
Michelle sedikit terperanjat, "Mas pakai baju siapa?" tanya Michelle.
"Oh, ini. Ini bajunya Pak Burhan. Dan Pak Burhan itu ayahnya Indah!" jawab Nathan.
"Apa?"
Sejak kapan mereka akrab?
Kenapa aku merasa hubungan Mas Nathan dengan Indah bukan hanya sekedar teman kuliah saja! Apakah dulu mereka memliki hubungan spesial?
Sepertinya ayah Indah sangat mengenal Mas Nathan!
"Sayang, Aku mau mandi!"
Ucapan Mas Nathan membuat lamunan Michelle buyar, "Eh, iya, Aku siapkan handuk dan baju!" ucap Michelle menggelayut manja. Nathan tersenyum melihat istrinya manja.
"Mandilah!" suruh istrinya, "Aku akan panaskan makan malamnya!"
"Eh, tunggu, Sayang! Tadi aku sudah makan di rumahnya Indah. Pak Burhan yang memaksa!" ujarnya.
DEGH ...
"Apa?" kecewa, itulah yang sedang dirasakan Michelle. Namun dia hanya diam.
Setelah menyiapkan baju untuk suaminya, dia menutup makanan yang sudah tersaji di meja makan dengan tudung saji, tanpa menyentuhnya.
Michelle pun memilih langsung tidur di kamar buah hatinya.
____
____
Nathan keluar dari kamar mandi, dia tidak mendapati istrinya di kamar. Ia pun mencari keberadaan sang istri di dapur. Namun di dapur Michelle juga tidak ada.
Nathan mendekati meja makan. Dia membuka tudung saji. Makanan yang istrinya masak tidak tersentuh sama sekali, dan itu pertanda bahwa sang istri juga belum makan malam.
"Michie!" panggilnya.
Nathan melangkahkan kakinya menuju kamar Agam. Kamar Agam persis disebelah kamarnya. Nathan hendak masuk ke kamar itu, tapi sepertinya sang istri menguncinya dari dalam.
Tok ... Tok ... Tok
"Sayang!" panggilnya.
Tidak ada sahutan. Dia pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Karena di dalam kamar, ada pintu penghubung antara kamar anaknya dengan kamarnya sendiri.
Nathan sengaja membuat pintu penghubung itu supaya memudahkan sang istri mengurus buah hatinya.
"Untunglah pintu yang ini tidak dikunci!" Nathan membuka pintu dengan perlahan.
Dia melihat sang istri tidur bersama sang buah hati di tempat tidur ukuran big size. Biasanya Agam tidur di box-nya. Tapi kali ini, Michelle sengaja membawa Agam ke kasur.
__ADS_1
Nathan memanggil Michelle dengan lembut. Namun yang dipanggil tidak bergeming.
"Sayang, Ayo bangun! Pindah yuk!" ajak Nathan, "Duh, gawat Michelle ngambek nih!"
"Sayang!" tetap tidak ada sahutan dari istrinya, "Sayang, yuk pindah! Aku nggak bisa tidur sendirian!" Michelle sepertinya sudah tidur pulas. Akhirnya Nathan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Terpaksa hari ini dia tidur sendirian di kamar.
_____
_____
Hampir pukul 1 dini hari, Nathan masih saja terjaga. Dia tidak bisa memejamkan matanya walau sebentar.
Biasanya dia akan mudah tertidur kalau sudah medekap tubuh sang istri. Tapi kali ini, hanya untuk terpejam saja rasanya sangat susah sekali.
Dia pun terjaga hingga pukul 3 pagi.
Adzan subuh berkumandang, Michelle beranjak dari tidurnya. Dia menoleh ke arah samping, Agam masih tertidur pulas. Sebelum turun dari tempat tidur, ia sempatkan mencium buah hatinya.
Michelle melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan langsung mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat subuh.
Sehabis sholat, ia membaca Alquran untuk menenangkan hatinya. Karena memang tadi malam Ia sedikit jengkel dengan sikap sang suami.
Wanita mana yang tidak marah, kalau suaminya makan di tempat lain, padahal Ia sudah capek-capek memasak, tapi tidak secuil pun masakan kita dilirik oleh sang suami. Hati Michelle benar-benar dongkol akibat ulah sang suami.
Nathan mengerjapkan mata, saat sayup-sayup dia mendengar suara seseorang mengaji dengan khusyuk. Dia pun beranjak dari tempat tidur langsung ke kamar putranya.
Dia melihat sang istri sedang mengaji. Suaranya sangat merdu dan mendayu-dayu. Siapapun yang mendengar rasanya sangat adem dihati.
Selesai sholat subuh, dia bergegas mencari sang istri. Ternyata sang istri sedang ngobrol dengan Mbok Yem. Perempuan tua itu sangat rajin, pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah untuk bersih-bersih dan membantu Michelle di dapur.
