
Keduanya berjalan di atas red karpet yang terbentang dari luar hingga memasuki ballroom hotel. Perhatian tamu undangan kini tertuju pada pasangan yang baru saja tiba, disaat acara sudah di mulai sepuluh menit yang lalu, dan karena itu keduanya menjadi pusat perhatian seluruh tamu yang hadir di ballroom hotel.
Banyak tamu yang berbisik-bisik membicarakan kedua pasangan yang baru datang itu begitu serasi, antara cantik dan prianya begitu tampan, mereka nampak cocok sekali.
Tak jauh dari sana seorang pria menatap keduanya tajam, penuh kebencian kepada pria yang sudah menggandeng istri nya itu.
Apalagi malam ini Rere terlihat begitu cantik dan mempesona membuat dirinya ingin sekali menarik wanita itu untuk menjauh dari pria yang di gandeng nya.
"Sialan, jadi Rere pergi dengan pria itu." Zidan menatap keduanya dengan kemarahan, tidak terpikirkan olehnya jika waktu itu Riko datang ke hotel ini sebagai tamu penting, dan pasti sekarang pria itu juga datang karena mendapat undangan.
Jika saja dirinya tidak terikat kontrak kerja sama, maka Zidan lebih memilih mundur agar tidak berhubungan dengan Riko yang notabennya adalah kekasih istri sirinya.
Tapi mengingat denda pinalti yang harus dia bayar sangat besar, dirinya berpikir dua kali untuk membatalkan kerja sama itu, jika dirinya tidak ingin jatuh miskin dengan cepat.
"By, kenapa semua pada liatin kita." Rere berbisik di samping Riko.
"Berarti kita pasangan paling serasi disini." Ucap Riko dengan senyum menggodanya.
Rere kembali diam, dirinya enggan mengomentari ucapan Riko yang terkesan gombal.
Riko memeluk pinggang Rere posesif ketika matanya tak sengaja melihat Zidan yang berdiri diantara tamu lainya dan menatap ke arahnya tajam.
'Ck. lu bisa apa sama gue, lu hanya anggap dia pembantu, lu salah pilih lawan' Riko tersenyum menyeringai dalam hati, menatap Zidan dengan senyum efilnya.
Setelah sampai di depan pemilik pesta Riko mengucapkan selamat hari pernikahan begitu pun juga dengan Rere yang langsung mendapat sambutan hangat dari istri nya.
"Wah..datang kedua kali anda kesini membawa seorang gadis." Ucap pria paru baya yang mempunyai hajat.
__ADS_1
"Ah..anda bisa saja tuan, kenalkan dia kekasih saya." Riko mengenalkan Rere pada rekan bisnis nya itu.
Keempat orang tersebut nampak akrab Rere berbincang dengan istrinya, dan Riko dengan rekan bisnisnya yang tidak jauh-jauh dari perbincangan bisnis.
"Emm...By, aku mau ketoilet sebentar." Ucap Rere pada Riko.
"Mau aku temani?" Riko menawarkan diri.
"Tidak usah by..aku bukan anak kecil." Rere tersenyum.
"Baiklah, jangan lama-lama." Riko pun membalas senyum Rere.
"Oke." Rere segera berjalan meninggalkan Riko menuju toilet, dirinya yang pernah datang ke hotel itupun sudah tahu dimana toilet berada.
"Huh...ternyata seperti ini rasanya datang ke pesta orang kaya." Rere menghembuskan napasnya kasar, dirinya mencuci tangan di depan wastafel setelah menuntaskan hajatnya, dan melihat makeup nya didepan cermin.
Bugh
"Aakkhh..Mas apa-apa sih kamu." Rere menatap Zidan tajam ketika tangannya di tarik hingga membentur dinding, membuat tubuhnya terkunci oleh tubuh Zidan.
Zidan hanya diam menatap wajah Rere yang begitu cantik saat begitu dekat Ia lihat, dirinya baru melihat wajah sedekat ini sekarang.
Matanya turun kebawah menatap bibir tipis Rere yang begitu menggoda meskipun tidak menggunakan warna lipstik yang begitu mencolok tapi sudah terlihat begitu seksih.
"Mas lepas..!!" Rere mencoba memberontak untuk melepas cengkram tangan Zidan yang berada di belakang tubuhnya.
"Kamu tidak membuka pesanku, dan malah asik berkencan dengan pria selingkuhan mu hah." Zidan menatap Rere tajam setelah dirinya ingat akan tujuan kemari menemui Rere.
__ADS_1
Rere tertawa sumbang. "Untuk apa kamu mencari ku jika istrimu saja tidak perduli dengan mu." Ucap Rere sinis. Dirinya kesal akhir-akhir ini Zidan sering kali membuatnya risih karena selalu di suruh ini dan itu, setelah Silla jarang berada dirumah, padahal dulu Zidan tidak pernah mau menyuruhnya sama sekali.
Zidan semakin meradang mendengar ucapan Rere. "Kamu juga istriku jika kamu ingat." Ucapnya dengan tegas. "Oh..apa kamu sudah lupa jika punya suami karena sudah berani menjalin hubungan dengan pria lain."
"Heh...suami?" Rere melirik Zidan sinis. "Mana ada suami yang mengagap istrinya pembantu jika kamu lupa."
Glek
Zidan menelan ludahnya kasar, ucapan Rere begitu menohok hatinya.
"Asal kamu tau Mas, kamu sudah membohongi ku dan kedua orang tua ku, dan sebentar lagi aku pastikan kamu tidak berhak lagi atas diriku." Rere dengan suara pelan namun penuh penegasan menatap Zidan berani.
"Jangan harap aku akan melepaskan mu dengan mudah."
Cup
Zidan memaksa mencium bibir Rere dengan kasar. "Emphh...emph.." Rere bergerak untuk memberontak agar Zidan melepaskan ciumannya.
Bugh
"Argh.." Zidan mengerang kesakitan memegangi benda miliknya yang di tendang oleh Rere.
Napas Rere memburu menatap tajam Zidan yang sedang kesakitan. "Jangan harap kamu bisa berbuat seenaknya mas, setalah apa yang kamu perbuat selama ini."
Setelah itu Rere segera pergi dari sana, meninggalkan Zidan yang terduduk di lantai dengan rasa sakitnya yang luar biasa.
"Si*alan kamu Re."
__ADS_1