PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Rasa yang begitu sakit


__ADS_3

Felik memang bukan pria baik-baik, tapi dirinya juga ingin mendapatkan wanita baik untuk menjadi isterinya, dan Felik sadar jika jodohnya adalah wanita cerminan dirinya ketika menjadi pria berengsek, dan Felik sudah tak lagi melakukan hal itu ketika sudah mengenal Miranda.


Miranda memang bukan wanita pertama baginya, dan Felik juga bukan pria pertama untuk Miranda, tapi hati siapa yang tahu kemana akan berlabuh dan kini Felik menemukan wanita seperti Miranda, wanita baik yang sudah rela dan ikhlas mengandung buah hati nya, sungguh Felik tidak menyangka akan hal ini, mungkin jika wanita lain pasti sudah meminta pertanggung jawabannya tanpa harus dirinya mengejarnya.


Dan kini Felik tidak akan melepaskan wanita yang sudah mengandung buah hatinya, dan juga wanita yang sudah membuatnya berubah sejak mengenalnya.


"Sudah bangun." Felik yang sejak tadi hanya diam dan menatap wajah Miranda yang terlelap di dalam mobilnya.


"Engh..Dimana?" Tanya Miranda yang masih menyesuaikan penglihatannya.


"Di dalam mobil." Ucap Felik sambil mengulas senyum. "Kamu tidur terlalu nyenyak, sampai tak bisa aku bangunkan." Tangannya terulur untuk mengelus pipi Miranda.


"Mas, jangan seperti ini." Miranda memindahkan tangan Felik dari wajahnya.


"Kenapa?" Raut wajah Felik berubah datar, untuk pertama kali dirinya ditolak ketika menyentuh wajah seorang wanita.


"Kita bukan muhrim, dan maaf aku harus pulang." Miranda ingin membuka pintu mobil, dengan cepat Felik mengunci pintunya dari tempatnya.


"Mas buka, aku ingin keluar." Miranda berusaha membuka pintu, tapi tidak bisa karena di kunci.


"Tidak, sebelum kamu mau menerimaku, bukan mau. Tapi harus." Felik menatap tajam wajah Miranda yang sudah menatapnya sendu. "Aku kan menikahimu, secepatnya." Ucap Felik dengan serius.


Miranda menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa..!!" Ucapnya dengan nada tinggi.


"Karena aku sedang mengandung, dan lagi pula kita hanya orang asing yang tidak saling mencintai, jadi tidak perlu sampai menikah." Ucapan Miranda membuat dada Felik bergemuruh panas.


Dirinya tidak terima. "Maksud kamu apa? apa kamu mau anak kita lahir tanpa status yang jelas." Felik berbicara dengan penuh penekanan, tatapannya begitu menusuk di mata Miranda.


"Aku ijinkan mas untuk bertanggung jawab pada bayi ini, tapi tidak dengan ku, menikah adalah menyatukan dua insan yang saling menginginkan dan mencintai, tapi kita_"

__ADS_1


"Aku mencintaimu Miranda, aku mencintaimu..!!" Felik menyentuh kedua bahu Miranda. " Aku mencintai kalian, dan aku ingin kita menikah karena aku ingin membina rumah tangga dengan kamu. Meskipun semua terjadi karena sebuah napsu tapi aku bukan pria baj*Ngan yang tidak bertanggung jawab." Felik menatap Miranda penuh harap. "Aku mohon terima aku untuk bertanggung jawab dan menjadi suami yang kamu inginkan, aku sadar aku bukanlah pria baik seperti yang kamu inginkan, tapi aku akan berusaha untuk menjadi imam yang bertanggung jawab untuk keluarga kecil kita."


Miranda hanya diam tanpa tahu harus bicara apa, dirinya memiliki alasan untuk tidak menerima permintaan Felik, karena yang dia lihat Felik adalah pria bebas, dan jika dirinya mau menerima Felik, Miranda takut jika Felik akan menyakiti dengan kebebasan yang dia miliki.


Ungkapan cinta Felik tak membuat Miranda langsung menerima, justru Miranda berfikir dua kali untuk mempercayai ucapan Felik, karena seorang Felik yang seorang player tidak akan mungkin bisa jatuh cinta pada satu wanita, jika dirinya saja bisa mendapatkan belasan wanita untuk memuaskan dirinya.


"Aku ingin pulang." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Miranda, meskipun Felik panjang lebar memberi Miranda penjelasan.


