PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part84


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Riko, hari ini dirinya mengajak Rere dan kedua orang tuanya untuk melihat hadiah apa yang Ia berikan, membuat ketiga orang itu penasaran. Meskipun Riko masih merasa canggung kepada ayah mertuanya yang sepertinya menatapnya dengan pandangan aneh, setelah kejadian tadi malam.


"By, kita sampai mana?" Tanya Rere yang sepertinya mobil mereka sudah berhenti padahal baru sebentar berjalan.


Kedua mata Rere di tutup dengan menggunakan kain, begitupun dengan Hilman dan Fitri.


"Ya, kita sudah sampai." Riko membantu Rere turun, begitupun dengan kedua mertuanya.


"Dasar Mantu kurang ajar, ngerjain orang tua." Ucap Hilman ketika di papah Riko turun dari mobil.


"Namanya juga kejutan yah." Balas Riko.


Mereka bertiga berdiri berjejer di sebuah bangunan yang begitu menyejukkan mata.


""Aku itung sampai tiga kalian boleh buka penutup mata kalian." Ucap Riko yang memberi aba-aba, dirinya membatu membukakan penutup mata Rere.


"Satu..dua..tiga..!"


Di hadapan mereka terdapat bangunan cantik dengan banyak aneka bunga yang indah, bahkan bunga itu lebih terlihat indah di banding dengan miliknya yang berada di Indonesia.


"By..Ini?" Tanya Rere tak percaya melihat sebuah toko yang lumayan besar, bahkan ada empat karyawan yang berdiri di pintu menyambut mereka.


"Untuk istriku, maaf hanya ini yang bisa aku berikan, untuk hadiah pernikahan kita." Ucap Riko dengan senyum, senyum manis dan begitu tulus, tatapan matanya pun penuh dengan cinta.


"Lah, yang di kasih kejutan Rere, kok kita juga disuruh tutup mata, benar-benar ya kamu Riko, menantu kurang ajar." Hilman menoyor kepala Riko.


"Duh yah, belum-belum udah berfikiran buruk aja." Riko menggerutu.


"Lalu apa, kalau gak berfikir buruk, jika kamu itu hanya mengerjai kami, kualat kamu."


"Yah.." Fitri mengelus lengan suaminya.


"Ayah ibu coba lihat toko di sebelahnya." Ucap Riko yang menunjuk toko kue di sebelahnya. "Di sana usaha untuk ibu dan ayah, agar tidak bosan disini."


Fitri dan Rere membulatkan matanya, belum selesai terkejut dan terharu karena mendapat toko bunga yang lumayan besar. Kini Riko memberikan toko kue untuk kedua orang tuanya.


Glek

__ADS_1


Hilman menelan ludah, tak lama senyum lebar terbit dari bibirnya.


"Nah kalau begini ayah tidak kan berpikiran buruk." Hilman merangkul bahu menantunya. "Terima kasih mantu kurang ajar yang kadang baik, kami senang." Ucapnya tertawa.


Riko tersenyum, senyum yang merasa tertekan.


"Mau masuk toko yang mana dulu." Ucap Riko menawari ketiganya.


"Sepertinya toko kue ibu dulu." Ucap Rere yang melihat ibunya sepertinya sudah tak sabar ingin melihat.


"Oke.." Riko berjalan lebih dulu dan merangkul bahu sang istri, karena toko keduanya hanya berjarak tiga meter saja.


"By, terima kasih ya..kamu pria terbaikku." Rere menyandarkan kepalanya di bahu Riko.


"Hm..semua untuk kamu sayang, agar kamu bahagia dan tidak merasa terbebani." Tangannya mengelus kepala Rere.


Riko yang sebenarnya dulu tidak sengaja melihat toko yang dijual dan toko itu adalah toko bunga, karena merasa menyukai tempat yang strategis Riko membeli toko itu beserta isinya, bahkan karyawan nya sengaja masih Riko pekerjakan untuk meneruskan toko bunga itu, dan benar saja ketika dirinya yang mengelola di bantu karyawan senior membuat toko itu semakin ramai.


Tidak di sangka dirinya kembali mendapatkan Rere dan wanitanya menyukai bunga apalagi Rere selama di kota B, membuka usaha toko bunga, seperti nya mereka memang jodoh.


"Bienvenue Monsieur.." Dua pelayan menyambut mereka ketik masuk.


'Perkenalkan ini istri saya..'


