
..."Cinta terdiri dari satu jiwa yang menghuni dua tubuh” - Bola Lucille....
...“Hal terbaik untuk dipegang dalam hidup adalah satu sama lain” - Audrey Hepburn....
...“Hanya ada satu kebahagiaan dalam hidup ini, mencintai dan dicintai”- George Sand....
...“Hidup adalah bunga dimana cinta adalah madunya” - Victor Hugo....
🍀🍀🍀🍀🍀
Michelle melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Tidak ada mobil suaminya, pastilah suaminya belum pulang.
"Kemana dia?" gumamnya sendiri, "Tau ah, aku mau mandi dan bersih-bersih. Badanku terasa sangat gerah dan lengket!"ucapnya kepada dirinya sendiri.
Michelle menyambar handuk yang terpasang di depan kamar mandi. Dia masuk ke kamar mandi dan berendam sebentar. Berendam di air benar-benar sudah melepaskan segala kepenatan badannya.
Selesai mandi, Michelle mengenakan baju terusan selutut. Bahannya terbuat dari kain katun motif bunga, yang sangat adem dan nyaman saat dipakai di rumah. Michelle duduk di depan meja riasnya. Berdandan ala kadarnya saja, sudah membuat wajahnya terlihat ayu.
TRING ....
Ada notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Michelle membuka kotak masuk itu, banyak sekali pesan yang belum ia baca. Salah satunya dari ayah dan ibu dikampung. Dari bosnya yang menanyakan berkas kemarin. Dan yang terakhir dari Tasya.
Dia membuka pesan dari Tasya. Sepertinya Tasya mengirimkan foto atau apa, entahlah buram. Michelle pun mengklik gambar itu.
Michelle terkejut setelah menatap foto di ponselnya. Di foto tersebut terlihat wajah suaminya dan seorang wanita. Dan sepertinya Michelle tahu betul siapa wanita tersebut. Ia perbesar gambarnya. Dan ternyata memang itu adalah Dewi dan Mas Nathan yang sedang memasuki sebuah lkamar.
__ADS_1
Dia kembali kecewa karena Nathan tidak bisa menepati janjinya. Michelle langsung mendial nomor sahabatnya untuk memastikan foto tersebut.
"Assalamu'alaikum, Sya?"
"Walaikumsalam,"
"Sya, Apa maksudnya foto itu?" tanya Michelle.
"Gue lihat, Nathan sama Dewi masuk ke kamar hotel," jawabnya, "Sekarang gue lagi ngikutin mereka, dan mereka masuk ke kamar 277," imbuh Tasya lagi.
Sakit, itu yang Michelle rasakan saat ini. Berkali-kali dikhianati dan diingkari, tapi, dia tidak mampu melakukan apapun. Dia hanya bisa menangis di kamarnya. Lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Assalamualaikum?" sapa Nathan dengan salam. Michelle menatap tajam ke arah suaminya.
"Walaikumsalam," jawabnya ketus. Nathan nampak mengernyitkan alisnya.
"Kenapa dia?" batin Nathan.
"Dari mana saja kamu, Mas?" tanya Michelle.
"Seharusnya aku yang bertanya, kamu dari mana?" tanya suaminya sinis.
"Aku bertanya, kenapa justru kamu balik bertanya lagi sih, Mas?"
__ADS_1
"Lho, aku juga ingin tahu kegiatan kamu seharian ini," ujar Nathan, "Aku nggak nyangka, wanita berhijab seperti kamu bisa-bisanya berselingkuh!" tuduh Nathan.
"Apa? Jaga ucapan kamu ya, Mas!" ucap Michelle tidak terima dengan tuduhan suaminya.
"Lalu, Apa namanya? Seorang wanita bersuami pergi dengan pria yang bukan suaminya? Kau pikir aku tidak tahu!" ucap Nathan dengan sorot mata yang menghunus tajam.
"Maksud kamu apa? Hah?" tanya Michelle dengan nada yang agak meninggi.
"Siapa sebenarnya pria yang selalu bersamamu?" bentaknya.
"Maksud kamu Bang Byan?"
"Entah siapa namanya, aku nggak perduli!" ujarnya sangat marah.
"Itu Bang Byan, Mas. Dia temanku satu kampung," jelas Michelle, "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya kepadamu!"
"Hah, Aku nggak perduli!" ketusnya.
"Bang Byan akan membuka Restaurant lagi. Dan dia memintaku untuk mencarikan lahan yang strategis. Dan karena dia temanku satu kampung, jadi, nggak salahnya kan aku menolong!" ucap Michelle.
"Tentu saja salah!" marah Nathan, "Kau masih istriku. Aku belum pernah menceraikanmu. Jadi, kalau Kau pergi aku harus tahu kemana dan dengan siapa Kau pergi!" ujarnya.
"Lalu, Bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Michelle. "Bisa kau jelaskan foto ini?" marah Michelle sambil menunjukkan foto di HP nya. Nathan membulatkan matanya.
to be continued ....
__ADS_1