"Aarrgghh..." Felik memukul kemudi setir dengan kuat, dirinya merasa frustasi melihat respon Miranda yang sama sekali tidak mempercayainya.


Tanpa kata, Felik kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dan menancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata, tidak peduli jika Miranda ketakutan bahkan sampai menutup mata dan mencekram Aray sealbeth yang dia pakai.


Kepalanya terasa panas dan mendidih, Felik tidak pernah memohon dan mengemis kepada seorang wanita, bahkan dirinya tidak pernah main hati kepada lawan mainnya, tapi tidak dengan Miranda. Felik sudah jatuh cinta kepada wanita yang sedang mengandung putranya itu, dan kini dirinya di abaikan tanpa rasa sama sekali.


Hatinya begitu perih, inikah rasanya jika perasaan kita di abaikan oleh seseorang yang benar-benar kita sayangi.


Dengan keadaan emosi Felik tidak memperdulikan Miranda yang sudah berkeringat dingin, dirinya tidak melihat bagaimana Miranda ketakutan dengan kecepatan laju mobilnya, yang ada di dadanya hanya rasa emosi.


"Awassss..!!" Suara teriakan Miranda bersamaan dengan mobil Felik yang berhenti.


Dencitan ban mobil terdengar begitu nyaring, ketika kakinya menekan pedal rem mendadak.


Felik menatap lurus kedepan dengan napas memburu, hampir saja dirinya menabrak mobil yang melaju dari lawan arah ketika di persimpangan jalan. Dan dirinya baru sadar jika ada Miranda yang berada di dalam mobilnya.


"Mir..." Felik yang melihat keadaan Miranda begitu panik, wajah Miranda basah dengan keringat dingin dan tubuhnya bergetar hebat.


"Mir, maaf aku tidak_"


Miranda menepis tangan Felik ketika akan menyentuh tubuhnya. Dengan tubuh yang masih sedikit gemetar Miranda keluar dari mobil Felik. Keadaan jalan masih ramai di sore hari dan Miranda dengan susah payah keluar dari mobil Felik dengan kaki gemetar.

__ADS_1


"Mir, tunggu mau kemana?" Felik ikut keluar dari mobil dan mengejar Miranda yang sudah menjauh dari mobilnya dengan tertatih.


"Mir.." Felik menarik tangan Miranda dan merengkuh tubuh yang masih sedikit gematar itu. "Maaf aku tidak bermaksud mencelakai mu, aku hanya emosi dan_"


Bugh


Tubuh Miranda luruh ketanah ketika tak sadarkan diri.


"Ya tuhan Miranda..!!" Felik terlihat panik, tanpa terasa air matanya jatuh ketika melihat wajah Miranda yang pucat.


"Mir bangun, jangan membuatku takut." Felik menepuk pipi Miranda dengan tangan gemetar dirinya takut jika terjadi sesuatu dengan Miranda dan bayinya.


Dan ketika memeluk Miranda Felik melihat bercak darah di bagian belakang tubuh Miranda.


Dengan cepat Felik segera menggendong Miranda kembali untuk memasuki mobilnya, dan akan membawanya kerumah sakit.


Di sepanjang jalan Felik terus merutuki kebodohannya, karena melupakan Miranda yang berada di dalam mobilnya, dirinya yang di kuasai emosi dan rasa sakit hati tak menghiraukan keadaan Miranda.


"Bodoh kau Lik...!! Bodoh..!!" Berulang kali Felik melampiaskan kebodohannya dengan memukul setir kemudi, dirinya menatap Miranda yang tak sadarkan diri di kursi samping.


"Maaf Mir, maafkan aku." Tangannya membawa tangan Miranda untuk dia kecup.


Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, disaat Miranda sadar nanti, pasti Miranda akan membencinya karen kebodohan dan keteledorannya.


Setelah sampai di rumah sakit, Felik menggendong Miranda dan berteriak untuk meminta bantuan dokter ataupun suster untuk segera menolong Miranda.


"Maaf pak, Anda tunggu diluar biar dokter yang akan menangani pasien." Ucap suster yang melihat Felik ingin menerobos masuk ke ruangan UGD.


"Tolong selamatkan dia dan bayinya." Ucap Felik dengan keadaan yang berantakan, bahkan matanya tak bisa membendung air matanya.

__ADS_1


"Yatuhan selamatkan Miranda dan bayi kami." Doa Felik, dengan mengusap wajahnya kasar.


__ADS_2