
Felik keluar dari kantor sudah pukul sembilan malam, hampir lima bulan ini dirinya selalu menyibukkan diri hanya untuk bekerja.
Ke kelab pun sudah tidak pernah Ia lakukan, hanya beberapa kali dan itupun hanya untuk menghilangkan rasa penat.
Dirinya yang sekarang sudah tak lagi bermain dengan wanita, entah mengapa sejak setelah bersama Miranda dirinya akan lupa dengan rutinitasnya dulu sebagai seorang player, dan kini dirinya benar-benar bisa berhenti dengan sendirinya.
Mengendari mobilnya menunju ke apartemen yang baru empat bulan Ia tinggali, di mana sebelumnya Felik masih tinggal dirumah kedua orang tuanya, sekarang dirinya lebih memilih tinggal di apartemen.
Mobil Felik berhenti ketika sampai di lampu merah. Dan tidak jauh dari nya dia melihat penjual kacang rebus.
"Ck. Gara-gara kacang rebus jadi inget Riko gue." Gumamnya sendiri, ketika mengingat sahabatnya menceritakan ngidam kacang rebus di Paris.
Saat lampu akan berubah hijau, tak sengaja Felik melihat dua wanita yang baru membeli kacang rebus, dan sepertinya dirinya mengenali wanita itu.
"Miranda.." Felik menajamkan penglihatnya, karena dari kejauhan dan cahaya lampu yang silau membuatnya kesulitan untuk mengenali wanita itu.
Felik ingin keluar, tapi bunyi klakson mobil di belakang nya berbunyi nyaring, karena lampu sudah berwarna hijau.
Akhirnya Felik memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan yang bebas. Dimana dirinya langsung turun dan mengejar dua wanita yang sudah pergi.
Felik mencari kedua wanita itu, tapi langkah mereka sudah tak terlihat.
Meskipun penampilan Miranda sudah tak seperti dulu, tapi Felik yakin jika wanita yang dia lihat tadi adalah Miranda, di mana wanita itu mengunakan pakaian tertutup dan memakai hijab.
Felik kembali menghampiri penjual kacang tadi. "Pak, apa bapak kenal dengan dua wanita barusan?" Tanya Felik.
"Oh.. Umi Salamah, maksud Aden?"
Felik bingung, tapi dia mengangguk. "Bapak tahu wanita yang bersama umi?"
"Itu teh, keponakan si umi katanya lagi ngidam pengen makan kacang rebus, jadi malam-malam keluar." Terang penjual itu, yang memang mengenal umi Salamah, dimana yang memiliki yayasan anak yatim di kampung sebelah tempat bapak itu tinggal.
"Bapak tahu alamat rumah nya?" Tanya Felik yang penasaran, apa benar jika wanita tadi Miranda, tapi mendengar jika wanita tadi ngidam, membuat Felik sedikit ragu. Karena dirinya tidak yakin jika Miranda hamil, meskipun dalam hatinya sedikit berharap jika itu benar.
"Aden teh, mau kasih sumbangan ya ke yayasan umi Salamah?" Tanya bapak itu yang mengira Felik adalah seorang dermawan, karena di lihat dari penampilan Felik adalah orang kaya.
"I-iya pak, saya ingin menjadi donatur." Ucap Felik tanpa pikir, dirinya hanya ingin memastikan jika itu Miranda atau bukan.
"Dari sini tidak jauh, Aden tinggal lurus, nanti belok kiri, nah tidak jauh dari sana ada tulisannya den Yayasan ta'lim."
__ADS_1
Felik pun, berterima kasih dan meninggalkan beberapa lembar uang kertas pada bapak itu.
Dengan petunjuk yang Ia dapat, kini mobil Felik berhenti di depan yayasan yang dia cari, di mana tempat itu sudah cukup sepi karena sudah malam.
Matanya menatap bangunan didepan dengan harapan wanita yang dia lihat benar Miranda. Entah mengapa memikirkan Miranda dadanya kembali berdebar, dimana ketika tadi ketika mendengar jika keponakan umi Salamah sedang ngidam. Jika itu benar Miranda, apakah dia sendang berusaha mengandung anaknya.
Miranda yang belum bisa tidur memilih untuk pergi ke Mushola, dimana waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari, dan sebentar lagi akan masuk waktu subuh.
Semenjak tinggal bersama umi, Miranda berubah apalagi semenjak dirinya hamil. Mungkin di waktu pertama kali mengetahui jika dirinya hamil, Miranda belum sepenuhnya terima, tapi kini dirinya menerima keadaannya sekarang dengan ikhlas di mana dirinya akan memiliki teman di dunia ini, yaitu buah hatinya.