"bienvenue madame.."


Rere hanya mengangguk dan tersenyum., dirinya tidak banyak mengerti bahasa Prancis.


Riko memperkenalkan kedua mertuanya, yang sama sekali tidak bisa berbahasa Prancis, dan Riko memberikan tutorial berucap melalui google terjemahan bahasa, jadi Hilman dan Fitri sedang sibuk menggunakan suara Google untuk berinteraksi kepada karyawan dan pembeli.


"Apa ayah dan ibu tidak kesulitan menggunakannya By." Ucap Rere yang melihat kedua orang tuanya sibuk belajar menggunakan Google.


"Tidak apa, setidaknya mereka mengerti apa yang mereka katakan. Jika kamu kesulitan kamu juga bisa dengan cara seperti itu." Ucap Riko yang kini membawa Rere melihat toko bunganya.


"Em..akan kau coba." Jawabnya tersenyum.


"Nah, kamu bisa memulai kesibukan mu lagi di sini." Riko membuka pintu kaca, dimana didalamnya sudah tertata dengan rapih.

__ADS_1


"Selamat datang, tuan nyonya.." Ucap salah satu wanita yang berpakaian sama dengan ketiga temannya.


"Eh..kamu bisa bicara bahasa Indonesia." Tanya Rere, padahal dia sudah mengeluarkan ponsel nya dan ingin berucap melalui mbah google.


"Saya dari Indonesia nyonya." Wanita itu tersenyum ramah.


Riko menahan tawa melihat wajah istrinya yang sedikit syok, apalagi bibir nya yang sudah siap siaga di depan ponsel ingin berucap.


"Oh, aku pikir kamu asli orang Prancis." Rere tertawa.


"Namanya Linda, dia dari Indonesia sudah bekerja disini lima tahun, sebelum aku membeli toko ini, dan dia yang menjadi orang kepercayaan ku selama aku di Jakarta." Jelas Riko panjang lebar.


"Bagus lah, jadi aku ada teman senegara di sini." Ucap Rere yang bahagian.


"Tempat ini tidak jauh dari rumah kita, jadi kalian bisa berjalan kaki bersama, dan kantor aku lumayan jauh karena butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di sana." Terang Riko, "Kapan-kapan aku ajak kalian berkunjung di sana." Riko membawa Rere kesebuah rumah pribadi.


Dimana Rere bisa istirahat jika lelah, dan tempat itu memang cukup besar.


.


.


Di belahan bumi lain, Harna yang tidak merasa bersalah ataupun menyesal sama sekali tidak merasa kehilangan, karena dirinya yakin jika Riko tidak bisa hidup susah tanpa adanya kekayaan keluarga Kusuma. Karena baik Harlan dan Harna tidak tahu apa yang sudah Riko miliki, yang tahu hanya Felik dan Bastian kedua sahabat Riko.


Mungkin dulu ketika remaja Riko memang terkenal pria nakal, dan suka menghamburkan uang, tapi kebiasaan itu berubah ketika dirinya mulai mengenal dunia bisnis selama tinggal di Paris.


Di sana juga ada beberapa properti milik keluarga Kusuma, tapi semua sudah mereka jual setelah Riko memutuskan mau membantu perusahaan sang ayah, dan tanpa mereka sadari properti itu di beli Riko dengan atas nama Felik, partner kerja samanya mendirikan perusahaan di Paris_Prancis.


Dan mamanya mengira putranya menjadi miskin setelah keluar dari perusahaan, dan hidup susah bersama sang istri.


"Tunggu saja, dalam waktu kurang satu bulan. Pasti dia kembali." Batin Harna dengan yakin.


"Papa mau kemana?" Tanya Harna ketika melihat suaminya menggunakan jas rapi dan koper kecil.


Harlan melihat istrinya sekilas. "Bekerja, keluar kota, bahkan keluar negeri bertemu banyak klien, memang apa lagi, itukan yang kamu mau, setelah Riko pergi. Atau lebih baik aku dirumah dan biarkan perusahaan itu bangkrut." Harlan bicara ketus, dan melenggang pergi.


Hari ini ada pertemuan klien di luar kota, karena Felik tidak bisa dan ada pekerjaan lain yang juga penting maka Harlan kembali berkutat di perusahaan lagi.

__ADS_1


Bukanya menikmati masa tua, duduk santai di rumah kini Harlan kembali disibukkan dengan urusan kantor.


__ADS_2