Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 36 : Bertemu Ayah dan Ibu


__ADS_3

Hari Minggu, waktunya Michelle menghabiskan waktu dengan sang suami. Rencananya Michelle ingin mempertemukan Nathan dengan Byan.


"Sayang, Aku sudah siap!" ucap Nathan.


"Wah, suamiku terlihat sangat tampan!" puji Michelle yang baru keluar kamar mandi.


Nathan mendekat ke arah istrinya yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Dia membantu untuk mengeringkan rambut sang istri dengan hairdryer. Belum memakai bedak saja, Michelle terlihat sangat cantik.


Nathan terkagum-kagum dengan kecantikan alami istrinya, maniknya tidak berhenti untuk menatap ciptaan Sang Illahi dengan rasa syukur. Sungguh cantik dan sangat mempesona. Gumamnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Kamu cantik sekali, Sayang!"


Nathan menarik pinggang sang istri yang ramping, agar lebih mendekat ke arahnya. Michelle membantu merapihkan kerah baju Nathan yang sedikit berantakan.


"Ah, jangan menggombal deh, ini masih pagi!" pipi Michelle berubah memerah.


"Beneran, Sayang. Kamu memang sangat cantik!" godanya lagi.


"Ah, sudah. Mas bikin aku malu!"


"Tapi itu memang kenyataan!"


"Gombal!" manyunnya.


"Ayo, berangkat! Keburu siang! Katanya kita mau mampir ke rumah ayah dan ibu!"


"Baiklah. Ayo kita berangkat!"


Nathan memacukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju Restaurant milik Byan. Jalanan yang lumayan macet, membuat kedatangan mereka agak terlambat. Byan sudah menunggu mereka di Restaurantnya.


Sepuluh menit kemudian, dua orang yang sedang ditunggu akhirnya datang juga. Michelle dan suaminya meminta maaf atas keterlambatannya kali ini.


"Bang, Maaf ya. Kami terlambat. Jalanan macet banget!" ucap Michelle merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Nyantai saja!" jawab Byan. Byan menoleh ke arah pria disamping Michelle.


"Abang masih ingatkan. Ini suamiku. namanya Nathan," ucap Michelle memperkenalkan mereka lagi. Mereka memang pernah bertemu di taman. Tapi, saat itu kondisinya tidak memungkinkan untuk mengobrol hangat.


"Febyan. Panggil saja Byan," ucap Byan memperkenalkan dirinya.


"Nathan," sahut Nathan menjabat tangan Fabyan.


"Silahkan duduk!" Byan mempersilahkan kedua tamunya duduk, "Mau minum apa?" tanya Byan.


"Terserah saja," jawab Nathan.


"Mba?" panggil Byan kepada salah satu pelayan.


"Iya, Pak,"

__ADS_1


"Dua kopi cappucino, dan jus alpukat untuk wanita cantik ini!" ucap Byan. Nathan sedikit terhenyak.


"Bagaimana dia tahu minuman kesukaan istrinya?"


"Bang Byan masih ingat saja apa kesukaanku," ucap istrinya tergelak.


"Tentu saja tahu. Sejak kecil kau paling suka dengan jus Alpukat dengan susu coklat. Kemudian di atasnya ditaburi kacang almond yang gurih. Ehm, rasanya enak banget!" ucap Byan menggoda Michelle, membuat Nathan sedikit tidak suka.


"Iya, itu memang enak banget, Bang," jawabnya, "Mas, lain kali aku buatkan untukmu ya!" tawar Michelle. Nathan hanya mengangguk pelan, dengan tersenyum simpul.


"Aku nggak habis pikir. Bagaimana mereka bisa seakrab itu?" batin Nathan bergejolak.



"Oya, Elle. Kau ingat tidak, saat kita masih duduk di Sekolah Dasar. Kau paling suka dengan jajanan pedagang kaki lima. Apa itu namanya?"


"Arumanis rambut nenek," ucap mereka serentak. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. Nathan hanya menjadi pendengar yang baik.


"Ehm .. Ehm!" Nathan berdehem. Mata mereka saling berpandangan. Michelle bisa melihat ada rasa tidak suka di mata sang suami.


"Oya, Bang, begini. Kedatangan kami kemari, kami ingin bertanya tentang tempat yang strategis untuk membuka cafe. Apakah Abang punya pandangan?"


"Ehm, Ada. Letaknya di pusat kota. Punya teman aku mau di jual. Tapi, dulu itu toko roti. Tapi, jika kalian membuka Cafe di sana. Aku rasa bagus kok!"


