
"Aku benar-benar kecewa dengan sikap anakmu, Bara! Dan Kau sebagai orang tua, Apakah tidak bisa mendidik putramu dengan benar?" ucap Abah.
"Maafkan Aku, Kang! Ini memang semua kesalahanku. Tapi, Akang bisa lihat. Putraku sudah berubah. Dia sudah bertaubat, Kang!" jawab Bara.
"Tapi, tetap saja anakmu salah! Apalagi Nathan sudah berselingkuh dengan keponakanku sendiri. Dan tidak lain, saudara sepupu Michie. Mau ditaruh dimana mukaku, Bara? Bahkan Aku tidak bisa membela Nathan di depan kakakku sendiri!" ucap Abah yang sudah terlanjur kecewa.
"Jika memang putraku dimata Akang sudah cacat, Apa boleh buat, Aku dan keluarga akan menerima keputusan dari Akang," jawab Bara. "Saya sudah menganggap Michie seperti putri kandungku. Jika memang Michie bahagia berpisah dengan Nathan. Saya sebagai seorang ayah, ikhlas menerima semua ini," isak Bara.
"Iya, itulah yang harus kita lakukan. Kita harus memisahkan mereka berdua," ucap Abah, "Gara-gara masalah ini, keluarga besar Atmaja jadi geger. Mereka semua menyudutkan keluargaku. Dan Aku bingung, siapa yang harus aku bela!" terang Abah.
"Saya mengerti, Kang," jawab Bara.
"Tolong, bujuk Nathan untuk mengurus perceraian!" suruh Abah.
"Baik, Kang. Insya Allah, Saya akan menyampaikannya!" jawab Bara.
"Dari lubuk hati yang paling dalam, Saya minta maaf, Bara. Saya juga sangat menyayangkan ada kejadian seperti ini. Mudah-mudahan dengan adanya kejadian seperti ini, tidak memutuskan tali persahabatan kita!"
"Iya, Kang. Akang tenang saja. Saya sudah menganggap Akang seperti saudara sendiri," ujarnya.
"Terimakasih banyak, Bara!" ucap Abah kepada Pak Bara.
Setelah bertemu dengan Abah, Pak Bara keluar dari ruangan Abah. Nathan dan Michelle menunggu diluar ruangan dengan senyum sumringah.
"Yah, Bagaimana?" tanya Nathan penasaran. Menunggu jawaban dari sang ayah, hasil pertemuannya dengan ayah mertua.
"Tidak apa-apa. Kau tenang saja!" ucap Bara menepuk bahu putranya. Nathan bisa melihat ada sesuatu yang ayahnya sembunyikan.
"Eh, Ayah sudah selesai bertemu dengan Kang Aang?" tanya Menur, ibu Nathan. Ibu, Umi, dan Ratna baru kembali dari kantin RS. Saat Ibu baru datang ke RS, Umi memang mengajak besannya untuk mengobrol santai dikantin. Dan sudah lama juga mereka tidak bertemu dan mengobrol.
"Sudah, Bu," jawab Ayah, "Ayo kita pulang! Ayah lelah, Bu!"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," ujarnya, "Mba, Saya dan Suami pulang dulu. Jika berkenan, mampirlah ke gubuk reyot kami!" gelak Bu Menur.
"Ah, Kamu terlalu merendah! Insyaallah nanti Saya mampir," ujar Umi.
"Baiklah, Kami permisi dulu!"
"Umi, Nathan antar Ayah dan Ibu dulu. Nanti, Nathan kesini lagi!" ucapnya.
"Iya, Nak. Hati-hati mengendarai mobilnya!" tutur Umi.
"Baik,"
"Sayang, Aku antar ayah dan ibu dulu! Nanti Aku kesini lagi!" ucap Nathan, suaminya.
"Iya, Mas. Hati-hati!" jawab istrinya seraya mencium punggung tangan sang suami.
"Apa yang Ayah dan Abah bicarakan?" tanya Nathan membuka percakapan.
"Huft!" Abah membuang nafasnya kasar.
"Abahnya Michie menyuruh Ayah untuk membujukmu," jawab Ayah.
"Membujuk apa?" tanya Nathan penasaran.
"Kamu harus menceraikan Michie," jawab Ayah.
"A-pa?" Ibu terkejut, "Bagaimana bisa orang tua menyuruh anaknya berpisah? Itu tidak dibenarkan, Yah!" protes Ibu.
"Lalu, Ayah menjawab apa?" tanya Nathan. Bara menoleh ke arah putranya yang sedang konsentrasi mengendarai mobil.
