Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 70 : Doa dari Abah


__ADS_3

Mendengar ada tamu dari Bogor yang datang. Ingin rasanya Nathan cepat-cepat pulang. Setelah cafe tutup, Nathan langsung buru-buru untuk pulang. Sedangkan Mba Retno masih di cafe. Masih ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.


Nathan mampir dulu ke supermarket. Membeli makanan dan minuman untuk orang rumah. Dan sepertinya, susu hamil istrinya juga sudah habis. Tidak lupa dia membeli buah-buahan segar.


Sampai di rumah, Nathan langsung menyalami kedua mertuanya. Sekaligus menyapa kakak iparnya. Dia tidak menyangka akan kedatangan Abah dan Umi ke rumahnya


"Bagaimana kabar kamu, Nath?"


"Alhamdulillah baik, Bah. Abah dan Umi bagaimana? Sehat kan?"


"Alhamdulillah kami sehat."


"Saya mandi dulu ya, Bah. Nanti kita ngobrol!" ujarnya seraya menyerahkan semua barang-barang belanjaan ke sang istri.


"Aku mandi dulu, Sayang!"


"Iya, Mas."


Michelle menata barang-barang belanjaan yang dibawa sang suami. Ada susu juga.


Sementara menunggu suaminya mandi, Michelle menyiapkan baju ganti untuk suaminya di atas tempat tidur. Dan memunguti pakaian kotor yang tergeletak begitu saja disembarang tempat.


"Sayang, jam berapa Abah datang?" tanya Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tadi sore. Jam empat kalau nggak salah!"


"Kok nggak kasih kabar Mas?"

__ADS_1


"Mas kan lagi kerja, Aku nggak mau mengganggu, Mas!"


"Ih, Sayang. Ini kan Abah, jadi kamu harus memberitahuku lebih dulu! Kan aku jadi nggak enak sama Abah!"


"Iya, Maafkan aku Mas! Habisnya karena aku begitu kangen sama Abah dan Umi, Aku jadi lupa memberitahu Mas!" gelaknya.


"Ish, Kau ini!" Nathan menoel hidung mancung istrinya.


Setelah selesai mandi dan sholat isya, barulah sang suami ngobrol banyak dengan mertua. Sementara istrinya asyik mengobrol dengan Umi dan Teh Siti dikamar atas.


"Nath, Bagaimana perkembangan usaha kamu?"


"Alhamdulillah, Bah. Berkat doa Abah dan Umi, Nathan berhasil membangun Cafe. Semoga cafe tersebut banyak pelanggan dan tambah maju!"


"Amin. Bagus kalau begitu! Abah senang mendengarnya!"


Abah menghela nafasnya panjang.


"Tentu Kartono masih belum bisa menerimamu, Nath! Pakde itu orangnya keras kepala. Jika sudah memiliki keinginan, maka tidak bisa diganggu gugat! Tapi, Kamu tidak perlu khawatir. Dia hanya mendiamkan Abah saja. Paling kalau butuh uang, dia akan kembali ngomong sama Abah!"


"Maafkan Nathan, Bah. Semua adalah kesalahan Nathan. Semua masalah ini awalnya dari Nathan!"


"Sudahlah, Nath. Yang penting kamu itu mau berubah dan mengakui kesalahan kamu. Yang namanya manusia itu pasti punya salah. Seorang yang berilmu pun pasti punya kesalahan. Apalagi kita yang manusia biasa! Namun pesan Abah, Jadilah suami yang baik untuk Michelle dan Ayah yang baik untuk calon anak kalian. Bekali anak-anak kalian dengan ilmu agama dan perbuatan-perbuatan baik kedua orangtuanya. Insyaallah, anak-anak kalian menjadi anak yang Sholeh dan Solehah!"


"Amin, Bah. Amin! Nathan juga berharap seperti itu. Masa lalu Nathan adalah sebuah pembelajaran yang sangat bermanfaat. Pengalaman yang menjadikan Nathan menjadi manusia yang lebih baik lagi!"


"Bagus. Abah suka dengan semangat mu!"

__ADS_1


"Oya, Kata Michelle, rumah kalian dijual. Rencananya apa kalian akan terus tinggal disini?"


"Nggak, Bah. Nathan berencana ingin membuat rumah ditanah milik Ayah. Cuman, Nathan masih menabung, Bah!"


"Nath, ini untukmu!" Abah menyodorkan sebuah ATM ke meja.


"Apa ini, Bah?"


"Ini untukmu dan Michelle. Ini adalah tabungan Abah dan Umi untuk kalian!"


"Ah, Nggak usah, Bah! Abah simpan saja untuk hari tua Abah dan Umi!" tolak Nathan.


"Nathan, terimalah semua ini. Hanya ini yang bisa Abah berikan. Selama ini, penghasilan perkebunan dan sawah. Keluarga Pakde yang selalu menikmatinya. Secara diam-diam, Abah menyimpan untuk kalian, Siti dan Ratna!"


"Tapi, Bah. Nathan benar-benar masih belum membutuhkannya. Biarlah ini jadi tabungan Abah dan Umi!"


"Nathan, Tolong terima ini! Jangan menolak, atau Abah akan marah! Abah sangat menyayangi kalian semua. Sebentar lagi, Kamu akan butuh biaya banyak untuk kelahiran Michelle. Dan kalian nggak mungkin akan terus tinggal di rumah orang tua kamu kan?"


"Iya, Bah!"


"Tolong jangan menolaknya!"


"Terimakasih banyak, Bah! Terimakasih!" berkali-kali Nathan mencium punggung tangan pria renta itu.


Terharu, sudah pasti Nathan sangat terharu. Nathan bersyukur, Allah membolak-balikkan hati manusia. Dulu, Abah menentang dirinya kembali ke pelukan sang istri. Sekarang Abah menjadi sosok orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya.


..."Ya Allah, terimakasih atas hidayah yang Kau berikan kepada Abah. Engkau sudah membuka mata hati Abah. Semoga beliau diberikan kesehatan sampai cucu-cucunya lahir, Ya Rabb. Maha Pelindung dan Maha Kuasa. Amin."...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2