
Sepulang dari kantor, Michelle langsung pulang ke ke rumah. Badannya terlalu capek dan letih bekerja seharian. Dia parkir kan kendaraan roda empatnya di halaman rumah.
Michelle melangkahkan kaki masuk ke dalam. Di ruang tamu, suaminya sudah duduk menunggu. Michelle menyapa Nathan, dan memberikan senyum manisnya.
"Kamu kok dirumah, Mas? Tumben?" ejeknya. Nathan nampak mengernyitkan alisnya.
"Mau aku dimana, itu terserah aku kan? Apa pedulimu?" ketusnya.
"Oh, ya, sudah kalau begitu!" Michelle hendak pergi ke kamarnya.
"Tunggu!" ucapnya tiba-tiba.
"Ada apa, Mas?"
"Siapa pria tadi siang? Apakah selingkuhanmu?" tanyanya.
"Teman," jawabnya singkat.
"Teman? Teman kok mesra banget?" cebiknya, "Kamu tuh masih punya suami! Apakah pantas makan berdua dengan pria lain?" Michelle menatapnya tajam.
"Dasar pria egois!" batin Michelle.
"Kami hanya makan siang saja, tidak lebih!" ujar Michelle.
"Cih! Pintar menasehati orang, tapi diri sendiri melakukan perbuatan zina. Dasar munafik!" tuduh Nathan.
__ADS_1
"Stop, menuduhku seperti itu! Aku bukanlah wanita yang kau tuduhkan. Jangan pernah samakan aku dengan dirimu!" marah Michele.
"Bukankah kenyataannya seperti itu? Kau wanita murahan! Kau wanita munafik!" teriak Nathan.
PLAKKK ....
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi suaminya. Rasa amarah, jengkel dan dongkol menjadi satu. Membelenggu hati dan perasaan, menciptakan emosi yang meluap-luap, namun suatu kekuatan menahannya untuk meluapkan itu semua, hanya air mata yang mengalir begitu saja.
"Jangan pernah menyamakan aku denganmu! Aku bukanlah orang yang munafik. Aku juga bukan wanita murahan. Dia adalah teman sekampung ku. Kami bertemu secara kebetulan!" jelas Michelle, "Dan perlu kau tahu, tuduhan mu kepadaku adalah dosa besar. Kau sudah menuduhku yang tidak-tidak. Tapi, Kau sendiri sebagai seorang suami, perbuatanmu sangatlah menjijikkan. Kau sudah berjanji kepadaku, kalau kau tidak akan menemui Dewi sebelum kita bercerai. Tapi, Apa? Kau langgar janjimu! Disini siapa yang munafik? Hah?" hardik istrinya.
"Aku lelah jika harus menjalani pernikahan seperti ini. Aku minta ceraikan aku!" isaknya dengan deraian air mata.
"Tidak. Aku belum bisa menceraikanmu! Ayahku masih sakit. Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada ayah," ujarnya.
"Kau jangan egois, Mas. Di sini aku yang terluka, aku yang tersakiti. Dan aku tidak mau membiarkan diriku tersakiti lagi! Sudah cukup aku menderita!" geramnya.
"Kalau begitu, turuti semua yang kukatakan! Jangan menemui Dewi lagi, sebelum Kau menceriakan ku!" tegas Michelle.
"Baiklah," jawab Nathan.
"Jika Kau melanggarnya lagi, hari itu juga aku akan pergi meninggalkanmu!" tegas Michelle lagi.
Setelah perdebatannya dengan sang suami selesai, Michelle memutuskan untuk mandi. Dia memilih berendam untuk merilekskan pikirannya, yang sempat emosi. Michelle membuang nafasnya kasar.
"Apa yang harus aku lakukan? Percuma saja aku mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat ini?" gumamnya.
__ADS_1
Selesai mandi, Michelle memakai baju bersih. Hari ini dia memakai daster diatas lutut, bukan ingin memancing sang suami. Kebetulan semua baju kotornya belum sempat ia laundry, terpaksa ia harus memakai daster yang cukup seksi dan menggoda iman.
Dengan memakai daster seperti itu, dia berniat tidak ingin keluar kamar lagi. Michelle ingin langsung beristirahat dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Namun tiba-tiba sebuah ketukan pintu memekik telinga.
Tok ... Tok ... Tok
"Michie?" panggilnya.
"Ada apa, Mas?" sebenarnya dia sangat malas sekedar menatap mata sang suami. Nathan menelan ludahnya sendiri melihat wanita cantik itu berdiri dengan menggunakan daster yang sangat minim.
"Ada apa?" ketusnya. Suara Michelle yang meninggi membuat Nathan terkejut dari lamunan liarnya.
"Aku mau memasak nasi goreng. Bisakah kau membantuku?" pinta Nathan.
"Maaf, Aku capek!" ujarnya.
"Tolong, Michelle. Aku sudah meracik bumbunya, tapi, aku tidak tahu apakah bumbunya benar atau tidak?" ujarnya.
"Kamu kan bisa memesan di aplikasi. Kenapa harus repot-repot sih, Mas?" kesal Michelle.
"Aku ingin sekali memasak sendiri!" jawabnya.
"Astaga, benar-benar merepotkan sekali!" decihnya.
Michelle pun membantu suaminya memasak nasi goreng. Nathan duduk di bangku sambil memperhatikan istrinya berkutat dengan bahan-bahan makanan. Ternyata, saat Michelle sibuk dengan peralatan masak, wajahnya terlihat begitu cantik. Nathan bergumam sendiri mengagumi wajah cantik istrinya.
__ADS_1
to be continued......