
Beberapa hari ini gadis kecil itu selalu meminta diantarkan ke toko bunga Rere setelah pulang sekolah, dan Bram mengijinkan dengan di temani pengasuh Cika.
"Tante, bunga itu cantik apa aku boleh membawanya pulang?" Tanya Cika menunjuk bunga mawar putih yang di tanam di pot kecil, di pohon itu ada tiga buah tangkai bunga yang mekar.
"Cika suka itu." Tanya Rere.
Gadis kecil itu mengangguk. "Kata Papa bunga mawar putih adalah bunga kesukaan mama, jadi nanti akan Cika kasih sama Mama."
"Baiklah, Tante akan kasih jika Mama Cika menyukainya, dan bilang sama Mama kalau bunganya harus di siram setiap hari agar tidak layu." Ucapnya dengan senyum dan berjalan mengambil bunga di pot itu.
"Apa orang yang sedang tidur selamanya bisa menyiram bunga Tante." Tanya gadis kecil itu polos.
Rere menghentikan langkahnya, menatap Cika yang dengan menundukkan wajahnya. "Maksud kamu apa sayang?" Tanya Rere.
"Maaf mbak, mama non Cika sudah meninggal." Ucap Alda pada Rere.
"Maaf sayang, Tante tidak tahu.." Rere menyentuh bahu Cika.
Wajah gadis itu mendongak dan tersenyum. "Tidak apa Tante, Tante juga baik, kata papa mama sangat baik dan suka anak kecil, jadi apa boleh aku panggil Tante dengan sebutan Mama?"
Rere nampak tertegun mendengar permintaan Cika, tapi melihat wajah berharap dan sendu gadis kecil itu tak membuatnya tega.
"Non Cika tidak boleh begitu." Tegur suster Alda yang mendengar ucapan nona kecilnya.
"Tapi Cika pengen panggil Tante Rere Mama, karena Tante Rere baik sama Cika." Mata Cika sudah berkaca-kaca.
"Sayang.." Rere mengelus rambut Cika. "Cika boleh kok panggil Tante Mama." Rere mengembangkan senyum ketika melihat wajah Cika langsung berbinar mendengar ucapannya.
"Beneran Tante."
"Iya sayang..boleh panggil Tante Mama."
Cika langsung berhamburan ke pelukan Rere. "Yeee...asiik Cika punya Mama." Gadis kecil itu sangat bahagia sampai meloncat-loncat.
Rere dan dua orang yang berada di sana tertawa, Bella dan Alda yang melihat itu merasa terharu.
"Kalau boleh tau, kenapa Mama Cika bisa pergi ninggalin Cika." Tanya Rere yang sudah membawa Cika duduk di kursi belakang toko.
"Kata papa, mama pergi karena kecelakaan dan dokter hanya bisa menyelamatkan Cika." Suara gadis kecil itu terdengar sendu.
__ADS_1
Rere memeluk tubuh Cika dari samping. "Tidak apa sayang, masih ada papa yang menyayangimu, dan sekarang Cika punya Tante yang bisa di panggil mama."
"Cika senang bertemu dengan Mama Rere." Cika mencium pipi Rere.
"Mama juga senang bertemu anak bawel seperti Cika."
Mereka berdua tertawa, dengan bercanda.
.
.
.
"Maaf tuan, klien dari perusahaan xx sudah berada di ruang metting." Ucap sekertaris Bram seorang wanita bernama Kiki.
"Baiklah, kita kesana sekarang." Bram berdiri dan membenahi sedikit jas nya agar rapi, dan berjalan menuju ruang meeting yang sudah ada klien nya menunggu.
Memasuki ruang meeting ada lima orang yang langsung berdiri ketika dirinya masuk keruangan itu.
"Selamat Siang, dan silahkan duduk kembali." Bram mempersilahkan klien nya duduk ketika dirinya juga sudah duduk di kursinya.
"Baiklah kita mulai metting siang ini, untuk membahas persentasi dari tuan-tuan sekalian untuk bekerja sama di proyek baru saya nanti." Bram membuka acara metting siang itu, dan para klien yang ingin mendapatkan kontrak kerja sama pun memberikan persentasi terbaik mereka.
