PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part81


__ADS_3

Riko membawa Rere pergi dari rumah kedua orang tuanya, dimana rasa sakit hati dan kecewa kepada mamanya yang menghina dan merendahkan istrinya dihadapan semua orang.


"By," Rere bersuara, sejak tadi dia hanya diam dan tidak ingin membuat suaminya marah.


"Hm, kita pulang ke apartemen ya" Ucap Riko tersenyum sekilas, dengan tangan mengelus kepala Rere.


Rere hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya. Karena melihat wajah Riko dirinya sudah bisa menebak pria itu masih dikuasai amarah.


Tak lama mobil Riko sampai di basement apartemen Riko keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"By.." Rere menjerit, ketika tiba-tiba tubuhnya melayang karena Riko menggendongnya ala bridal style.


Riko hanya menampilkan senyum menatap wajah istrinya.


"By, malu tau." Cicit Rere menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Biarkan saja toh kita sepasang suami istri sayang, sah- sah saja." Riko menekan tombol lift untuk mengantarkan mereka ke unit apartemen nya.


"By, turunin." Ucap Rere dengan memukul pelan dada Riko.


Riko pun menurunkan istrinya, mereka hanya berdua berada di dalam lift itu.


"By, kenapa kamu sudah pulang. Bukankah pekerjaan kamu belum selesai." Tanya Rere dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Riko, dan tangan Riko pun memeluk sang istri.


"Ada Felik yang mengantikan, dan aku pulang karena kepikiran kamu." Ucap Riko dengan mengecup kening Rere.


Ting


Pintu lift terbuka dan keduanya keluar berjalan menuju flat mewah milik Riko.


Setelah memasuki apartemen Riko langsung melepas semua pakaian yang Ia kenakan, dan menarik pinggang Rere ke dalam pelukannya.


"By." Rere membulatkan kedua matanya melihat kelakuan Riko, bagiamana jika ada orang lain dan suaminya itu sudah bertelanjang dada dan hanya celana pendek yang menutupi aset tubuhnya.


"Apa hm.. kamu harus terima hukuman dariku." Ucap Riko yang langsung mellumat bibir Rere ganas.


Rere yang mendapat serangan hanya pasrah membalas cumbuan bibir Riko.


Ah


Rere memekik ketika tubuhnya di gendong seperti koala, setelah Riko berhasil melepas baju yang Ia kenakan dan kini Rere hanya memakai pakaian dalam saja.


Tautan bibir keduanya tidak terlepas, ketika Riko membawa Rere menuju kamar mereka.


Melakukan hubungan suami istri ketika pikiran kacau, kata orang bisa melupakan sejenak masalah yang baru saja mereka hadapi.

__ADS_1


Tapi sepertinya yang mereka hadapi bukan masalah, Riko nya saja yang tidak bisa menahan nafsunya. Betul tidak..??


Bugh


Riko menjatuhkan tubuh Rere di atas ranjang, dengan napas memburu setelah tautan bibir mereka terlepas.


"By, emh." Rere menyentuh kedua tangan Riko yang berada di dadanya di mana sedang bekerja merangsang gairahnya yang sudah membara.


Riko menyusuri tubuh Rere tanpa terlewatkan, dirinya mencoba untuk menghilangkan perbuatan Mamanya yang baru saja terekam oleh otak nya, dan cara ini lah yang di lakukan.


Ah..


Rere lagi-lagi mendessah ketika Riko dengan cepat menyentuh titik sensitifnya.


Suara keduanya saling bersahutan, menggema di dalam kamar yang menjadi saksi bisu percintaan mereka.


Hampir satu jam keduanya bergumul dalam selimut, dan selesai setelah Riko berhasil menyemburkan bisa nya untuk beberapa kali, dan berharap akan ada keajaiban kehidupan di dalam rahim sang istri.


"Istirahat lah." Riko mengecup kening Rere, tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.


Saling bertukar keringat keduanya berpelukan, menyalurkan rasa yang begitu luar biasa.


"By..aku_ "


"Em..terima kasih selalu ada buat aku." Rere mengecup bibir Riko sekilas.


"Sudah tugasku sebagai suami untuk menjaga dan melindungi mu sayang."


