Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 25 : Kebahagiaan Michelle


__ADS_3

"Assalamualaikum?"


"Walaikumsalam," jawab Mba Retno. Kedua suami istri itu mencium punggung tangan Mba Retno, sebagai orang yang sangat dihormati.


"Lama menunggu, Mba?" tanya Michelle.


"Lumayan, tapi, nggak apa-apa. Sambil menunggu kalian, tadi mba sedikit mengobrol dengan ibu-ibu disini," jawabnya.


"Oh," Michelle ber'oh ria, bibir manisnya mengerucut.


"Bagaimana keadaan kamu, Nath?" tanya Mba Retno. Maniknya beralih menatap suaminya.


"Alhamdulillah, Allah masih sayang sama Nathan, Mba," jawabnya.


"Ayo kita masuk dulu! Kita lanjutkan mengobrol di dalam!" ajak Michelle. Kakak beradik itu mengekor di belakang Michelle.


"Mba, Silahkan duduk!" Michelle mempersilahkan kakak iparnya duduk, "Michelle buatkan teh hangat untuk kalian."


"Jangan repot-repot, Michie," ucap Mba Retno.

__ADS_1


"Nggak kok, Mba. Michie nggak merasa direpotkan," sahutnya sambil berlalu ke dapur.


"Nath, Mba tuh heran sama kamu. Kamu kok bisa-bisanya mengkhianati istrimu. Apa kurangnya Michelle? Dia istri yang cantik, baik, pekerja keras. Dia juga sangat baik kepada keluarga kita.Tapi, kenapa kamu harus mengkhianatinya? Apakah sedikitpun kamu nggak ada rasa kasihan? Sekarang lihat apa yang terjadi padamu?" cecar Mba Retno dengan banyak pertanyaan, membuat Nathan tersudut. Nathan hanya diam, dia bingung harus menjawab apa. Karena memang semua adalah kesalahannya. "Jika Ayah dan Ibu tahu, mereka pasti sangat sedih, Nath. Apakah kamu tidak khawatir dengan kondisi Ayah? Ayah yang sakit-sakitan!"


"Maaf, Mba. Nathan memang salah. Nathan menyesal," ujar Nathan, menundukkan kepala.


"Sudahlah, Mba. Yang lalu biarlah berlalu. Yang terpenting Mas Nathan mau berubah, mau bertaubat," sahut Michelle membawa baki berisi tiga cangkir teh dan cemilan yang tadi ia beli di supermarket.


"Silahkan diminum dulu, Mba!" ucap wanita cantik itu sangat lembut.


"Kau lihat itu, Nath. Bahkan dia membelamu saat Mba menyudutkanmu!" ujarnya tegas.


"Hhhhhhhhh," Mba Retno membuang nafasnya panjang.


"Mba hanya bisa berdoa untuk kebaikan kalian. Semoga setelah ini, rumah tangga kalian sakinah, mawadah dan warahmah," tutur Mba Retno, "Pernikahan yang bahagia adalah bersatunya dua insan manusia yang berbeda jenis yang bersedia saling mengerti, memahami, dan saling memaafkan,"


"Insya Allah, Mba. Doakan kami," ujar Michelle.


"Iyah," ucap mba Retno manggut-manggut, "Mba selalu mendoakan kebaikan kalian. Karena Mba, ayah dan ibu sangat menyayangi kalian berdua," imbuhnya.

__ADS_1


Setelah mengobrol cukup lama, Mba Retno melihat jam dipergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul lima sore, mba Retno harus pulang. Jika terlalu lama di rumah adik iparnya, pasti ayah dan ibu akan memberondong dirinya dengan banyak pertanyaan. Ia pun memutuskan berpamitan kepada adik dan adik iparnya.


"Mba pulang. Nanti besok mba kesini lagi!" ujarnya. Nathan dan istrinya hanya manggut-manggut saja.


"Hati-hati, Mba. Salam buat ayah dan ibu," ucap Michelle. Dijawab anggukkan oleh Mba Retno.


Setelah kepergian Mba Retno, suaminya nampak termenung. Entah apa yang dipikirkannya, Michelle tidak tahu.


"Mas, mau mandi?" pertanyaan Michelle membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya, boleh. Aku mandi dulu. Sebentar lagi waktu Maghrib akan tiba," ujarnya. Michelle mengulas senyum. Sedikit demi sedikit, ada perubahan terhadap suaminya. Michelle merasa sangat bahagia.


Selesai mandi, Nathan sudah memakai baju koko warna putih dan kopiah warna putih yang disiapkan sang istri di tempat tidur. Dia berpamitan kepada istrinya. Hari ini Nathan ingin melaksanakan sholat Maghrib di Masjid. Tentu saja Michelle sangat bahagia.


"Iya, Mas. Michie seneng banget deh mendengar Mas mau sholat lagi. Hati-hati dijalan ya!" Michelle menyalami punggung tangan suaminya dengan takzim.


"Iya, Sayang." begitu pula dengan Nathan, dia mencium kening sang istri dengan penuh cinta.


Sembari menunggu suaminya sholat Maghrib di Masjid, ia juga melakukan hal yang sama di rumah. Michelle mengambil wudhu, yang kemudian ia menggelar sajadahnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.

__ADS_1


to be continued ...


__ADS_2