PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part17


__ADS_3

Setelah dari taman mereka memutuskan untuk pulang, namun bukan Riko namanya jika tidak bisa membuat Rere malam ini bersamanya, mengingat dirinya esok harus kembali ke Jakarta dan pasti dirinya sangat merindukan wanita ini.


Rere dengan wajah cemberut namun hatinya merasa bahagia karena pria yang dicintainya tidak pernah berubah memperlakukannya.


Riko membawa Rere yang berstatus istri orang ke hotel penginapan nya.


"By..aku baru tahu kalau kamu menginap di hotel milik suami Indira." Ucap Rere yang baru tahu, padahal kemarin dirinya dari sini tapi tidak memperhatikan.


"Hm..kamu terlalu terpesona padaku, jadi tidak tahu sekitar." Ucap Riko gombal.


"Ck. kamu narsis By."


Riko hanya terkekeh, menggandeng tangan Rere ketika akan memasuki lift.


"Jadi aku harus menginap dengan selingkuhan?" Tanya Rere. ketika lift sudah merangkak naik, didalam lift hanya ada mereka berdua.


"Anggap saja seperti itu, karena kamu sudah memiliki suami, yah..meskipun suami siri sih." Ucap Riko yang cuek.


Rere mencebikkan bibir nya mendengar ucapan Riko.


Tring

__ADS_1


Pintu lift terbuka, mereka segera keluar dan menuju kamar yang Riko tempati.


"By, apa kamu masih sering melakukan Ons." Ucap Rere ketika keduanya sedang duduk di atas ranjang dengan Rere menghadap Riko yang bersandar di dinding ranjang.


Riko menatap wajah Rere yang menunggu jawabannya. "Ya, dan kamu alasannya." Tangan Riko menyentuh pipi Rere.


Riko memang selalu jujur lada Rere, semenjak mereka menjalin kasih dulu, bahkan Riko juga menceritakan kehidupan nya saat di Paris.


"Kenapa?" Tanya Rere dengan wajah sendu.


Riko memang seorang player tapi dulu sebelum mengenal dirinya, dan Rere yang merubah pergaulan Riko menjadi lebih baik, tapi pria itu kini kembali menjadi Casanova setelah dirinya menikah.


"Kamu masih tanya mengapa hm." Ucap Riko tanpa melepas pandanganya.


"Dengar." kedua tangan Riko menangkup wajah Rere. "Hanya kamu yang bisa merubah ku, dan hanya kamu yang bisa miliki hati ini, kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku ketika kamu pergi, aku merasa bersalah karena tidak mau mendengar ucapan kamu." Riko menatap lekat bola mata coklat Rere. "Aku minta maaf jika aku sudah membuat hidup kamu seperti ini, aku minta maaf." Ucap Riko dengan wajah sendu, kehidupan Rere sekarang secara tidak langsung karena dirinya.


Jika dirinya tidak memutuskan hubungan mereka maka Rere tidak akan menikah dengan pria beristri, apalagi pria itu tidak menganggapnya sama sekali.


Rere hanya diam, dirinya tidak percaya jika Riko juga merasakan hal yang sama dengannya.


"Kamu adalah sumber kehidupan dan kebahagiaan aku, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu bahagia dengan pernikahan kamu, tapi aku akan terima dan ikut bahagia jika wanita yang aku cintai juga bahagia." Riko mengecup kening Rere.

__ADS_1


"By, aku_"


"Ssttt...aku tahu kamu terharu dengan ucapan ku." Ucap Riko dengan PD nya.


"Isss bukan, aku dari dari nahan pipis tau." Rere segera turun dari ranjang, dan berlari masuk kamar mandi.


Riko menatap punggung Rere tak percaya. "Sakit tak berdarah"


.


.


Zidan melihat jam yang menggantung di dinding, entah kenapa dirinya bisa duduk di ruang keluarga dan menunggu seseorang.


"Mas, kamu ngapain sih." Silla dengan wajah mengantuk mencari keberadaan suaminya yang tidak ada di kamar.


"Hm..aku tidak bisa tidur." Ucap Zidan dengan menatap layar televisi didepanya.


"Ck. aku gak bisa tidur kalau gak ada Mas." Ucap Silla mendudukkan tubuhnya di samping Zidan.


Zidan menghela napas, lagi-lagi melihat jam yang hampir jam dua belas malam, tapi Rere juga belum pulang. Ingin menghubungi Zidan sama sekali tidak punya nomor Rere, aneh bukan.

__ADS_1


Melihat Silla yang kembali tidur bersandar di bahunya, entah mengapa Zidan malah memabayangkan wajah Rere yang begitu cantik tadi malam.


"Kamu dimana." Zidan bergumam dengan tangan mengelus kepala Silla.


__ADS_2