PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part89


__ADS_3

Riko melakukan aktifitas seperti biasa, dirinya yang mulai sibuk dengan pekerjaannya, dan ternyata ketika dirinya sendiri yang turun tangan semakin banyak klien yang ingin bekerja sama dengannya.


Sudah satu bulan dirinya berada di negara romantis itu, dan satu bulan juga dirinya tidak membuka akses untuk orang-orang yang berada di Indonesia untuk menghubunginya.


Riko sengaja mengganti nomor ponselnya, dirinya hanya ingin merasa tenang dan menikamati kebersamaan dirinya bersama keluarga di sini, oleh karena itu dirinya tidak ingin di ganggu dul.


Jika di Paris siang, maka di Indonesia waktu sore hari.


Riko mengambil ponselnya sudah lama dirinya tidak menghubungi kedua sahabatnya.


Mengaktifkan kembali kartu SIM nya, begitu aktif notif pesan dan panggilan langsung masuk semua. dan itu waktunya sudah tiga Minggu yang lalu.


"Felik.." Gumam Riko yang melihat nomor Felik paling atas di urutan chat dan panggilan.


Tanpa menunggu lama Riko langsung mendial nomor Felik untuk memanggil.


Ketiga kali tersambung belum terangkat, Riko melihat jam, di Jakarta masih pukul tujuh malam.


"Ck. jangan-jangan nge*we lagi nih orang." kesal Riko karena panggilan nya tidak tersambung.


Riko mutuskan utuk melanjutkan pekerjaannya kembali.

__ADS_1


.


.


Jakarta...


Felik menatap nyalang kedua orang yang sedang mencoba untuk menutupi tubuh polos keduanya.


"Fel, aku bisa jelasin." Ucap wanita yang wajahnya sudah sangat panik.


Wanita itu membungkus tubuh polos nya menggunakan selimut, sedangkan si pria hanya diam dengan wajah santainya di belakang wanita itu.


"Fel aku_"


"Ssttt.." Felik menyentuh bibir nya sendiri dengan jari telunjuknya. "Jangan pernah lagi menampakan wajahmu di depanku, dan antara kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun." Felik tersenyum sinis.


"Fel..ngak aku gak mau." Ucap wanita itu dengan menangis.


"Cih, kamu masih tidak punya malu dengan apa yang sudah kamu perbuat." Ucap Felik dengan menatap Lidya dengan rasa jijik, bagaimana bisa wanita yang statusnya adalah tunangan sekaligus calon istrinya itu bermain gila di kamar apartemen.


"Tapi kamu_"

__ADS_1


"Ya, aku memang pria pemain wanita, tapi tidak dengan berstatus tunangan aku masih bermain dengan wanita diluaran sana." Ucap Felik dengan tegas.


Lidya hanya menunduk dengan Isak tangis, memang ini salahnya karena sudah terlena dengan rayuan dan kepuasan semata, padahal ada tunangannya yang bisa menerima keadaannya dan kini semua sudah hancur karena terlena rayuan semata.


"Selamat semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia." Felik meninggalkan Lidya yang menangis dan memanggil namanya, tapi tidak Felik pedulikan.


Felik yang sepulang kantor ingin mengunjungi tunangannya di apartemen tak di sangka kedatangannya malah membuatnya terkejut, dimana dua orang yang sedang memadu cinta di dalam kamar apartemen.


Apakah Felik sakit hati?


Tentu saja tidak, karena baginya wanita yang seperti itu tidak pantas untuk mendapatkan empati darinya.


Meskipun dirinya seorang pemain wanita, tapi jika memilih pasangan semua pria pasti ingin memiliki pendamping yang baik, yang bisa menjaga kehormatan nya dan menjadi istri yang baik untuk anak-anak nya kelak.


Jika Lidya sudah tidak perawan ketika dirinya bersamanya, baginya itu tidak masalah, karena Felik sendiri juga memiliki sisi pria brengsek yang suka bermain wanita. Tapi tidak dengan bermain affair dengan pria lain ketika mereka sudah menjalin komitmen apalagi sudah bertunangan dan akan segera menikah.


Baginya wanita seperti itu sudah tidak lagi bisa di pertahankan, karena suatu saat pasti akan mengulanginya lagi, lagi dan lagi.


Felik melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dimana kelab malam adalah tujuannya.


Bukan untuk menangisi atau pun mengesedih, melainkan untuk merenungi kebodohannya dan nasibnya. Jika Riko saja bisa mendapatkan wanita baik-baik, apakah dirinya tidak bisa juga seperti sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2