PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part72


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


Kehidupan yang Rere jalani tak semudah yang Ia bayangkan, nyatanya sampai saat ini dirinya dan suami belum di kasih kepercayaan untuk mendapatkan momongan. Rere juga sudah berkonsultasi dengan dokter memberikan dirinya apakah baik-baik saja.


Dokter yang menanganinya mengatakan jika keadaan rahimnya baik-baik saja. Kata sabar dan terus berdoa pun sering kali dirinya dengar dari orang-orang yang mensuport nya agar tetap semangat dan terus berikhtiar.


Hari ini Rere berkunjung kerumah ayah dan ibunya, pagi sebelum Riko berangkat lebih dulu mengantar Rere ke rumah orang tuanya.


Mereka sekarang tidak lagi tinggal di rumah utama, sejak dimana saat Riko tak sengaja mendengar mamanya yang selalu menekan Rere kapan memiliki anak, membuat Riko kesal dan muak.


Tidak di pungkiri jika dirinya juga menginginkan kehadiran malaikat kecil dalam rumah tangganya, tapi jika Tuhan belum memberikan kepercayaan itu, dirinya menerima dengan lapang dada, apalagi melihat istrinya yang sering murung dan sedih membuatnya kian merasa bersalah.


"Ibu bikin apa?" Tanya Rere yang melihat Fitri nampak sibuk di dapur.


"Hanya minuman rempah-rempah dulu ibu juga minum ramuan seperti ini, dan bisa mendapatkan kamu." Ucap Fitri memberikan gelas berisikan ramuan yang baru saja dirinya buat.


Rere menerima dan meminumnya.


"Makanlah sayuran dan buah-buahan, dan berolah raga, hindari stres yang bisa mempengaruhi hormon tubuh, ibu hanya bisa mendoakan kamu semoga segera mendapatkan momongan." Fitri menatap putrinya sendu, meskipun tidak mendengar dan melihat tekanan dan cemoohan orang, tapi sebagai sesama wanita yang pernah di posisi yang sama Fitri bisa merasakan itu.


"Iya Bu, Rere akan mengikuti saran ibu." Ucapnya memeluk ibunya. "Terima kasih sudah memberi support."


"Hanya itu yang bisa ibu lakukan." Fitri mengelus kepala putrinya.

__ADS_1


Rere terlihat santai dan biasa saja ketika dirumah ibunya, bahkan dirinya meminta ijin pada Riko untuk menginap di rumah kedua orang tuanya. Riko yang ingin melihat istrinya bahagia dan tidak tertekan hanya bisa menuruti, dirinya juga bahagia jika istrinya juga bahagia.


"By, jangan ini kenapa bentuknya seperti ini." Tanya Rere.


"Mana aku tau sayang, itukan bawaan dari sang pencipta." Ucap Riko dengan wajah pongahnya.


Rere mendengus kesal. Dirinya sedang duduk di samping tubuh Riko yang berbaring terlentang dengan bertelanjang dada.


Rere yang sedang usil pun berbicara hal yang tidak penting menurutnya.


"By, kenapa hidung kamu begitu mancung?" Telunjuknya menoel hidung mancung Riko. "Punya ku tidak ada seperempatnya." Ucapnya lagi dengan menyentuh hidungnya.


"Dan ini." Tangannya menyentuh alis Riko. "Punyaku aja kalah."


"Ck. kami bawel sayang." Riko menarik tangan Rere yang berada di dada bidangnya, membuat Rere menubruk dada bidangnya.


"By.."


"Hm.." Riko berdehem.


"Boleh aku katakan sesuatu?" Ucapnya menatap lekat wajah Riko.


"Katakan.."

__ADS_1


Riko senantiasa menatap wajah cantik Rere, jantungnya selalu berdebar ketika jarak keduanya intens seperti ini.


Rere yang merasakan sesuatu menusuk perutnya dengan sekejap otaknya traveling.


"Kamu mau bicara apa?" Tanya Riko yang melihat Rere hanya diam saja.


"Em..Boleh aku menyentuh sesuatu?"


"Hm.."


Tangan Rere merayap di atas dada bidang Riko, turun hingga menyentuh perut nya.


"Jangan membangunkan macan tidur yank." Ucap Riko memperingati.


"Em..tapi ini sudah bangun." Ucap Rere menatap Riko dengan pandangan sulit diartikan.


"Yank..em." Riko memejamkan matanya.


"Duh, aku lupa?" Ucap Rere yang teringat sesuatu.


Riko membuka matanya ketika tangan Rere terlepas dari miliknya uang sudah On.


"Apa?

__ADS_1


"Bulannya lagi dateng." Rere menggigit bibir bawahnya.


"Ya, tuhan apes naga ajaib ku."


__ADS_2