
_BASTIAN & FELIK_
Setelah membuat gaduh di acaranya sendiri, Bastian maupun Felik tidak saling berkomunikasi, dimana sebelum kejadian itu mereka sering bertemu dan saling kirim pesan, meskipun hanya untuk mengajak ketemuan di sebuah kelab.
Miranda sendiri mulai memberi jarak dari kedua pria itu, dimana Felik yang sering datang malam hari ketika pria itu pulang kantor, dan Bastian setiap pagi dan siang hari pria itu pasti mampir ke toko hanya untuk memberikan makanan ataupun cemilan, dan miranda sama sekali tidak merespon hal itu. Dirinya sudah mengeraskan hatinya untuk tidak kembali jatuh ke dalam jerat pesona kedua pria itu, apalagi mereka hanya mempermainkan saja. Mekipun sedikit merasa sakit hati ketika mendengarkan ucapan Felik, karena Miranda pikir Felik adalah pria baik meskipun seorang player Miranda memaklumi hal itu, karena dirinya juga bukan pria baik-baik.
Brak
Pintu rumah kontrakannya di dobrak dari luar, membuat Miranda terkejut ketika melihat Jamal tersungkur di lantai.
"Bapak..!!" Miranda membantu Jamal berdiri, dimana ada dua orang pria bertubuh besar di depan pintu.
"Serahkan uangnya atau rumah ini kami bakar." Bentak pria dengan kepala plontos.
"Sudah saya katakan, saya tidak punya uang." Jamal memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Sudah miskin, tapi masih bergaya di meja judi hah..!" Pria itu menarik kerah baju Jamal.
"Stop..!! lepaskan bapak saya." Miranda menatap kedua orang itu nyalang. "Kalian manusia tidak punya hati."
"Hahaha...seharusnya kata-kata mu untuk dia." tunjuk pria itu pada Jamal. "Karena sudah enak memakai uang dan tidak mau membayar hutang nya."
"Berapa hutang bapak saya?" Meskipun mungkin dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu, tapi Miranda tidak tega melihat bapaknya di pukuli hingga babak belur.
"Cih saya rasa kamu tidak sanggup untuk membayarnya." Pria itu menatap Miranda dari atas sampai bawah.
Miranda yang di tatap seperti itu menjadi risih. "Katakan berapa, jangan lancang anda."
"50 juta, mana mau sanggup membayar." Ucap pria itu sambil berkacak pinggang.
"Li-lima puluh juta." Miranda syok sendiri mendengar nominal yang disebutkan.
"Pak, bapak untuk apa uang sebanyak itu." Miranda menatap Jamal tak percaya, sampai memiliki hutang begitu banyak.
Jamal hanya melirik Miranda malas. "Bawa saja dia, anggap saja untuk melunasi hutang saya." Ucapan Jamal membuat dada Miranda sesak.
"Maksud bapak apa? bapak menjual Mira untuk menembus hutang." Miranda menatap Jamal dengan air mata. Bapak yang dia bela malah menjerumuskannya ke lubang neraka.
"Lihat dia saja tidak peduli dengan kamu, jadi lebih baik kamu ikut kami." Pria botak itu menarik tangan Miranda agar ikut dengannya.
Mendapat barang bening seperti ini pasti membuat bosnya senang.
__ADS_1
"Ngak, saya tidak mau..lepas..!!" Miranda memberontak dirinya tidak mau menjadi wanita malam.
"Bapak, tolong Mira pak.." Miranda menangis mencoba untuk menghindar, tapi tenaganya tak sebanding dengan kedua pria itu.
Bugh
Tubuhnya di hempasan masuk ke dalam mobil, dimana di dalam sana ada seseorang yang duduk dengan tenang.
"Barang baru bos, pasti sangat laku." Ucap pria botak itu dengan wajah senangnya.
Deg
Miranda menatap seseorang yang sedang duduk di sebelahnya di mana seorang pria menatap nya lapar.
"Emm...barang yang sangat bagus." ucap pria itu dengan seringai licik di bibirnya.
.
.
.
.
Bahkan Lisa sendiri tidak tahu keberadaan Miranda, karena memang Lisa tidak tahu tempat tinggal Miranda.