Beruntung umi Salamah menerima kehadirannya di masa terpuruk, dimana dirinya yang tidak tahu akan kemana, apalagi dalam kondisinya yang sedang hamil. Hanya saja Miranda terkadang merasa malu dan tidak enak, ketika sedikit warga yang menggunjingnya hamil di luar nikah, saat ketika menemi umi Salamah ke pasar, pasti mereka bergosip.
"Umi.." Miranda yang baru keluar dari kamar kaget ketika umi Salamah berdiri di depan pintu kamarnya. "Ada apa umi." Tanya Miranda melihat wajah umi yang sedikit panik.
"Itu si Faiz, demam tinggi umi udah kasih obat tapi tidak turun juga, dan si Aisya juga panas badannya." Umi Salamah panik, padahal masih pukul tiga pagi, mana ada kendaraan di jam segini untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
Miranda segera memastikan kedua anak itu, dan benar saja ketika dirinya masuk kamar mereka, dan menyentuhnya mereka sedang demam tinggi.
"Astaghfirullah.. kita bawa kerumah sakit umi." Ucap Miranda yang juga panik. "Demamnya sangat tinggi."
"Mau bawa pake apa nak, ini masih jam tiga pagi."
Miranda berfikir, di jam segini pasti orang-orang belum bangun. Jika menunggu waktu subuh, takut mereka tidak akan tahan.
"Meminta bantuan umi, siapa tahu ada orang yang mau menolong."
"Tapi Nak.." Umi Salamah tidak melanjutkan ucapnya ketika Miranda sudah melesat pergi.
"Ya tuhan Faiz, Aisyah sabar ya nak." Umi khawatir karena keduanya menggigil.
Miranda membuka pintu, ketika keluar dirinya melihat sebuah mobil mewah berhenti.
Dengan tidak perduli mobil milik siapa Miranda berjalan keluar untuk mencari bantuan. Tapi karena masih jam tiga pagi, sehingga tidak ada satu orang pun yang lewat.
Felik memang tidak pulang, dirinya menunggu di dalam mobil dan pria itu ketiduran karena kelelahan.
Miranda yang seperti nya melihat ada orang di dalam mobil mewah itu dengan penuh keberanian Tangannya memgetuk kaca jendela mobil.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Suara ketukan beberapa kali membuat Felik mengangkat kepalanya, karena posisi kepalanya menunduk di atas setir kemudi.
"Em.." Felik mengusap wajahnya, dirinya menoleh ketika kaca jendela masih saja di ketuk.
"Tuan, bisa minta tolong..!!" Suara wanita dari luar membuat Felik, membuka matanya lebar, tangannya menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil.
Deg
Miranda menelan ludahnya kasar, ketika kaca terbuka dirinya melihat wajah pria yang selalu Ia rindukan.
"Miranda.." Felik yang tak percaya, beberapa kali mengucek matanya.
"M-mas Felik." Suara Miranda tercekat, bagaimana bisa Felik berada di sini.
Dengan senyum lebar Felik segera keluar dari mobil, dan menghampiri Miranda, berdiri didepan wanita itu.
"Kamu benar disini?" tanya Felik dengan tidak percaya, ternyata wanita yang dia lihat tadi benar-benar Miranda.
"Maaf sudah mengganggu tidur anda tuan." Miranda sedikit menunduk dan ingin berbalik meninggalkan Felik, dengan cepat Felik menarik tangan Miranda, sebisa mungkin dirinya bersikap sopan.
"Aku menemukanmu.." Felik menarik tangan Miranda hingga tubuhnya menubruk dada bidang Felik.
"Auws.." Miranda meringis, ketika perut nya bertabrakan kuat dengan Felik.
"Kenapa?" Tanya Felik yang merasa tidak menyakiti Miranda.
Miranda hanya menggeleng, tapi tangannya menyentuh perut nya yang sudah membuncit. Karena Miranda memakai pakaian panjang dan longgar, apalagi perutnya tertutup hijab yang dia pakai sehingga Felik tidak melihat jika perut Miranda buncit.
"Ka-kamu hamil." Tanya Felik tergagap, matanya melihat ke arah perut Miranda.
"Ya, saya hamil karena saya sudah Menikah."
Deg
Mata Felik langsung menatap wajah Miranda.
"Menikah?"
"Maaf tuan, saya harus masuk." Miranda segera pergi meninggalkan Felik, di mana niatnya tadi ingin meminta tolong tapi Ia urungkan, karena ternyata pria itu adalah Felik.
__ADS_1
Felik menatap nanar punggung Miranda yang semakin menjauh, kebenaran yang dia dengar sangat menusuk hatinya.
'Tidak, itu tidak mungkin.'