
"By, emh.." Dikamar yang kedap suara kedua insan sedang beradu kepuasaan. Dimana si pria tidak pernah puas hanya menyentuhnya sekali.
"Sayang..aku.." Erangan panjang terdengar begitu seksih, ketika wanita di bawahnya menggerang dengan keras.
Riko tersenyum senang, tubuhnya tidak berhenti bergerak untuk mengejar pelepasan yang sudah di ujung tanduk.
Bagaimana bisa tubuh istrinya selalu membuatnya candu, bahkan naga ajaibnya tahu di mana tempat yang paling nyaman untuk bersemayam, dan tempat itu hanya milik istri tercintanya.
"Hon..ah.." Erangan panjang keluar dari bibir pria yang sejak tadi menyentuhnya dengan semangat, kini pria itu ambruk di atas tubuhnya dengan basah peluh di sekujur tubuh.
Riko menggeser tubuhnya ke samping, memeluk tubuh polos sang istri yang basah oleh peluh.
"Semoga kamu segera hadir sayang." Tangannya mengelus perut rata sang istri.
Cup
Riko mengecup kening Rere. "Tidurlah, sebelum dia bangun lagi." Ucapnya di samping telinga sang istri.
Bugh
"Kamu mesum banget By, aku nya masih lemes kamu udah turn on lagi." Bibir Rere merenggut, dengan wajah kesal. Bagaimana tidak kesal jika suaminya itu tidak kenal lelah.
Riko malah tertawa. "Habis kamu candu banget, makanya naga ajaib ketagihan terus." Ucapnya dengan nada menggoda.
"Ish...kalau mesum jangan Keterlaluan By." Rere memukul dada Riko pelan.
"Jangan mancing sayang, kalau tidak mau aku pancing." Riko tersenyum menyeringai.
"Engh.." Rere merasakan sesuatu di bawah sana keras menyentuh kulit perut nya.
"Nah kan, kepancing." Ucap Riko yang malah mengangkat tubuh istrinya duduk di atas perut ya.
"Bermainlah sesukamu." Ucap Riko meraih tengkuk sang istri dan mellumat kembali benda kenyal yang membuatnya tidak akan puas.
Dengan sisa peluh yang masih basah, Rere yang sudah terbakar gairah berakhir menari erotis di atas tubuh sang suami.
Keduanya larut dalam gelora bercinta, menyalurkan hasrat yang membara, dengan harapan untuk bisa memilki keluarga kecil yang sempurna.
.
.
__ADS_1
.
Jika di belahan dunia lain keluarga Riko dan Rere bahagia, maka lain halnya dengan kehidupan kedua orang tuanya, dimana terkadang Harlan yang kembali di sibukkan dengan pekerjaan, dan sering ikut tugas keluar kota jika Felik juga sedang mengerjakan tugas yang lain. Inilah kerja sama antara Felik dan Riko dulu, dimana salah satu dari mereka harus bolak balik keluar kota untuk bertemu klien ataupun menjadi tamu penting sebuah acara. Dan kini Harlan merasakan itu lagi di usianya yang sudah lebih dari setengah abad.
Lelah, tentu saja Harlan rasakan. Ingin meminta bantuan menantu tentu saja dirinya merasa tidak enak. Karena baik Raka sendiri juga sibuk dengan perusahaan yang dia pimpin, dan Rania juga sudah hamil besar, bahkan tinggal menghitung hari putrinya itu sudah akan melahirkan.
"Om.." Felik yang baru masuk keruangan berlari mendekati Harlan, ketika pria paruh baya itu akan limbung. "Duduk Om." Felik menuntun Harlan ke sofa ruang kerjanya.
"Om sakit?" Tanya Felik dengan memberikan segelas air minum.
Harlan menerima dan menegaknya hingga setengah. "Hanya pusing Lik." Ucap Harlan lemah.
"Sebaiknya Om Istirahat, om terlalu lelah bekerja." Felik duduk di depan Harlan.
"Hm, kamu benar." Harlan memejamkan mata dengan kepala menyandar di sofa. "Karena seharusnya di usia saya yang sekarang sudah berada di rumah menemani cucu bermain, tidak bisa lagi di samakan dengan kalian yang masih muda." Harlan terkekeh getir.
