
Michelle mendekat ke arah jendela. Tatapannya mengarah ke gerbang rumahnya. Dia berharap sang suami datang, dan menjemputnya.
"Ya Allah, Aku harus bagaimana sekarang?" gumamnya, "Berikanlah hamba petunjuk, Ya Allah!"
"Nak, kamu makan dulu! Sedari siang kamu belum makan!" suruh Umi, melongok kan kepalanya diantara celah pintu.
"Michie belum lapar, Umi," jawab Michie tidak bersemangat.
"Umi tahu kamu sedang sedih. Umi tahu kamu sedang tidak nafsu makan, karena ada yang menggangu pikiranmu. Tapi, kamu harus ingat, Nak. Jaga kesehatanmu! Di depan sana ada masalah yang lebih besar yang harus Kau hadapi. Dan untuk menghadapi sebuah masalah, bukankah kita perlu tenaga ekstra. Dan tenaga diperoleh dengan kamu makan makanan yang sehat, yang bernutrisi dan bervitamin!" tutur Umi berusaha menghibur anaknya.
"Umi. Michelle sangat berdosa sekali jika disini Michelle makan dan tidur enak. Sedangkan suami Michelle di sana tidak ada yang mengurus. Istri macam apa Michelle ini, Umi?" isak Michelle.
"Umi ngerti, Nak. Tapi, kamu harus ingat! Ini adalah ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang terpilih. Dan kamu dan suami kamu adalah salah satunya. Kamu harus sabar, tabah dan kuat, Nak! Umi yakin kamu bisa melewati ini semua!" tutur Umi. Michelle menoleh ke arah uminya, apa yang dikatakan Umi memang benar. Michelle tidak bisa menahan lagi kesedihannya. Michelle berhambur kepelukan sang ibu. Saat ini yang dia butuhkan adalah pelukan hangat dari sang ibu. Orang yang sudah melahirkannya.
Nathan datang ke tempat pengajian Adnan. Hatinya sedang kalut dan gelisah. Pikirannya sedang buntu. Dia belum tahu apa langkah yang harus dia ambil untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Nampak Adnan sedang mengisi pengajian di tempatnya mengaji. Cukup banyak jamaah yang mengikuti pengajian tersebut. Dari kalangan Bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak muda. Mereka sangat antusias mendengarkan Bang Adnan bertausiyah mengisi pengajian.
Selama satu jam akhirnya tausiyah selesai, dan ditutup dengan do'a keselamatan dunia dan akhirat. Kemudian mereka menyalami Ustadz Adnan satu persatu. Meskipun Ustadz Adnan masih muda, namun cara menyampaikan ilmu sangat mengena di hati jama'ahnya. Membuat mereka berbondong-bondong ingin belajar di tempat pengajian ustadz muda tersebut.
Adnan melihat Nathan yang berdiri diantara para jamaahnya. Dia mengulas senyum ke arah Nathan, akhirnya Nathan bisa mengikuti pengajiannya. Setelah semua orang membubarkan diri, barulah Nathan mendekat ke arah Bang Adnan.
"Assalamualaikum?" ucap Nathan memberikan salam.
"Walaikum salam, Saudaraku," sahut Adnan. Mereka saling berjabat tangan, menandakan bahwa silahturahim diantara umat muslim terjalin erat.
"Apa kabar?" tanya Nathan.
"Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?"
"Alhamdulillah, saya juga baik," jawab Nathan.
__ADS_1
"Saya sangat senang, kamu bisa datang kesini. Ini adalah hal yang luar biasa,"
"Alhamdulillah. Saya teringat bahwa hari ini ada pengajian Abang. Dan diluar itu saya juga ada keperluan sama Abang,"
"Oya. Kalau begitu, Ayo kita bicara di dalam!" ajak Adnan.
"Baiklah," sahut Nathan mengekor di belakang ustad itu.
"Silahkan duduk!" Adnan mempersilahkan Nathan duduk di karpet. Mereka memasuki ruangan yang cukup nyaman. Sepertinya ruangan untuk mengaji. Karena terdapat banyak meja lipat disudut ruangan. Dan lemari besar yang berisi buku iqro dan kitab-kitab.
"Mau minum apa?" tanya Adnan.
"Tidak usah repot-repot, Bang. Saya cuma sebentar disini!"
"Yakin?"