"Benarkah?"


"Iya. Memangnya kalian ingin konsep Cafe seperti apa?"


"Ehm, bagus juga, Mas!" senang Michelle.


"Baiklah. Nanti aku tanya temanku dulu. Kalau ready, aku hubungi kalian berdua,"


"Terimakasih banyak, Bang. Maaf kalau kami sudah merepotkan mu!" ucap Michelle.


"Apaan sih kalian? Sama sekali tidak merepotkan! Aku senang bisa membantu kalian!" ucap Byan.


"Baiklah, Bang Byan. Kami pamit pulang! Nanti kalau sudah ada kabar, Abang bisa menghubungi nomorku," ucap Nathan dengan menyerahkan kartu pengenalnya.


"Baiklah, Bro. Tenang saja. Nanti aku hubungi kamu!"


Setelah pertemuannya dengan Byan selesai, mereka berencana ingin mampir ke rumah Ayah dan ibu. Di sepanjang perjalanan Nathan hanya diam tanpa mengatakan apa-apa.


"Mas, nanti mampir ke toko kue ya!" ucap Michelle membuka percakapan. Namun suaminya hanya diam saja. Tidak menyahutnya.


"Mas?" Michelle menggoyangkan tubuh suaminya.


"Eh, iya, Sayang. Maaf aku lagi fokus menyetir," ujarnya.


"Oya, Sayang. Sepertinya kamu dan Byan sangat akrab. Dia juga memanggil kamu dengan panggilan Elle. Apakah dulu kalian punya hubungan?" tanya Nathan.


"Bu-kan," gelak Michelle, "Bukan seperti itu, Mas. Bang Byan adalah teman aku waktu kecil. Temen satu kampung. Kakak kelas aku juga. Usia kami terpaut tiga tahun. Kami sering bermain bersama. Bukan hanya Bang Byan saja teman-temanku di kampung. Ada Nunik, Ridwan, Melanie dan masih banyak lagi. Dan kebetulan yang merantau ke kota ini, ya, kami berdua. Yang lain tinggal di kampung dan menikah di sana," tutur istrinya.

__ADS_1


"Oh, begitu. Lalu kenapa Byan memanggilmu Elle?" tanya Nathan lagi masih belum puas dengan jawaban istrinya.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Hanya dia yang memanggilku seperti itu," gelaknya, "Kamu cemburu, Mas?"


"Tidak. Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka kau terlalu dekat dengan pria lain," ujarnya.


"Itu namanya cemburu," kekeh Michelle.


"Masa sih?"


"Mas, Kita mampir beli kue dulu!" pinta Michelle. Nathan berhenti disebuah toko roti. Nathan menemani istrinya berbelanja roti dan kue. Setelah selesai berbelanja dan membayar di kasir, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Ibu dan Ayah.


Mobil mereka sampai di halaman rumah. Mba Retno yang baru saja dari warung dan melihat kedatangan mereka, dia berlari dan menyambut adik dan adik iparnya dengan rasa suka cita.


"Nathan, Michelle!" panggil Mba Retno.


"Mba?"


"Aduh senengnya kalian datang. Ibu dan ayah pasti seneng banget," ucap Mba Retno, "Ayo masuk!"


"Ini ada kue, Mba!"


"Wah, kok repot-repot sih!" ucap Mba Retno.


"Cuma kue kok, Mba!"


"Ayah! Ibu! Ini ada tamu!" ujarnya.


"Siapa, Ret?"


"Lihat nih siapa yang datang!"


"Ayah, Ibu?" Michelle menyalami punggung tangan mertuanya.


"Michie, Kamu sehat, Nak?"


"Alhamdulillah, Yah!"


"Bagaimana keadaan Ayah?"


"Ayah juga sehat. Ini berkat doa kamu, Nak!" ucap Bara. Dia menoleh ke arah samping menantunya. Dia melihat putranya yang sangat Ia rindukan.


"Ayah?" Nathan menyalami punggung tangan yang keriput itu.


"Nathan!" Bara memeluk putranya. Pelukan kerinduan, "Kenapa Kau baru menjenguk ayah? Apakah kau sudah tidak perduli dengan ayahmu yang sudah tua ini? Hah?" isak Bara seraya menepuk-nepuk punggung putranya.


"Maafkan Nathan, Yah. Nathan bersalah! Nathan anak yang durhaka," isaknya.


"Ayah sudah memaafkan mu, Nak. Tolong jangan begini lagi. Wajar kan kalau seorang Ayah itu marah kepada anaknya?"


to be continued ....

__ADS_1


__ADS_2