
Seperti yang dikatakan Riko pagi ini dirinya benar-benar kembali ke Jakarta, selain karena pekerjaan Riko juga memiliki pertemuan penting dengan klien nya.yang sudah menentukan jadwal pertemuan. Ingin sekali dirinya masih menemani Rere dan tinggal di kota B, tapi sebagai pemimpin dirinya tidak bisa seenaknya meninggalkan tanggung jawab nya.
"Hati-hati By." Rere melepas pelukannya pada pria yang sejak semalam selalu menempel padanya.
"Hm..jaga dirimu baik-baik, tinggalah di apartemen jika kamu tidak nyaman lagi di sana." Ucap Riko dengan mengelus pipi Rere.
"Hem, aku akan datang kesana." Rere memegang tangan Riko yang berada di pipinya.
"Kenapa?" Rere bertanya kerena melihat tatapan mata Riko yang seolah berat untuk meninggalkannya.
"Jika ada apa-apa cepat hubungi aku." Ucapnya dengan wajah menatap Rere lekat.
"Iya By." Rere tersenyum, senyum tulus untuk menenangkan hati pria didepanya itu.
"Kenapa aku begitu berat untuk pergi." Riko menghela napas dan kembali memeluk Rere. "Ikutlah denganku sayang." Ucapnya dengan menciumi kepala Rere.
"Jangan khawatir, aku akan selalu menunggumu."
Mereka pun kembali berpisah meskipun diantara mereka dengan berat hati pergi meninggalkan kekasih hatinya.
.
.
"Bell kamu kenapa?" Tanya Rere yang baru saja sampai di toko bunga melihat Bella yang sedang duduk di lantai dengan wajah masam.
"Mbak di mana mas ganteng itu." Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Rere.
"Maksud kamu apa?" Tanya Rere kembali bingung.
"Mbak tahu?" Bella berdiri dan mendekati Rere. "Sejak tadi banyak gadis, wanita, ibu-ibu, emak-emak dan nenek yang sejak pagi mengantri di depan toko hanya untuk bertemu dengan Mas ganteng nya mbak itu." Ucap Bella dengan dengan wajah kesal. "Dan mereka sempat adu mulut karena saling berebut untuk berdiri paling depan dan membuat beberapa bunga kita menjadi tumbalnya." Bella berkata dengan nada kesal.
"Terus dimana mereka semua?" tanya Rere yang tidak melihat satu orang pun di tokonya.
"Sudah aku bubarkan." Ucap Bella santai.
"Kamu bisa membubarkan mereka?" Ucap Rere tak yakin.
Pasalnya kemarin saja mereka berdua kuwalahan menyuruh para mangsa yang menyerbu tokonya karena adanya Riko, dan sekarang Bella bisa mengusir mereka semua dengan mudahnya.
__ADS_1
"Tentu saja bisa, jangan sebut Bella jika tidak bisa menghempaskan para hama gatal itu."
"Caranya?" Kepo Rere yang penasaran.
"Aku semprot pakai air. mereka kabur semua." Bella tertawa nyengir memperlihatkan jejeran giginya yang rapi.
Rere hanya menggeleng kepala. "Kamu selain hobi baca novel, ternyata hobi juga menindas orang."
.
.
Zidan masih menunggu Silla di ruangan VIP, setelah selesai operasi tadi malam Zidan tak beranjak dari samping Silla, meskipun pikiranya memikirkan Rere yang di bawa pergi oleh Riko.
Zidan tidak menyangka jika pria sekelas Riko menyukai wanita yang dia tahu sebagai pembantu dirumahnya dan sekarang mereka sudah berpacaran.
Zidan memang tidak mengenal siapa saja pria dari masa lalu Rere, karena baginya dulu pernikahan mereka hanya kedok untuk melancarkan rencananya untuk mendapatkan semua aset milik keluarganya.
Dan sekarang semenjak pertama kali melihat Rere berdandan entah mengapa hati nya merasakan desiran halus yang membuatnya ingin lebih dekat dengan Rere.
Padahal dari awal pun dirinya tidak sama sekali tertarik dengan Rere meskipun tidak bisa Ia pungkiri jika Rere memiliki wajah cantik.
"Sayang, kamu sudah bangun." Zidan mendekati Silla yang sudah membuka matanya.
"Kita di mana Mas?" Tanya Silla yang melihat nampak asing ruangannya.
"Dirumah sakit, tadi malam kamu pingsan." Ucap Zidan dengan mengelus kepala Silla.
"Sshh..aww." Silla merintih ketika bergerak ingin duduk tapi perutnya terasa sakit.
"Kamu mau apa? jangan banyak bergerak dulu." Zidan membantunya kembali untuk berbaring.
"Kenapa perut aku sakit Mas?" Tanya Silla yang merasakan nyeri dan perih di bagian perut nya.
"Tidak apa-apa sayang, Sekarang istirahatlah kembali." Zidan mengusap kepala Silla pelan.
Dirinya tidak mungkin menjelaskan apa yang Silla alami ketika wanita itu baru saja sadar setelah semalaman tak sadarkan diri. Dirinya takut jika Silla akan mengamuk dan tidak terima dengan apa yang menimpanya.
"Mas tidak menyembunyikan sesuatu dari aku kan?" Tanya Silla penuh selidik.
__ADS_1
Zidan tersenyum dan menggeleng. "Tidak ada, hanya saja kamu harus banyak istirahat biar cepat sembuh."
Silla pun akhirnya menurut meskipun hatinya bertanya-tanya.
Setelah memastikan Silla kembali tidur, Zidan keluar dari ruangan rawat Silla.
"Sus saya titip istri saya, jika ada apa-apa segera hubungi saya." Ucap Zidan pada suster yang bertugas diruangan Silla.
"Baik pak."
"Jika istri saya bertanya, katakan saja saya ada urusan penting."
Zidan segera meninggalkan rumah sakit, untuk menemui seseorang.
.
.
"Halo dengan toko RR flowers disini." Ucap Rere dari telepon.
"..."
"Dengan siapa? dan dikirim ke alamat mana?"
"..."
"Baik terima kasih." Rere menaruh kembali gagang telepon itu.
"Dapat orderan mbak?" Tanya Bella yang masih membungkus satu buket untuk pembeli.
"Iya, besok lusa untuk acara pernikahan katanya."
Ucap Rere dengan memberikan catatan nya pada Bella.
"Seratus tangkai mawar merah?"
"Yap, dan seperti biasa, pakai bunga yang baru..oke."
"Siap boss." Bella tertawa diikuti Rere.
__ADS_1