"Karena sudah mendapat hasil kesepakatan, makan persentasi hari ini dimenangkan oleh tuan Zidan dari perusahaan xx." Ucap sekertaris Bram yang mengumumkan.
Ya, Zidan termasuk dari klien yang mengajukan kerja sama dengan menunjukan hasil persentasi nya, dan dirinyalah yang dipilih untuk kerja sama dengan perusahaan Bram lah sebagai pimpinannya.
"Selamat tuan, semoga kerja sama kita bisa sukses." Bram memberikan selamat, setelah beberapa orang yang hadir tadi sudah pergi.
"Saya berterima kasih tuan, karena sudah memilih perusahaan saya untuk ikut dalam pembangunan proyek ini." Zidan tersenyum lebar menerima ucapan selamat dari Bram.
"Itu semua karena hasil kerja keras kalian yang bagus dan patut di coba, agar kita bisa membangun sebuah sarana yang bisa di terima di masyarakat." Bram berbicara dengan ramah. Pria dewasa yang statusnya duda itu memiliki kharisma tersendiri.
Bahkan sejak tadi mata Kiki tak lepas menatap atasan nya yang begitu berwibawa dan sangat tampan.
"Baiklah karena saya harus menjemput putri saya, mari saya antar." Bram yang ramah pun menawarkan untuk mengantar klien nya menuju lift.
"Ah..saya jadi merasa sungkan tuan." Zidan tertawa canggung karena batu ini bertemu klien bos besar yang memiliki sifat ramah.
__ADS_1
"Tidak apa, anggap saja kita teman." Bram tersenyum dan keduanya memasuki lift secara bersamaan.
"Anda sudah menikah?" Tanya Bram ketika berada di dalam lift untuk mengantar mereka menuju lobby.
"Sudah tuan, saya sudah menikah satu tahun lebih." Zidan menjawab.
"Selamat kalau begitu, sudah punya anak?"
"Em..belum." Zidan sedikit berkata lirih.
"Tidak apa, pernikahan kalian masih baru, mungkin belum saatnya di berikan kepercayaan..disuruh kerja keras dulu." Bram menepuk pundak Zidan dua kali.
Zidan hanya tersenyum kecut mendengar ucapan kliennya itu.
Mana mungkin dirinya akan mendapatkan anak jika rahim istrinya saja sudah di angkat, dan Silla sudah pasti tidak akan bisa hamil sampai kapan pun. Padahal kedua orang tuanya sudah bertanya terus tentang kehamilan istrinya, meskipun yang ditanya adalah Rere.
Rere, Zidan tersenyum sendiri mengingat istri sirinya itu. Dirinya tidak menyangka akan memiliki ketertarikan kepada Rere setelah melihat wanita itu berdandan cantik untuk kekasihnya.
Kekasih? Zidan mengetatkan rahangnya kesal mengingat klien nya menjadi kekasih istri sirinya, dan hal itu membuatnya kesal.
"Ayo, sudah sampai tuan." Ucapan Bram menyadarkan lamunan Zidan.
Keduanya berpamitan dan pisah di parkiran.
.
.
"Ahh..beres juga." Riko menghempaskan punggung nya di sandaran kursi, tangannya mengusap wajahnya kasar.
Tiga hari dirinya lembur sampai malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya tiga hari kedepan. Dan semua itu sudah selesai Ia kerjakan.
Membereskan beberapa map yang berada di atas meja kerjanya Riko bersiap untuk pulang ke apartemen nya, karena sudah pukul sebelas malam.
Tidak dipungkiri jika dirinya begitu menghawatirkan kekasihnya itu, apalagi disana Rere tidak memiliki saudara yang Ia kenal, hanya Bella teman kerjanya di toko.
Sampai parkiran basemen Riko memasuki mobil sportnya.
Besok pagi dirinya akan pergi ke kota B dengan menggunakan kendaraan mobilnya, agar lebih mudah untuk mengatur waktu pulangnya.
__ADS_1
Disepanjang jalan dirinya sudah membayangkan jika esok akan bertemu dengan belahan hatinya yang pasti akan membuat surprise wanita itu.
"Renita Renjana...Tunggu aku."