
Setelah perang mulut dan adu jotos. Kini kediaman Zidan sepi hanya ada kedua orang tuanya dan sepasang suami istri yang sah itu.
Kedua orang yang sebagai tersangka pembohong publik keluarga itu hanya diam menunduk, Zidan dengan wajah banyak lebam karena adu jotos dengan Riko sang Casanova, sedangkan Silla yang pelipisnya sedikit memar karena tak sengaja di jotos Zidan.
"Papa kecewa sama kamu Zidan." Gandi menatap kecewa putra satu-satunya itu.
"Papa kecewa kamu melakukan pernikahan sakral dan suci itu hanya untuk mendapatkan semua aset warisan." Gandi menghembuskan napas lelah.
Lelah setelah melihat perdebatan dan pertengkaran Zidan dengan Rere, di tambah pria yang tidak tahu asal usulnya yang menambah panas suasana.
"Tanpa kamu melakukan kebohongan pun, papa akan tetap memberikan semuanya untuk mu, karena kamu satu-satunya anak Papa, tapi kamu malah bertindak menjadi pria bodoh seperti ini."
Mendengar dikatai bodoh, Zidan langsung mendongakkan kepala nya menatap papanya tajam.
"Apa? Tidak mau di bilang bodoh?" Gandi balas menatap tajam Zidan. "Jika bukan bodoh apa namanya be*go." Gandi yang kesal pun sudah malas lama-lama menatap kedua orang yang hanya diam dan menunduk itu.
Zidan menggaruk kepalanya yang tak gatal. 'Bodoh lu Zidan, otak lu gak di pake, mana mungkin papa akan kasih aset nya pada orang lain karena lu anak satu-satunya.' Zidan merutuki dirinya sendiri setelah apa yang di lakukan nya selama ini ternyata karena kebodohannya.
"Dan sekarang, nikmati saja apa yang kamu dapatkan, bersama istrimu itu." Gandi berdiri diikuti istrinya yang hanya diam saja. "Ingat kamu sudah tidak ada hak kepada Rere lagi, karena kamu tadi sudah menalaknya."
Gandi pun pergi setelah bicara panjang lebar kepada Zidan.
"Pah, mah.." Zidan memanggil kedua orang tuanya, tapi sama sekali tak di hiraukan.
"Mas.." Silla takut-takut memanggil Zidan.
"Apa..!! ini semua karena kamu Silla." Zidan langsung mencecar Silla. "Jika saj kamu tidak menyarankan hal itu, semua tidak akan seperti ini, puas kamu sekarang?" Zidan menatap Silla tajam dengan kemarahan dan kekesalan yang membuatnya emosi.
"Mas, aku lakukan itu hanya_"
"Hanya apa hah..!! hanya untuk hidup mewah dan foya-foya." Zidan membentak Silla.
__ADS_1
Silla menunduk diam dengan Isak tangis yang mulai terdengar.
Zidan mengusap wajah frustasi. "arrghh.."
.
.
.
"Kita mau kemana yah." Tanya Rere setelah cukup lama mereka semua hanya diam di dalam mobil.
Hari sudah menjelang sore ketika mereka semua keluar dari rumah Zidan. Setelah adu argumen tadi kini mereka bernapas lega dan merasa bahagia, apalagi dengan pria yang sedang duduk di balik kursi kemudi sekarang, sejak tadi bibir nya mengembang kan senyum meskipun tidak ada yang sadar tapi Riko begitu bahagia jika sang kekasih sudah resmi menjanda. Ehh ada yang janda kok malah seneng..
"Kita cari hotel saja, besok baru kita akan pulang ke Jakarta." Ucap Hilman tersenyum tipis pada putrinya yang duduk di depan sedang menoleh kebelakang.
Ehem
"Em..bagaimana jika ayah dan ibu menginap di apartemen saya saja." Tawar Riko, dirinya menelan ludahnya kasar ketika tak sengaja melihat tatapan mata tajam ayah nya Rere.
"By, apa kamu serius?" Tanya Rere yang sadar jika ayahnya mungkin saja masih marah pada hubungan mereka berdua.
"Tentu saja Hon, demi mendapat restu." bisik nya pada Rere.
Ehem...ehem..
Hilman berdehem keras melihat kedua orang didepan mereka saling bisik-bisik.
Fitri mengelus lengan suaminya, dirinya tahu jika suaminya masih marah dengan hubungan anaknya.
"Bagaimana yah?" Tanya Rere untuk memastikan.
__ADS_1
"Ayah mau makan dulu, lapar." Jawab Hilman, jauh dari jawaban yang mereka harapkan.
Rere dan Riko saling tatap, sedangkan Fitri menepuk lengan suaminya pelan. "Malu-malu in yah." Ucapnya pelan.
"Ayah memang lapar Bu, di rumah mereka kita belum makan apa-apa kan karena kejadian menjengkelkan tadi." Ucap Hilman pelan agar tidak terdengar oleh kedua orang di depan sana.
"Ya tapi, wajah ayah sana ucapan ayah tak sama, wajahmu menunjukan jika kamu marah, tapi mulutmu tidak gengsi untuk minta makan, dasar aneh." Fitri mendengus kasar dengan menyenggol lengan sang suami.
"Lapar kok gengsi to buk-buk, yoo Ndak warek lak ngono kui." (Lapar kok gengsi, ya gak kenyang kalau begitu).
Fitri semakin sebal mendengarnya.
.
.
.
Riko membawa kedua orang tua Rere ke restoran yang dekat apartemen, restoran lumayan terkenal karena menu yang di jual sangat enak dan banyak macam pilihan, karena Riko tidak tahu jenis makanan apa yang di sukai ayah Rere.
"Ayah mau pesan apa?" Tanya Rere yang sudah duduk di meja bundar, terdiri dari empat orang itu.
"Apa saja? yang penting semua ada." Ucap Hilman santai dengan menaruh kedua tangannya di atas meja dan saling bertautan, mata nya menyusuri penjuru restoran itu.
Rere lagi-lagi menatap Riko, yang hanya menahan senyum mendengar jawaban ayah Rere.
'Apa saja, kok yang penting semua ada, Bilang aja pesan semua yang ada' Batin Riko meronta untuk tertawa.
Ehem
Riko langsung kembali ke ekspresi cool nya.
__ADS_1