Keduanya larut dalam rasa yang sama, dimana rasa sakit hati lebih mendominasi. Meskipun tidak ada dendam, mungkin luka hati keduanya tidak akan sembuh dengan cepat.


Karena semua wanita tidak ingin takdirnya seperti ini, dimana dalam pernikahan yang mereka inginkan adalah keturunan, dan sebagai sesama wanita kita harus saling suport dan memberi dukungan agar kita yang menjalani merasa tegar dan sabar.


Bukan malah mencaci maki, dan menghina sebagai wanita mandul, hanya karena belum memberikan anak, karena rezeki anak adalah titipan Tuhan, dimana suatu saat pasti kita akan diberikan kepercayaan itu.


.


.


.


"Kita mau kemana By? Tanya Rere yang melihat beberapa koper sudah siap.


"Pindah ke rumah kita yang baru." Riko mencoba menghubungi seseorang.


Rere hanya diam dan menurut kemana suaminya itu akan membawanya.

__ADS_1


"Ayo, mereka sudah menunggu di bandara." Ucap Riko yang menarik dua koper besar.


"Mereka siapa?"


"Nanti kamu juga tahu sayang." Riko menyuruh Rere berjalan didepanya lebih dulu.


Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya Riko sampai di bandara.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya selama satu Minggu, Riko memutuskan untuk pergi meninggalkan kota Jakarta di mana kota kelahirannya yang memberikan warna hidup untuknya sewaktu remaja, dan kota ini akan menjadi kenangan.


"By, kok ke bandara." Sudah berapa kali Rere bertanya, tapi belum mendapat jawaban satu pun.


"Ayo..." Rere mengandeng lengan Riko yang mendorong troli berisikan koper mereka menuju tempat menunggu.


"Loh, ayah ibu." Kaget Rere melihat kedua orang tuanya yang menunggu di sana.


"Nak.." Fitri langsung menghampiri Rere dan memeluknya erat.


"Ibu juga ikut pergi bersama kami?" Tanya Rere yang masih belum mengerti.


"Iya sayang, mereka ingin ikut kita, tidak apa kan." Ucap Riko menatap Rere yang sepertinya masih bingung.


"Ibu, ayah..kalian tau kemana kita akan pergi." Tanya Rere yang belum tahu dirinya akan di bawa kemana.


"Ya, kita akan keluar kota untuk mencoba kehidupan baru." Ucap Hilman tersenyum menatap sang putri.


Awalnya dirinya begitu marah mendengar cerita Riko tentang Rere yang dipermalukan di rumah mertuanya, tapi karena Riko berusaha menyakinkan Hilman membuatnya melunak dan mendukung apapun yang akan Riko lakukan asal untuk kebahagiaan putri semata wayangnya.


Dan Hilman lebih memilih ikut dengan mereka keluar kota, karena di Jakarta mereka tidak punya siapa-siapa. jika Rere dibawa pergi maka mereka hanya akan tinggal berdua saja. Dan Hilman memutuskan untuk ikut bersama menantu dan juga anaknya.


Mereka menaiki pesawat yang akan membawa mereka di lingkungan baru, di mana tidak ada orang-orang yang bisa menghina dan merendahkan mereka.


Riko memeluk istrinya dari samping di mana burung besi itu sudah terbang bersama awan.


"By.."


"Hm.."


"Apa tidak apa-apa jika kamu meninggalkan semua yang ada di sini." Tanya Rere pelan, dirinya tidak ingin membuat Riko marah, karena Riko melakukan semua ini pasti karena dirinya.


"Tidak, aku sudah mengembalikan semua ke tempatnya, dan kita akan memulai kehidupan baru di tempat yang baru." Riko mengecup kening Rere.


Keluarga Riko tidak ada yang tahu, jika putra mereka pergi meninggalkan semua yang berada di Jakarta, apalagi perusahaan yang sudah beralih padanya Ia sudah kembalikan kepada Harlan, meskipun Harlan juga tidak tahu hal itu, tapi semua sudah Riko serahkan sama Felik, dan Felik lah yang akan berkerja untuk perusahaan itu, karena permohonan dari Riko. Meskipun begitu dirinya juga tidak jika membiarkan papanya yang sudah pensiun kembali mengurus perusahaan. Dan ini semua dia lakukan demi menyelamatkan rumah tangganya.


'Maafkan Riko Pah, mah.' Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2