Nathan mendekat ke arah mereka. Kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang. Sontak Michelle terkejut dengan perlakuan manis dari suaminya. Apalagi di depan Mbok Yem. Tersipu lah raut muka istrinya.
"Mas, Lepaskan! Apa kamu nggak malu sama Mbok Yem!" omel Michelle. Sementara Mbok Yem hanya terkekeh geli.
"Kenapa harus malu? Toh kita pasangan halal! Iya kan Mbok Yem?"
"Iya, Tuan!" Mbok Yem menahan tawanya.
"Kamu sedang masak apa sih? Baunya wangi banget!" ujarnya.
"Hem, Aku sedang bikin nasi kebuli! Aku mau coba resep baru dari Umi!" ketusnya. Michelle memang sedang mode marah.
Melihat keromantisan kedua majikannya, membuat Mbok Yem harus pergi dari sana.
"Sayang, Aku minta maaf! Bukannya aku nggak mau makan masakan kamu! Tapi aku memang sudah kenyang!" ujar suaminya.
"Iya, sudah. Kamu makan saja diluar! Aku nggak akan masak lagi!" ketus Michelle.
"Sayang, Aku minta maaf! Aku tahu, aku salah! Aku janji, aku tidak akan makan ditempat orang!" jawab Nathan.
"Sebenarnya dulu Mas dan Mba Indah itu ada hubungan apa? Kok aku merasa kalian bukan hanya sebatas teman?"
__ADS_1
Nathan tersenyum dan menatap manik istrinya lekat, "Aku akan jujur sama kamu! Bukankah aku sudah berjanji akan berbicara sejujurnya dengan kamu?"
"Kalau begitu, bicaralah!"
"Dulu, Indah itu mantan kekasihku. Tapi itu saat kuliah! Sebelum aku mengenal Dewi dan kamu!" jelasnya, "Hubungan kami hanya beberapa bulan saja. Dia mutusin aku gara-gara dia deket sama teman kampusku juga. Namanya Kevin."
"Lalu?" Michelle penasaran. Dia mendengarkan cerita suaminya dengan antusias.
"Kevin itu anak seorang pengusaha. Sementara aku hanya anak dari buruh serabutan." jawabnya, "Tentu dia lebih memilih pria kaya dibanding dengan anak orang miskin sepertiku!" kekeh Nathan.
"Hubunganku dengan keluarga Indah cukuplah baik. Tapi semenjak aku putus dengannya, aku sudah tidak pernah datang ke rumahnya!" jelas Nathan panjang lebar.
"Oh, jadi Indah itu mantan kamu, Mas!"
"He'em!" Nathan menoleh ke arah istrinya, dan mengunci manik itu, "Tapi kamu harus percaya. Aku hanya cinta sama kamu. Aku hanya sayang sama kamu. Hubunganku dengan Indah cuma masa lalu. Aku sudah lama melupakannya. Aku hanya prihatin melihat nasibnya sekarang. Itu saja!"
"Hhhhhhh, baiklah! Aku percaya sama kamu, Mas! Jangan pernah mengkhianati kepercayaan aku!"
"Iya nggak lah, Sayang! Kamu dan Agam adalah anugerah terindah yang diberikan Allah untukku! Aku sangat menyayangi kalian!"
Michelle lega. Akhirnya semua pertanyaan dan rasa dongkolnya terjawab sudah. Berkali-kali dia mengucapkan rasa syukur kepada Allah, karena menjaga hati sang suami hanya untuk dirinya.
Nathan hendak mencium bibir sang istri, lalu Michelle mendorongnya saat mendengar Agam menangis.
"Mas, Agam sudah bangun!" Michelle berlari ke arah kamar. Nathan menyusul dibelakangnya.
"Cup, Cup, anak Bunda!" Michelle langsung membopong bocah menggemaskan itu.
"Anak ayah juga!" sambung sang suami tidak mau kalah. Michelle hanya terkekeh geli melihat sang suami tidak mau mengalah.
"Mas, pempers Agam penuh. Makanya dia menangis terus!"
"Oh, Sini biar ayah ganti!" Nathan mengambil alih tugas istrinya.
"Kamu nggak jijik, Mas?"
"Iya, Nggaklah. Kan dia anakku!"
Michelle tergelak.
"Iya udah. Aku siapin air buat mandi Agam ya, Mas!"
"He'em! Cepatlah, Sayang! Ni pipis Agam bau banget!" Nathan menutupi hidungnya. Karena dia mencium aroma yang tidak sedap pada putranya.
"Itu bukan pipis, Mas! Tapi dia lagi BAB!" gelak Michelle.
"Pantas saja!" ujar suaminya terkekeh. Sementara Agam anteng banget saat dibersihkan deapers nya.
To be continued ...
Bantu Like....🙏🙏
__ADS_1