadari jika wanita yang diam menunduk itu adalah Miranda.


Felik hanya tersenyum dan menatap Miranda yang menunduk. "Calon bayi gue yang ngidam."


Mendengar itu Bastian mengalihkan pandangan nya pada Miranda dan begitupun Miranda yang kebetulan mendongak menatap Felik.


"Miranda." Ucap Bastian yang terkejut. "Beneran kamu Miranda?" Bastian tersenyum melihat Miranda yang berpenampilan berbeda, wanita itu bertambah cantik dan anggun.


"Ck. jangan lama-lama liatin calon bini gue." Felik berdecak melihat Bastian yang tidak berkedip melihat Miranda.


Miranda yang ingin menyuapkan eskrim menjadi terhenti.


Deg


Bastian kembali terkejut. "Calon istri?"


"Ya, gue akan nikahin dia setelah anak gue lahir." Felik manatap wajah Miranda, dirinya tahu jika keputusan adalah keputusan sepihak, tapi Felik tidak akan melepas ibu dari anak nya itu dan tekadnya sudah bulat dengan menikahi Miranda setelah melahirkan.


Miranda hanya diam, apakah ini saatnya dirinya berkata jujur dengan Felik, dan apapun tanggapan Felik tidak akan berpengaruh oleh hubungan mereka, karena mereka belum terikat. Tapi jika nanti ketika sudah menikah dirinya memberi tahu Miranda takut menjadi bumerang bagi pernikahannya.


"Jadi Miranda sedang hamil?" Bastian masih tak percaya, wanita yang pernah dia perawani dulu kini di hamili oleh sahabatnya. "Yakin dia anak lu Lik." Bastian menatap Miranda sinis.


"Maksud lu apa?" Felik menatap Bastian butuh jawaban.


Miranda menatap Bastian tak percaya dengan apa yang dia katakan.


"Ck. lu kan tau kalau lu bukan yang pertama baginya dan sudah pasti dia juga banyak bermain dengan pria." Bastian menampilkan senyum culas kepada Miranda. "Lu jangan bodoh hanya melihat penampilannya yang berubah."


Felik mengepalkan tangannya, menatap tajam Bastian dengan rahang mengeras.


Sedangkan Miranda memejamkan mata untuk menyiapkan hati, dirinya langsung berdiri dan menatap Bastian.


"Tian, kamu boleh menghinaku tapi jangan pernah kamu samakan dengan wanita di luaran sana." Miranda berucap dengan menatap Bastian. "Dulu aku memang bodoh, hanya karena cinta aku dibutakan oleh rayuan pria seperti kamu, dan memberi sesuatu yang berharga untukmu, tapi maaf jika kamu menghinaku sekarang maka jangan salahkan aku jika kamu lebih brengsek dari pada aku."


Miranda berbalik menatap Felik. "Mas, kamu tahu aku sudah tidak perawan ketika kamu melakukannya padaku, dan aku lah yang bodoh dengan memberikan keperawanan ku lada pria seperti dia." Miranda menunjuk bastian tanpa mengalihkan pandangan nya pada Felik yang wajahnya langsung mengeras dengan kilatan kemarahan di matanya. "Maaf jika aku baru katakan sekarang, dan semua terserah padamu, karena kita memang tidak memiliki ikatan, dan kamu juga bebas untuk menentukan pilihan setelah tahu semua siapa aku." Miranda meraih tasnya, dirinya langsung pergi tanpa ingin mendengar ucapan Felik ataupun Bastian.


"Sialan..!!"


Bugh

__ADS_1


__ADS_2