
"By..ah." Rere mengeliat dengan tubuh menegang ketika Riko menyentuhnya hingga titik terdalam.
Keduanya sama-sama saling memberi kepuasan, hingga suara erangan keduanya menggema di kamar apartemen itu.
Riko memeluk tubuh polos sang istri, setelah pergumulan panas tadi Rere memeluk tubuh kekar suaminya.
"By.."
"Hm.."
"Tadi Rania menghubungi ku, katanya besok ada acara tujuh bulanan." Ucap Rere dengan jari melukis abstrak di dada bidang Riko yang putih.
"Hm.."
"Besok kita pulangkan?" Tanya Rere menatap wajah suaminya dari bawah.
Tangan Riko mengelus kepala Rere. "Pekerjaanku belum selesai sayang, masih banyak yang harus aku kerjakan, dan waktunya semakin dekat, jadi aku harus benar-benar kejar Dateline."
"Tapi kasian Rania jika kita tidak datang, pasti dia sangat sedih."
Bukanya Riko tidak ingin pulang dan menghadiri acara sang adik, tapi pekerjaannya benar-benar penting dan tak bisa Ia tinggalkan begitu saja, apalagi ini proyek yang lumayan besar.
__ADS_1
"Kalau aku pulang sendiri, bagaimana?"
Riko menatap Rere yang juga sedang menatapnya.
"Walaupun mungkin yang diharapkan Rania kamu, tapi setidaknya bisa membuat Rania tidak kecewa dengan kita."
Riko nampak berpikir, dirinya bukan memikirkan Rania melainkan memikirkan jika Rere datang tanpa dirinya apalagi keadaanya adalah acara syukuran kehamilan, pasti istrinya nanti akan merasa sedih meskipun Rere bisa menutupi rasa kesedihannya itu.
"Ya..by.." Tanya Rere lagi, karena tidak mendapat jawaban.
.
.
Pada akhirnya Riko tidak bisa menolak permintaan sang istri, apalagi kelakuan Rere tadi malam benar-benar membuat Riko tak berdaya.
Rere merayu Riko dengan menggunakan kenakalannya, apalagi semalam Rere menservis nya dengan maksimal, bahkan Riko berkali di buat mengerang keras.
"Hm.. pasti By." Rere tersenyum manis, mencium pipi suaminya.
"Jangan rindu, aku sudah kasih jatah kamu selama tiga hari." ucap Rere dengan wajah nakal.
__ADS_1
Riko membulatkan matanya mendengar ucapan sang istri. "Kamu nakal Hon, sekarang." Tangannya menarik pinggang Rere, membuat keduanya tak berjarak.
"By, malu." Cicit Rere yang melihat beberapa orang memeperhatikan mereka.
"Sebaiknya tunda saja kepulangan mu." Ucap Riko di telinga Rere. "Dan menarilah di atas milikku." Riko menggigit kecil telinga Rere.
"Byyy..." Rere memukul dada suaminya dengan manja. Membuat Riko tertawa.
Riko melepas kepergian sang istri yang akan pulang ke Jakarta.
Sebenarnya dirinya merasa berat untuk melepas Rere sendiri, meskipun berada di antara keluarga nya.
"Lik lu gantiin gue di sini.." Ucap Riko di balik sambungan telepon, waktu menunjukan pukul tiga sore, entah mengapa dirinya selalu memikirkan Rere.
"Yang benar saja bos, disini pekerjaan gue banyak." Ucap Felik. Dirinya juga kebagian banyak pekerjaan dan Riko yang memilih keluar kota, karena ingin sekalian liburan dengan sang istri.
"Disana biar gue yang urus, lu hari ini harus terbang kesini." Ucap Riko tegas.
"Lu kenapa sih, kemaren aja lu yang semangat pengen pergi." Ucap Felik sedikit kesal, karena perintah mendadak.
"Rere sudah balik duluan, perasaan gue gak enak..lu tau sendiri kan Mama gue gimana." Ucap Riko yang memang sudah bercerita pada Felik tentang sifat mamanya pada Rere, masalah anak.
__ADS_1
"Ck. Lu ada-ada aja sih." Felik megusak rambutnya kasar disana.
Setelah Felik setuju, Riko memutuskan untuk membeli tiket online yang penerbangannya masih ada di sore ini. Dan beruntung masih tersisa satu tiket di jam lima sore.