
"Bagaiman?" Tanya Harna ketika melihat Rere keluar dari kamar mandi.
Rere tersenyum dan menggeleng. "Masih negatif mah." Ucapnya dengan wajah sendu.
Harna menarik napas dalam, hatinya merasa kecewa tapi mau gimana lagi jika belum di kasih sama yang maha pencipta.
"Yasudah, tidak apa-apa, masih banyak waktu." Ucapnya tersenyum paksa, lalu pergi dari tempat itu, meninggalkan Rere yang menatap punggung Harna sedih.
Rere menatap benda pipih kecil itu di tangannya, yang memang masih menunjukan garis satu. "Semoga tuhan secepatnya kasih hadiah untuk kami." Tangannya mengelus perut nya sendiri.
Rezeki, jodoh dan maut sudah ada yang mengatur, manusia hanya berusaha dan berdoa, selebihnya Tuhanlah yang menentukan.
.
.
"Nanti aku jemput ya.." Riko mencium kening Rere sebelum turun dari mobil.
"Oke.." Rere tersenyum manis.
"Udah sih, gak usah manis-manis yang ada tar bikin aku diabetes." Ucap Riko menarik hidung Rere.
"By..ahh...sakit tau.." Rere mengusap hidungnya yang ditarik Riko.
"Abis nya bikin nagih." Ucapnya ambigu.
"Apa, hidung aku sakit tau gak, nagih..nagih.." Rere bersungut-sungut.
__ADS_1
Riko mengulum senyum. "Nagih nya bikin aku merem melek yank." Senyum efil nya muncul.
Bugh
"Masih pagi By, kurang bersih nih mandinya, jadinya masih ngeres nih otak." Rere mendelik sebal.
Suaminya itu super mesum, dimana tempat selalu bicara vulgar membuatnya risih dan malu sendiri, meskipun dirinya juga menikmati. ehh
"Lagian, kamu di ajakin mandi bareng gak mau, ya ini hasilnya." Ucapnya masih belum puas mengerjai sang istri.
Membuat Rere kesal sekaligus malu, membuat kesenangan bagi dirinya sendiri.
"Isss nyebelin.." Rere keluar dari mobil dengan wajah kesalnya, membuat Riko tertawa di dalam mobil.
"Mungkin kamu anggap biasa saja sayang, tapi aku tahu hati kamu pasti sedih." Riko menatap punggung Rere yang semakin menjauh dan menghilang masuk ke dalam toko.
Karena Rania sudah menikah dua Minggu lalu, dan di boyong Raka untuk tinggal bersamanya, maka dari itu Rere ingin tinggal bersama ibu mertuanya.
.
.
"Mbak, ada paket untuk mbak Rere." Ucap Miranda, menunjukan paket yang ditaruhnya di atas meja.
"Paket dari siapa Mir, perasaan aku gak pernah pesen barang." Rere mantap bungkusan paket berupa kardus.
"Gak tau mbak, tadi aku datang sudah ada di depan toko dan tertera nama mbak Rere." Ucap Miranda menjelaskan.
__ADS_1
Pagi ketika dirinya sampai, sudah ada paket berbentuk kotak itu.
"Mungkin seseorang yang mengirim." Rere membolak-balikkan bungkusan paket itu.
"Tapi kalau mbak gak pesan, mending jangan di buka mbak, Aku takut kalau kayak di tv itu, paket teror." Miranda bergeridik ngeri, membayangkan jika paket itu berupa teror.
"Kamu sering nonton sinetron Mir, jadi parnoan." Rere terkekeh.
"Iss mbak beneran tau."
"Yaudah kamu sana kalau gak mau lihat isinya, biar aku buka sendiri."
Rere mengambil pisau karter untuk membuka bungkusan yang terlilit lakban rapi, dirinya mencoba membuka paket itu.
"Mbak jangan deh, mending buang aja." Miranda masih saja memperingati, dirinya benar-benar takut jika itu paket teror.
"Sayang lah kalau isinya beneran paket Mir."
Rere mencoba membuka bungkusan paket itu dengan hati-hati.
"Aaakkhh.."
"Ya Tuhan mbak..!!" Miranda menjerit dan menutup kedua matanya.
Napas Rere tersengal melihat isi dari kotak itu.
"Ti-tidak mungkin.."
__ADS_1