
Selama di rumah sakit, Felik selalu menjaga Miranda di sela-sela kesibukannya, pekerjaan kantornya Ia bawa ke rumah sakit. beruntung dirinya sudah memiliki asisten untuk membantunya.
Harlan papa Riko pun belum juga pulang ke tanah air, bahkan Felik sudah mendapat kabar jika pemilik perusahaan itu akan di sana sampai Rere melahirkan membuat Felik frustasi.
Meskipun begitu dirinya tetap profesional menjalankan amanah dari ayah sahabatnya itu.
Pagi ini Felik keluar ruangan Miranda ketika wanita itu masih terlelap, dirinya menyempatkan untuk olahraga jonging dan membeli sarapan untuk mereka, kalau-kalau Miranda ingin makan menu lain.
Memang tidak ada pantangan untuk Miranda, dan Felik juga memberikan apapun yang Miranda minta.
"Pagi..nyonya." Seorang suster mendorong masuk box bayi yang tertutup hanya ada lubang di bagian pinggir, dan Miranda yang sudah bangun tersenyum lebar. Ini kali pertama dirinya melihat jagoan kecilnya.
"Apa dia baik-baik saja sus?" Tanya Miranda dengan wajah haru, melihat wajah putranya yang memang tampan, kulit putih hidung mancungnya seperti Felik.
"Perkembangan nya sangat baik, jika kesehatannya seperti ini terus, maka dia akan bisa segera di bawa pulang." Ucap suster itu yang berdiri disamping box bayi.
Ceklek
Felik baru saja tiba dengan membawa kantung keresek. "Sayang, kamu sudah bangun." Felik mendekat, dan menaruh bawaannya di atas nakas.
"Mas, itu bayi kita." Ucap Miranda mendongak menatap wajah Felik yang berdiri disampingnya, bahkan Miranda menggenggam kaus yang Felik pakai.
"Iya sayang, itu bayi kita." Felik juga tersenyum haru, dirinya tidak menyangka akan secepat ini menjadi ayah.
Setelah hampir tiga puluh menit bayi mungil itu di ruangan Miranda, suster pun membawa kembali box bayi itu untuk dikembalikan ke tempat nya.
Bayi mereka memang prematur karena perkiraan lahir nya masih satu bulan lagi, tapi karena kondisi fisik bayi sehat dan baik begitupun dengan berat badan bayi yang sudah memadai untuk ukuran normal, membuat mereka merasa lega dan pasti sebentar lagi mereka akan bisa membawa Beby mereka pulang kerumah.
__ADS_1
"Kamu beli apa mas?" Tanya Miranda ketika sudah duduk kembali di ranjang, setelah membersihkan diri dibantu oleh Felik, meskipun hanya menunggunya diluar.
"Bubur ayam, tadi aku lihat ramai pembeli jadi aku coba beli." Felik mengeluarkan bungkusan dari dalam plastik, ada dua buah bubur ayam yang Felik beli.
"Kenapa harus pagi-pagi sekali kalau cuma beli bubur." Miranda bertanya sambil menatap wajah Felik.
Felik tersenyum, ucapan Miranda seperti istri yang sedang curiga. "Sekalian aku jonging pagi." Felik membuka penutup makanan itu. "Cepatlah pulih agar kita bisa membawa bayi kita pulang." Felik menyuapi Miranda bubur.
"Mas makan saja, aku bisa sendiri." Miranda mengambil mangkuk bubur yang Felik pegang. "Kita makan sama-sama." Miranda tersenyum dan menyuapkan bubur itu sendiri ke mulutnya.
Felik tersenyum dan hanya menatap Miranda, menatap bibir seksih yang bergerak pelan. bahkan ada sisa bubur yang terdapat di bagian bibir Miranda.
Felik yang melihatnya lun gemas dan ingin sekali melahap sisa makanan itu.
"Emph.." Miranda tersentak ketika bibirnya di lumatt lembut oleh Felik, bahkan dengan sedikit sesapan pria itu mencumbunya.
"Mana ada kamu bohong mas, bilang aja mau cium aku." Miranda menatap Felik kesal, dengan bibir mengerucut tajam.
Felik pun hanya tertawa.
.
.
Sudah dua bulan sejak lahirnya putra mereka yang diberi nama, Nolan Ezra. Kini Felik dan miranda sudah sah menjadi suami istri sejak satu jam yang lalu.
Mereka mengadakan ijab kabul di kediaman rumah Felik, dimana kedua orang tua Felik tinggal.
__ADS_1
Orang tua Felik yang tidak tahu kisah putranya pun sampai syok dan tidak bisa lagi berkata, apalagi melihat bayi mungil yang baru lahir mereka bawa pulang kesana.
Ya, Felik membawa anak dan ibunya pulang kerumah orang tuannya, dimana Miranda untuk pertama kali bertemu dengan kedua orang tua Felik dan beruntung kedua orang tu Felik menyambut hangat Miranda, bahkan mereka sangat antusias dengan bayinya.
Miranda tersenyum melihat putranya yang menjadi rebutan oleh kedua orang tu Felik dan saudaranya, apalagi Miranda tidak kerepotan mengurus Nolan yang menjadi rebutan.
"Sedang apa hm." Felik muncul dari belakang Miranda, dan memeluk tubuh wanitanya yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Miranda menyentuh tangan Felik yang melingkar di perutnya. "Terima kasih sudah memberikan aku keluarga baru." Ucap Miranda yang melihat kedua orang tua Felik begitu menyayangi putranya, dan menerima dirinya dengan hangat.
"Justru aku yang berterima kasih, terima kasih sudah mau menikah denganku." Felik mengecup pipi Miranda dari samping. "Terima kasih sudah mau melahirkan putra yang begitu tampan." Ucapnya lagi dengan tersenyum.
Miranda memutar tubuhnya dan mereka saling berhadapan. "Berjanjilah tidak akan menduakan kami, berjanjilah untuk menjadi ayah dan suami yang bertanggung jawab untuk kami." Miranda menatap lekat wajah Felik. Bukan tanpa sebab dirinya berkata demikian, Felik yang memiliki masa kelam sebelum bertemu dengan Miranda.
"Aku tidak akan janji, tapi aku akan berusaha." Felik memanggut bibir ranum yang begitu menggoda, menyalurkannya perasaan nya yang begitu dalam pada wanitanya.
Miranda membalas pangutan itu dengan senang hati, ini adalah awal kehidupannya, dan semoga mereka selalu bahagia dalam pernikahan.
END
Terima kasih untuk dukungan dan semangat kalian 🥰 Akhirnya Mak otor selesai garap novel PEBINOR NAKAL, Meskipun banyak kekurangan tapi percayalah karena kalian mak otor jadi semangat.
Jika banyak kata ataupun ucapan yang kurang berkenan, Mak otor mohon maaf🙏🙏
Dan Semoga kita selalu diberi kesehatan semua..
See you Next👉👉Mak otor punya baru 🤭 ditunggu ya, tanggal 1juni💃💃💃
__ADS_1