Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 31 : Mencari Pekerjaan


__ADS_3

Matahari tampak sudah muncul di ufuk timur, cahayanya yang keemasan masuk ke dalam sela-sela jendela kamar pasangan suami istri itu. Michelle mengerjapkan mata. Perlahan matanya membuka dengan sempurna.


Wanita berparas cantik itu, menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang. Dia mengulas senyum, saat mengingat kejadian tadi malam. Kejadian yang membuatnya begitu bahagia dan bersemangat.


Mereka memang bukanlah pengantin baru lagi. Namun, sikap Nathan memperlakukan Michelle seperti pengantin baru saja. Dari caranya mencumbu, caranya membelai, caranya merayu, dan caranya bermain diatas ranjang. Semuanya terasa sangat indah. Seketika pipinya memerah mengingat kejadian itu.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Nathan. Membuat Michelle terlonjak kaget. Lamunannya buyar seketika.


"Ti-tidak. Aku sedang tidak tersenyum," lirihnya.


"Apakah kau sedang mengingat kejadian semalam?" tanya Nathan blak-blakan. Tentu saja membuat Michelle tersipu malu.


"Ck, tidak," ujarnya, sambil beranjak dari tempat tidur. Nathan terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan istrinya.


"Tunggu!" Nathan menarik tengan Michelle, hingga tubuh Michelle terjerembab jatuh kepangkuan sang suami.


"Mas, aku mau mandi! Tubuhku lengket, Mas!" ujarnya.


"Bagaimana kalau kita mandi bareng?"


"Nggak!" tolak istrinya.


"Kenapa?"


"Kalau kita mandi bareng, pasti akan lama. Dan di dalam, belum tentu Mas cuma mau mandi. Pasti ujung-ujungnya minta yang lain!" gerutu Michelle. Membuat Nathan semakin terkekeh.


"Kita gantian mandi, Okey!" ucap Michelle sambil berlari dan menyambar handuk digantungan baju.

__ADS_1


"Sayang, kok gitu sih?" Nathan menyusul istrinya ke kamar mandi.


"Sayang, buka pintunya?" Nathan mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.


"Aku mandi dulu, Mas. Nanti gantian kamu,"


"Aku ingin mandi bareng,"


"Nggak mau! Kalau mandi bareng, tangan kamu nggak bisa dikondisikan," kekeh Michelle dari dalam kamar mandi.


Sambil menunggu suaminya mandi. Michelle membuat sarapan. Hari ini dia membuat sandwich untuk sarapan pagi. Michelle menatanya dimeja makan.


Nathan sudah siap dengan kemeja panjang warna biru muda dan celana panjang warna hitam. Suaminya terlihat sangat tampan memakai pakaian tersebut. Di dalam hati, Michelle mengagumi ketampanan sang suami. Sambil membenarkan letak kancing kemejanya, dia mengulas senyum yang sangat manis.


"Selesai,"


"Terimakasih banyak, Sayang," ucapnya sangat mesra.


Hari ini Nathan berencana untuk mencari pekerjaan. Dia tidak mau berdiam diri terus di rumah mengandalkan gaji sang istri. Menurutnya itu adalah salah.


"Sayang, kamu masak apa?" tanya suaminya.


"Ini aku bikin sandwich, Mas. Ayo sarapan!" ajak Michelle.


"Ayo,"


Nathan menikmati sandwich buatan istrinya dengan lahap. Memang perutnya terasa sangat lapar. Dalam sekejap dia menghabiskan dua sandwich. Michelle tersenyum senang. Tidak sia-sia dia memasak hari ini.

__ADS_1


"Enak, Mas?" tanya Michelle.


"Iya, Sayang. Makanan buatan kamu nggak ada duanya," puji Nathan. Michelle mengulas senyum bahagia.


"Oya, Mas jadi mencari pekerjaan?"


"Iya, dong, Sayang. Mas harus mencari pekerjaan. Kan untuk menafkahi kamu?"


"Mau aku bantu?" tawar Michelle.


"Tidak usah, Sayang. Aku coba cari pekerjaan sendiri ya!" ujarnya, "Tapi, nanti kalau aku butuh bantuan kamu, aku akan mengatakannya,"


"Beneran ya?"


"Insya Allah,"


"Kalau begitu pakai saja mobil aku!"


"Tidak usah, Sayang. Aku naik taksi saja!" jawabnya, "Aku tahu pekerjaan sekertaris juga membutuhkan kendaraan. Karena bagaimanapun, seorang sekretaris pasti akan mengikuti kemanapun bos-nya bekerja,"


"Iya, sudah kalau begitu,"


Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka pun berpisah. Michelle kembali bekerja ke Perusahaan tempatnya mencari rezeki. Sedangkan suaminya berencana untuk mencari pekerjaan.


Dari Perusahaan satu ke Perusahaan lain, tidak ada yang menerimanya sebagai karyawan. Karena memang belum ada lowongan pekerjaan di Perusahaan tersebut. Perjuangan Nathan tidak sampai disitu saja. Dia masih berkeliling, dan mencoba menghubungi teman-teman untuk menanyakan lowongan.


Hasilnya masih tetap nihil. Hingga siang hari, Nathan masih belum mendapatkan pekerjaan. Dia beristirahat sejenak di masjid, sambil menunggu waktu dhuhur tiba.

__ADS_1


Di dalam sujudnya, dia memasrahkan semuanya kepada sang Ilahi. Dia juga memohon ampun atas semua kesalahan dan dosanya selama ini. Dia sangat beruntung, Allah memberikan kesempatan kedua menjadi lebih baik.


to be continued ...


__ADS_2