Dalam hatinya merindukan sosok putra yang berhak atas ini semua, tapi putranya itu memilih pergi dan tidak ingin di ketahui keberadaannya.
Harlan menatap Felik dengan intens. Membuat Felik merasa waspada.
"Apa kamu tidak mau memberi tahu Om, dimana Riko tinggal?" Tanya Harlan dengan suara pelan. "Apa kamu tidak kasihan melihat Om seperti ini?" Ucapnya lagi dengan wajah memelas.
"Om hanya ingin di masa tua merasakan kehidupan yang nyaman dan tentram, tidak seperti sekarang yang masih berkeliaran di dunia bisnis." Harlan menghela napas lelah.
.
.
"Duh jeng Harna, lihat tas nya bagus banget ya.." Ucap Leli teman Harna yang pernah akan menjodohkan Riko dengan putrinya.
"Ihh..iya loh, limited edition hanya ada tiga." Ucap satunya lagi.
"Yaudah sih jeng beli, kayak orang susah aja." Ucap Harna yang ikut memegang tas itu.
Ketiga ibu sosialita itu sedang berada di toko tas branded di salah satu Mall.
Harna sekarang lebih sering keluar rumah dan berkumpul dengan para ibu-ibu sosialita, dirinya yang hanya sendiri menjadi bosan dan lebih memilih bergaul dengan teman-temannya.
"Kalau dapet telaktir gratis sih, kita mau banget..iya gak jeng Leli."
"Bener banget Bu." Kedua teman itu saling tatap dan tersenyum, Harna hanya geleng kepala.
__ADS_1
"Yaudah sih, ambil aja aku yang tlaktir kalian hari ini." Ucap Harna membuat kedua orang itu mengembangkan senyum bahagia.
"Beneran nih jeng Harna, harganya gak murah loh ini."
"Beneran lah, kalian meragukan isi dompetku."
Kedua wanita itu menggeleng. "Mana bisa kami meragukan isi dompet jeng Harna."
Karena mereka sudah tahu siapa Harna, jadi mereka mau mendekati Harna yang mudah di bujuk.
"Nah itu tau, ayo kita ke kasir." Harna berjalan lebih dulu, dan di ikuti dua orang yang kegirangan mendapat barang branded yang harganya bukan kaleng-kaleng.
"Mbak saya ambil ketiganya." Ucap Harna sambil memberikan kartu kredit milik nya.
Pelayan kasir menerima dan mencobanya di mesin EDC.
"Maaf Bu kartunya tidak bisa." Ucap kasir dengan menyerahkan kartu itu kembali.
"loh biasanya bisa pake kartu itu." Ucap Harna yang bingung, karena biasanya dirinya menggunakan kartu itu.
"Coba yang ini." Harna kembali menyodorkan dua kartunya yang tersisa.
"Maaf Bu, dua-duanya juga tidak bisa."
Kedua orang di belakang Harna saling tatap den memandang kesal, karena sudah pasti mereka tidak akan mendapatkan barang yang mereka inginkan.
"Duh ini pasti ulah papa." Ucap Harna yang mengambil kembali kartunya.
"Em..maaf ya jeng, kartu saya seperti tidak bisa di gunakan untuk hari ini." Ucapnya merasa malu.
"Ah..iya jeng tidak apa, masih ada esok lagi." Ucap Leli mencoba tersenyum paksa.
Harna hanya tersenyum kaku, dirinya merasa malu di depan para teman sosialitanya, apalagi jika semua sudah berkumpul pasti dia menjadi bahan ejekan.
Harna keluar dari toko itu dengan kesal. "Maaf ya saya tidak bisa ikut kalian, soalnya ada urusan penting." Harna pamit dengan kedua temanya, mereka masih ada acara untuk pergi ke salon setelah ini.
"Iya jeng, lain kali saja ya."
Setelah Harna pergi mereka hanya menatap punggung Harna sinis.
"Ck. Mau dapet besan kaya aja gak jadi, dan sekarang jeng Harna malah menjadi kere karena semua kartunya di blokir." Ucap Leli lada rekan sebelahnya.
__ADS_1
"Iya, gagal deh jeng hari ini kita shoping, dan nyalon gratis."