"Iya, Bang," sahut Nathan.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya Adnan melihat raut muka Nathan yang nampak gelisah.
"Jika memang Saya bisa, Insyaallah Saya akan membantu. Sekarang ceritakan, ada apa?"
"Begini, Bang. Setelah Saya pulang dari tempat Abang. Ternyata di rumah, Saya kedatangan dua orang tamu. Dan mereka adalah Abah dan Kakak sepupu Michie. Keluarga besar Michie menyalahkan Saya sebagai akar dari permasalahan. Saya memang mengakui, bahwa Saya bersalah karena sudah berselingkuh dengan Dewi, yang tidak lain adalah sepupu Michie sendiri, dan adik dari Faiz. Saya sangat menyesal, Bang," terang Nathan, "Namun diluar itu semua, keluarga besar Michie juga menyalahkan Saya, bahwa Sayalah yang menularkan penyakit tersebut. Saya bingung harus melakukan apa, Bang?" tanya Nathan. Adnan tersenyum manis, dia berusaha mengambil nafas panjang dan menghembuskannya ke udara.
"Apakah kamu akan menyerah begitu saja?" tanya Adnan.
"Maksud, Abang?" Nathan nampak mengerutkan keningnya.
"Apakah keluarga Nathan tahu bukan Kamu yang menularkan penyakit itu?"
"Saya sudah berusaha menjelaskan, tapi, tidak ada satupun yang percaya. Mereka lebih percaya dengan omongan Dewi. Bahkan Ayah mertua Saya, menyuruh mengurus perceraian kami. Saya benar-benar tidak tahu, apa yang harus saya lakukan? Saya bingung, Bang!" sedih Nathan dengan penuh penyesalan, "Hanya surat dari RS, satu-satunya bukti yang Saya punya, Bang!"
"Kalau begitu serahkan saja bukti itu!"
"Apakah mereka akan percaya, Bang?"
"Insyaallah. Semoga hati mereka dibuka seluas-luasnya. Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui!"
__ADS_1
"Baiklah, Bang. Besok Saya akan ke Bogor. Saya akan memberikan surat ini sebagai bukti,"
"Iya. Saya akan mendoakanmu, Semoga jalanmu dipermudah!"
"Amin," sahut Nathan.
Dewi dan ayahnya melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah Michelle. Menyapa Abah dan Umi dengan ramah. Mereka menyambut kedatangan mereka dengan bahagia.
"Silahkan, Kang. Duduklah!" ucap Abah mempersilahkan Kartono dan Dewi duduk.
"Bagaimana keadaanmu, Wi?" tanya Abah kepada Dewi.
"Begini lah, Paman. Untunglah berkat uang dari Paman, Dewi bisa membeli obat-obatan yang wajib Dewi konsumsi untuk bertahan hidup," jawabnya.
"Alhamdulillah,"
"Dimana Michie? Boleh Dewi menemuinya?" Abah dan Umi saling berpandangan, "Dewi cuma mau meminta maaf," ujarnya kemudian.
"Michie ada di kamarnya," jawab Abah. Umi membulatkan matanya. Bukannya Umi tidak suka, cuman, melihat keadaan putrinya yang belum baik, Umi jadi khawatir.
"Baiklah, Dewi ke kamar Michie sebentar," ucap Dewi seraya beranjak dari tempat duduknya, dan memasuki rumah. Umi tidak bisa melarang. Pasti Kartono akan bertanya macam-macam. Umi pun mengurungkan niatnya untuk melarang Dewi.
"Hei, Michie?" tiba-tiba Dewi memasuki kamar Michelle tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Dewi," kaget Michelle. Michelle melihat penampilan sepupunya berubah. Sekarang dia mengenakan hijab, dan berpakaian tertutup. Michelle sangat bahagia melihatnya.
"Kaukah itu, Wi. Kamu cantik sekali," puji Michelle.
"Tidak perlu memujiku. Aku terpaksa memakai pakaian panas ini!" ketus Dewi.
"Astaghfirullah, Wi. Tapi kamu sangat cantik dengan pakaian seperti itu,"
"Sudahlah, Michie. Kau tidak usah memujiku!" marah Dewi. Kemudian dia tersenyum bahagia.
"Aku senang bisa melihatmu lagi sepupuku. Akhirnya Kau kembali kesini!" gelaknya. Seketika, Michelle ingat dengan masalahnya dengan Dewi.
to be continued ...
__ADS_1