PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part52


__ADS_3

Tidak mudah bagi Hilman berlapang dada untuk menerima kembali pria yang sudah menyakiti putrinya, meskipun tidak ada orang ketiga dalam hubungan mereka tapi, melihat putrinya sedih dan menderita membuat Hilman mengambil keputusan untuk menikahkan Rere dengan pria pilihanya.


Hilman kira Rere akan bahagia jika menikah dengan anak sahabatnya yang Ia kenal baik itu, tapi nyatanya dirinya malah menjerumuskan putrinya sendiri ke lubang penderitaan.


Jadi selama setahun ini Rere diam dan tidak bercerita karena menghormati keputusan yang dia ambil. Sungguh sebagai seorang ayah Hilman merasa tidak berhasil menjadi panutan dan seorang ayah.


Mungkin sekarang lah, saat nya Hilman mengerti perasaan putrinya dan mengikuti keinginan putrinya.


.


.


"Hon, kenapa jantung ku berdebar kencang?" Riko yang duduk di ruang tamu di temani Rere pun merasa grogi, padahal hanya bertemu ayah Rere, melebihi ketika dirinya sedang berada di ruangan metting dan berhadapan dengan para pembisnis handal untuk menenangkan tender sebuah proyek.


"Santai saja By, kaya mau di sunat aja." Rere mengulum senyum, ketika melihat wajah Riko yang mendadak pucat.


Riko yang sedang mengadakan rapat pun di buat syok ketika membaca pesan dari kekasihnya, yang mengundangnya untuk makan malam dirumah dan undangan itu langsung dari ayahnya.


Pesan itu membuat konsentrasi Riko buyar, pikiranya sudah melanglang buana, memikirkan untuk apa ayah Rere mengundang dirinya yang ada malah membuatnya merasa was-was.


"Ck. senang kamu kalau ular bisaku di sunat hah, ntar gak puas nanges.." Riko melirik Rere sebal.


Rere membulatkan kedua matanya.

__ADS_1


"Apa, awas aja kalau gak puas nanges." Ucap Riko lagi.


Ehem


Rere ingin membuka mulutnya, tapi tidak jadi karena mendengar deheman ayahnya.


"Kita makan malam dulu By.." Ucap Rere berdiri, diikuti Riko.


"Malam Om, Tante." Sapa Riko pada kedua orang tua Rere.


"Malam Nak, ayo duduk." Sambut Fitri ramah.


Riko pun duduk didi samping Rere.


Glek


Riko menelan ludahnya kasar, mendadak alarm di kepalanya berbunyi tanda-tanda bahaya.


'Duh mati gue, belum dapet udah mau di mutilasi duluan'


Mereka makan malam dengan diam, lebih tepatnya Riko yang banyak bicara mendadak menjadi pendiam dan hanya sesekali menjawab jika di tanya, itupun Fitri yang bertanya.


"Apa kamu serius dengan anak saya." Tanya Hilman to the poin.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, Hilman mengajak Riko untuk duduk di ruang keluarga.


"Apa kamu serius dengan putri saya?" Tanya Hilman to the poin.


Riko yang awalnya menunduk kini mendongak.


"Maksud Om." Tanya nya bingung.


Entah mengapa di saat seperti ini otak cerdasnya menjadi lemot.


Hilman menatap Riko tajam. "Kamu mencintai putri saya." Tanya lagi, dengan pertanyaan berbeda.


Rere berjalan mendekat dengan membawakan nampan minuman dan cemilan.


Ketika ingin pergi tangannya di cekal oleh Riko membuatnya menoleh.


"Saya sangat mencintai putri Om, dan saya ingin serius menikahi putri Om, jadi saya mohon untuk merestui saya menjadi menantu Om dan jangan jodohkan Rere dengan pria lain, jika itu terjadi saya tidak segan-segan untuk memisahkan mereka lagi." Riko menatap lekat kedua mata Rere, dirinya bicara tanpa melihat wajah calon mertuanya. Karena jika melihat Hilman entah mengapa yang dilihatnya adalah pisau yang melayang-layang di atas kepala Hilman.


'Ngeri kalau naga sakti gue di potong njirr'


"Dasar pria kurang ajar..!!"


Umpat Hilman, dengan geram.

__ADS_1


__ADS_2