
Seorang pria berjalan memasuki rumah besar dnegan wajah sumringah dan bahagia, sangking bahagianya pria itu terus bersiul dan memutar-mutar tubuhnya seperti orang menari.
"Dengarkanlah..wanita pujaan ku, malam ini ku sampaikan..Hasr_"
Bugh
Sebuah bantal sofa mendarat tepat di wajah nya yang seperti orang gila.
"Kakak berisik." Rania menatap Riko tajam.
Yang di omel masih terus mengembangkan senyum, bahkan memeluk bantal yang baru saja di lempar adiknya itu ke dalam dekapannya.
Rania yang menatap tajam berubah menjadi heran. "Kenapa sih, pulang-pulang kek orang kesambet tau gak." Bangkit dari duduknya Rania menyentuh kening kakaknya yang masih saja tersenyum dan bersenandung, bahkan Riko menyandarkan kepalanya di bahu Rania.
"Kak.. jangan kek orang gila deh, ntar jadi OGDJ beneran nyesel loh..." Ucap Rania menjauhkan kepala Riko dari bahunya.
"Kakak kamu kenapa Ran." Harna muncul dari dalam, bersama Harlan.
"Tau nih, kayaknya kesambet mah." Rania masih berusaha menjauhkan kepala Riko. Tapi pria itu tak bergeming.
Bugh
__ADS_1
Karena Rania menghindar, alhasil tubuh Riko jatuh ke lantai.
"Ah, sialan kamu Ran." Riko meringis memegangi bokongnya.
"Oh masih inget, kirain kalau OGDJ gak inget." Ledek Rania, tidak takut dengan kakaknya itu.
"Sembarangan kalau ngomong." Riko menoyor kening Rania, membuat gadis yang sudah bertunangan itu terhuyung ke belakang.
"Iss... ngeselin sih " Rania menatap Riko sengit.
"Tumben kamu pulang, masih inget rumah." Tanya Harlan dengan duduk di kursi bersampingan dengan istrinya.
"Eh..eh..tunggu dulu." Harna mencegah putranya itu. "Maksud kamu apa, anak gadis siapa yang kamu buat melendung hah." Harna berdiri dan menjewer telinga Riko.
"Ah..auws..sakit nah, lepas." Riko memegangi telinganya yang di tarik Harna.
"Jawab dulu, siap wanita yang kamu bikin bunting hah, jangan bikin malu keluarga kamu Riko, cukup sekali kami bikin malu." Harna yang merasa kesal dan marah pun meluapkan dengan menjewer telinga Riko.
"Gak gitu mah, ini lepas duku Riko mau ngomong." Riko meringis menahan rasa panas jeweran tangan Harna.
"Ah..uhh..panas Mah." Ucapnya mengusap-usap telinganya.
__ADS_1
"Bicara kamu, makanya jangan keluyuran terus." Harna mendelik, dan kembali duduk di samping Harlan yang hanya menjadi penonton.
Riko menghempaskan tubuhnya di samping Rania, yang tertawa cekikikan.
"Seneng kamu." Riko menatap Rania sinis.
"Katakan, berita apa yang membawa mu kesini?" Tanya Harlan lagi.
Semenjak putus dengan Rere, Riko jarang sekali pulang kerumah jika bukan karena Harna yang meminta datang karena kangen anak pertama mereka itu.
Riko lebih memilih tinggal di apartemen nya sendiri, dari pada harus tinggal dengan kedua orang tuanya yang pasti akan mendesak nya untuk menikah dan menjodohkan nya dengan wanita-wanita yang menurut Mamanya baik.
"Lusa Riko mau melamar gadis, jadi Riko minta doa dari kalian dan Riko minta tolong Mama untuk menyiapkan semuanya." Ucapnya dengan santai, dan senyum mengambang di bibirnya.
Siapa sangka makan malam dengan keluarga Rere tadi membuahkan hasil yang selama ini dirinya tunggu dan nantikan.
"Apa? kamu gak salah ngomong, kamu waras kan Rik." Harna menatap putranya sendu. Mengira Riko mengalami perubahan sikapnya karena belum bisa move on.
"Ck. kalian itu nyumpahin aku gila."
Riko yang kesal memilih pergi.
__ADS_1