Bastian mencoba menghubungi ponsel Miranda dan hasilnya sama saja tidak bisa tersambung.
"Kemana sih." Bastian keluar dari toko bunga dan berpapasan dengan Felik.
Keduanya saling menatap tajam, dimana perang kedua mata mereka masih memancarkan permusuhan.
Seperti dua orang yang saling tidak kenal, mereka berjalan berlawanan arah tanpa menyapa seperti biasanya.
"Mas Felik.." Lisa yang melihat Felik juga merasa bingung, dia kira Miranda bersama Felik.
"Dimana Miranda?"
"Em..mbak Miranda belum datang sudah dua hari ini." Jawab Lisa dengan rasa gelisah, dimana dirinya takut terjadi sesuatu dengan Miranda.
"Kamu tidak tahu dia dimana?"
__ADS_1
Lisa menggeleng. "Mbak Miranda juga tidak bilang apa-apa."
Felik mengusap wajahnya kasar, dirinya sengaja menyempatkan datang di saat jam istirahat hanya ingin bertemu Miranda, tapi gadis itu malah menghilang sudah dua hari.
Felik yang sadar hanya merasa takut jika Miranda mengandung anaknya, karena waktu itu dirinya tidak menggunakan pengaman dan Felik sengaja menyemburkan bisanya di dalam rahim Miranda.
Sudah genap satu bulan setelah mereka melakukan hal itu, dan karena dirinya sibuk Felik tidak sempat membuktikan sendiri pada Miranda.
Felik pun pergi dengan perasaan khawatir akhir-akhir ini dirinya memang merindukan wanita itu, dimana percintaan panas mereka selalu terbayang di otaknya, dan untuk kali ini dirinya benar-benar tidak bisa menolak Miranda.
Jika Miranda hamil maka dengan senang hati dirinya akan menikahi wanita itu, katakan saja dirinya sudah mulai ada rasa dengan Miranda.
Masalah Bastian dirinya tidak ambil pusing, meskipun dia belum tahu ada hubungan apa Miranda dengan sahabatnya itu, tapi Felik yakin jika Miranda adalah wanita baik-baik.
Huekk....huekk...huekk
Miranda memuntahkan seluruh isi perutnya ketika bau uap nasi yang begitu menyengat masuk ke hidungnya, dan membuat perut nya mual.
"Kamu kenapa Nda, sakit?" Tanya seseorang wanita menggunakan hijab. Dimana wanita itu baru masuk rumah dan melihat Miranda yang sedang muntah-muntah.
"Tidak tahu umi, perutku rasanya mual, dan ingin muntah.." Miranda mengusap bibirnya yang basah.
Melihat wajah pucat dan gejala yang Miranda alami membuat wanita yang di panggil umi itu menerka-nerka.
"Boleh umi tanya sesuatu?"
Miranda menatap wanita paruh baya didepanya, Dimana wanita itu yang menolongnya ketika dirinya ingin di bawa dan di jual oleh pria hidung belang, dan waktu itu Miranda berhasil kabur dengan pakaian seksih yang membungkus tubuhnya, beruntung Miranda bisa kabur dan di tolong oleh Umi Salamah.
Miranda mengangguk. "Apa sebelum kamu kabur, kamu sudah melakukan sesuatu dengan_"
Miranda langsung menggeleng, karena di kelab itu dirinya belum sempat menjadi pemuas napsu pria hidung belang.
"Tapi_" Miranda menutup mulutnya ketika dirinya teringat malam panasnya bersama dengan Felik.
"Kenapa?" Salamah menyentuh bahu Miranda.
"Umi, tidak mungkin kan kalau aku hamil." Mata Miranda sudah berlinang air mata, dimana dirinya melupakannya kejadian di malam itu, dan tidak menyangka jika dirinya akan hamil anak Felik.
Umi Salamah memeluk kepala Miranda, dan mengelus punggung nya. "Yang sabar ya, Tuhan memberi kamu kepercayaan, meskipun dengan cara yang salah.." Umi Salamah mencoba menenangkan Miranda.
Miranda hanya bisa menangis, dirinya tidak tahu harus melakukan apa jika benar dia sedang hamil, hidupnya saja tidak jelas dirinya hanya takut tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya.
__ADS_1
'Ya tuhan, maafkan semua kehilafanku.'