__ADS_1
"Ayah harus menjawab apa, Nak?" Bara justru balik bertanya, "Seorang ayah pasti tidak akan rela, jika anaknya disakiti. Dan, Abah Aang hanya ingin memberikan keadilan kepada putrinya saja!"
"Tapi, Nathan sudah bertaubat, Yah," ucap Nathan," Nathan juga sudah berubah, Yah. Nathan sadar, memang dulu Nathan dikendalikan oleh hawa nafsu. Rasa cinta Nathan kepada Dewi, bukanlah cinta. Tapi hawa nafsu! Dan Nathan mengakui, Nathan memang bersalah. Nathan sangat menyesal!" sesal Nathan.
"Sesal pun tidak ada guna, Nak," sahut ayahnya, "Wanita yang menjadi selingkuhan mu adalah sepupu Michie. Dan sekarang, Abah Aang berada ditengahnya. Dia bingung harus membela siapa!" terang Ayah, "Apalagi seluruh keluarga Atmaja menyudutkan Abah Aang. Cobalah kamu berada di posisi itu!" tutur Ayah.
Tentu saja Nathan akan berlaku sama, jika berada diposisi Abah. Kerukunan didalam sebuah keluarga adalah nomer satu. Akan tetapi, hati kecilnya menolak kalau dia dianggap sebagai penular penyakit. Dan Nathan tidak menerima begitu saja, apa yang selama ini Pakde dan Faiz tuduhkan. Dan penyebab dia tertuduh, pastilah dari tipu muslihat Dewi.
"Haaaaaaah!" Nathan memukul stir mobil dengan berteriak, membuat Ibu dan Ayah terlonjak kaget.
"Sabarlah, Nak. Anggap ini sebuah ujian di dalam rumah tanggamu!" tutur Ayah.
"Bagaimana Nathan bisa bersabar, Yah? Disini jelas ada sebuah kesalahan. Bukan Nathan penyebab Dewi tertular penyakit itu. Justru dia yang menularkan. Dan Nathan mempunyai bukti-bukti kesehatan dari RS," jelas Nathan, "Nathan akan memperjuangkan Michie, Yah. Nathan sadar, dia adalah istri dan wanita yang terbaik yang Allah pilihkan untuk Nathan. Michie sangat berbeda dengan Dewi, jelas dia berbeda. Nathan tidak akan menyia-nyiakan dia. Nathan sudah berjanji dengannya, untuk memperjuangkan rumah tangga kami. Cinta kami. Dan Nathan akan sangat berdosa jika mengingkarinya, Yah!" sedih Nathan.
"Ayah mengerti, Nak. Semoga apa yang Kau dan Michie harapkan terkabul," tutur Bara.
"Amiiiiin," dijawab Nathan dan Ibu serentak.
Setelah mengantarkan Ayah dan Ibu pulang, Nathan langsung berpamitan pulang. Dia ingin langsung pulang ke rumah untuk mencari bukti-bukti dari RS yang dia simpan. Dengan kecepatan tinggi, Nathan memacu kendaraannya. Yang sekarang didalam pikirannya adalah ingin mencari bukti dan menyelesaikan semuanya.
Mobil Nathan berhenti di depan halaman rumahnya. Dia bergegas masuk, dan mencari surat-surat dari Dokter di setiap laci meja. Di laci meja telivisi, Nathan tidak menemukannya. Kemudian dia berjalan ke arah kamar, barangkali di kamar, Nathan bisa menemukan apa yang dicari.
"Alhamdulillah, akhirnya ketemu," lirih Nathan, "Semoga surat dari Rumah Sakit bisa menjadi bukti. Meskipun bukan bukti yang kuat, tapi, disitu tertera jelas, bahwa aku terkena Sifilis. Bukan HIV!" gumamnya.
Setelah mandi, Nathan mengambil Wudhu untuk melaksanakan sholat ashar. Dia menggelar sajadahnya, menunaikan kewajiban umat muslim. Selesai empat rakaat, ia tunaikan. Tidak lupa dia berdoa, memohon petunjuk atas masalahnya. Hanya kepada Allah tempat Ia mengadu. Hanya kepada Allah tempat Ia berpasrah. Semoga Allah menghijabah semua doa-doanya.
Nathan melangkah ke jendela, menatap kosong dengan sejuta kutukan dan rutukan.
Layakkah dia meminta ampun? Layakkah ia diampuni atas segala dosa Zina yang ia lakukan? Mungkinkah Tuhan memaafkan dan mendengar doa-doanya? Hanya tangis dan penyesalan yang sekarang ia rasakan.
to be continued ....
__ADS_1