
Nathan berdiri di depan cermin. Dia mematut dirinya, memastikan penampilannya sopan dan rapi. Kemudian mengulas senyum saat sang buah hati mulai menangis meminta sumber kehidupannya. Pria tampan itu mendekat ke arah box bayi, dan membopong Agam yang menangis.
Nathan berusaha mengusap punggung Agam agar berhenti menangis. Dan bocah kecil itu memang berhenti menangis.
"Cup, Cup! Sabar ya, Sayang! Mau ***** ya! Sebentar ya, Bunda sedang mandi!" ujar Nathan.
____
____
Beberapa menit kemudian Michelle keluar dari kamar mandi, dengan membalut rambutnya yang basah dengan handuk. Dia berjalan ke arah sang suami.
Dia tahu kalau buah hatinya lapar membutuhkan sumber kehidupannya. Ia pun bergegas meraih Agam dari pelukan sang suami untuk disusui.
"Kayaknya pengen ***** deh, Sayang!"
"Iya, Mas. Agam memang pengen *****!" ujarnya.
"Oya, Sayang! Hari ini aku mau ke Cafe lebih awal. Aku akan mengecek pembukuan, dan juga merekap gaji karyawan! Aku sarapan di Cafe sajalah!"
"Oh, ya udah kalau memang kayak gitu! Yang penting beneran sarapan ya? Jangan telat makan!"
"Iya, Istriku Sayang! Suamimu ini akan selalu ingat dengan nasehat-nasehatmu!"
"Ih, Aku serius, Mas!"
"Iya, Sayang!" Nathan menoel hidung mancung istrinya.
Setelah berpamitan pada Ayah dan Ibu, Nathan bersiap-siap akan berangkat, dan Michelle dengan setia mengantarkan sang suami sampai depan pintu. Tentunya sambil membawa Agam dalam gendongannya.
"Aku berangkat ya, Sayang!"
"Hati-hati, Mas!"
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
°°°°°°°
Sampai di Restaurant, ada beberapa karyawannya yang sedang bersih-bersih, Nathan menyapanya dengan ramah. Mereka juga sebaliknya.
__ADS_1
Nathan berjalan masuk ke ruang kerjanya. Memeriksa beberapa pembukuan Cafe dan merekap gaji para karyawan. Bagaimanapun dia adalah seorang pemilik Cafe, jadi Ia harus memperhatikan gaji karyawan lebih utama.
_____
_____
Tidak terasa ternyata sudah empat jam dia berkutat di depan layar komputer. Ia sedikit merenggangkan ototnya, karena terlalu lama duduk membuat pinggangnya terasa sangat pegal.
Nathan pun memutuskan untuk melihat Cafenya, dia ingin memantau pekerjaan anak buahnya. Ternyata Cafe nampak ramai. Semua karyawan sangat sibuk melayani pembeli. Ia tersenyum lebar melihat Cafenya ramai.
Melihat cafenya ramai, dia tidak mau berpangku tangan. Apalagi melihat semua karyawannya sibuk, dia tidak mau hanya berdiam diri saja.
Nathan ikut membantu melayani para pelanggan. Dia membawa nampan berisi makanan dan minuman di meja nomor 14.
"Silahkan, Mas, Mba!" ujarnya.
"Terimakasih,"
"Hey, Nathan!" panggil seseorang. Nathan menoleh ke sumber suara. Seorang pria berjas biru dongker memanggilnya.
"Siapa ya?" Nathan mengerutkan keningnya.
"Kau, Nathan kan?" tanya pria itu. Nathan mengangguk pelan.
"Iya, Aku ingat! Kau Kevin, Aldo, Dony, Angga dan ... !"
Nathan menoleh ke arah perempuan yang duduk di sebelah Kevin. Perempuan cantik, berambut panjang, dengan pakaian yang super minim, dan belahan dadanya, sungguh seperti wanita yang tidak berpakaian. Dia melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Nathan. Nathan tidak mengenalnya, mungkin dia adalah kekasih Kevin atau temannya. Nathan tidak mau tahu urusan mereka.
"Jadi kamu sekarang bekerja disini?" tanya Kevin, "Nggak nyangka, orang berpendidikan tinggi bekerja sebagai pelayan," ejeknya. Teman-teman Kevin tertawa mengejek.
"Siapa, Sayang?" tanya wanita itu menggelayut manja ditangan Kevin.
"Oh, ini. Kenalkan! Dia adalah teman kita di kampus!"
"Oh," jawab wanita itu terus memperhatikan Nathan.
"Nath, kenalkan! Ini Rosa, pacar baru gue!" ujarnya. Nathan nampak berfikir.
Bukankah Kevin sudah beristri? Apa mereka bercerai?
Gadis itu mengulurkan tangannya, ingin bersalaman dengan Nathan. Tapi Nathan menangkupkan tangannya di depan dada. Wanita itu bukanlah muhrimnya, tentu saja dia tidak mau menerima uluran tangannya. Gadis cantik itu terlihat kesal pada Nathan yang mengacuhkannya.
"Maaf, Apa ada yang ingin kalian pesan lagi?" tanya Nathan dengan sopan.
__ADS_1
"Ayolah duduk dulu! Kita ngobrol dulu!" ucap Kevin.
"Sorry, Kevin! Gue lagi banyak kerjaan!"
"Hey, Nath! Tunggu dulu dong! Nih anak-anak kan juga pengen ngobrol sama Lo!" ujar Kevin, "Hey Guys, Kalian ingat Nathan kan? Teman satu kampus kita!"
"Ingatlah! Jadi sekarang Lo pelayan disini, Nath! Kasihan banget sih, Lo!" ucap Dony.
"Kaya kita dong! Kita semua jadi orang sukses! Nih Aldo pemilik showroom terbesar! Dony pemilik supermarket di Jakarta! Dan Angga pemilik beberapa Toko Elektronik di Jakarta! Gue sendiri kerja di kantoran! Dan Lo!"
Hahahaha ...
Tawa mereka pecah. Seolah-olah Nathan adalah lelucon yang sangat lucu.
"Gue nggak nyangka ternyata Lo jadi pelayan Cafe! Gue kira Lo kerja di kantoran! Atau kerja di tempat yang bagus lah! Ternyata cuma jadi pelayan!"
Hahahaha ...
Mereka tertawa lagi.
"Sayang ijazah Lo, Nath! Capek-capek kuliah, ijazah Lo nggak kepake!" gelak Kevin.
"Alhamdulillah kalau kalian menjadi orang sukses semua! Saya turut senang! Tapi sebelumnya, Maaf ya! Saya masih ada urusan lain!" Nathan pun pergi dari tempat itu. Dia terlalu malas jika harus mengurusi teman kuliahnya.
Hahahaha....
"Aduh, Kev! Perut gue sakit! Gue nggak nyangka, Nathan idola kampus jadi pelayan Cafe!" bajak Dony.
"Iyalah. Beda dengan gue!" sombong Kevin.
"Yuk ah, Makan! Aku sudah laper banget nih!"
"Yuk!"
Mereka semua menikmati makanan yang disajikan oleh pelayan. Mereka mengakui memang makanan yang ada dicafe ini memang sangat lezat dan enak.
Nathan hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan teman-temannya. Dari dulu sampai sekarang mereka memang hanya bisa mengejek dan menghina. Dan Nathan tidak terganggu dengan masalah itu. Dia pun menyikapinya dengan dengan dewasa.
Pulang dari Cafe, Nathan mampir ke rumah barunya. Dan sepertinya memang rumah barunya sudah siap untuk dihuni. Semuanya sudah beres dan sudah rapih. Ia tinggal membeli perabot rumah dan lain sebagainya.
"Aku akan mengajak Michie untuk membeli perabot rumah!" gumamnya, "Jika Michelle tahu kalau rumahnya sudah jadi, dia pasti seneng banget!" senang Nathan.
Dia pun pulang ke rumah dengan membawa kabar yang sangat menggembirakan untuk sang istri.
__ADS_1
To be continued ...