
Semilir angin berhembus kencang, nyiur melambai-lambai kuat. Bisikan angin sangatlah mendramatisasi suasana pagi hari. Awan yang sedikit menghitam, udara yang dingin, pertanda akan turun hujan sebentar lagi.
Michelle melarang keluarganya untuk pulang ke Bogor hari ini. Karena memang sebentar lagi akan turun hujan lebat. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan keluarganya.
Dan benar saja, hujan turun dengan sangat lebat. Mengguyur seluruh kota seiring dengan semilir angin yang berhembus kencang.
Michelle mendekap sang buah hati. Sementara semua keluarga berkumpul di ruang tengah sambil menikmati sekoteng buatan Mba Retno. Termasuk suaminya. Hingga dua jam lamanya, akhirnya hujan berhenti.
Nathan membantu sang istri untuk meletakkan Agam di box bayi. Putra mungilnya sudah tertidur dengan sangat pulas, dan tentunya dengan perut yang kenyang.
Nathan membuatkan susu hangat untuk sang istri. Udaranya juga cukup dingin. Dan susu hangat sangat pas diminum pada cuaca yang dingin.
"Minumlah, Sayang!" Nathan menyerahkan satu gelas susu untuk istrinya.
"Terimakasih, Mas! Aku kan bisa buat sendiri! Kenapa justru Mas yang membuatkan untukku?" gelak Michelle.
"Nggak apa-apa kan? Aku tahu, kamu tuh kelelahan! Dan aku lihat, dari tadi Agam minum ASI tanpa melepaskan ****** kamu!"
"Anak kita sangat kuat minum ASI nya, Mas!" kekeh Michelle.
"Bagus dong, Sayang! Dengan kamu memberikan ASI untuk anak kita, jelas kamu mendapatkan tabungan pahala. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa ketika seorang perempuan menyusui anaknya, Allah SWT kelak membalas setiap isapan air susu yang diisap anak dengan pahala memerdekakan seorang budak dari keturunan Nabi Ismail!"
"Amin ya Rabbal Alamin!"
"Oya, Sayang. Apa Abah jadi pulang hari ini? Ini masih hujan deras lho!"
"Ehm, mungkin nunggu hujannya reda, Mas! Kasihan juga kan!"
____
____
Diluar masih gerimis. Tapi Abah dan Umi bersikeras untuk pulang. Katanya kasihan Ratna tertinggal banyak pelajaran di kampus. Akhirnya Michelle pun mengikhlaskan kepergian mereka.
Keluarga Michelle bersiap-siap untuk pulang. Mereka berpamitan kepada Pak Bara dan juga istrinya. Umi memeluk Michelle dengan erat. Rasanya tidak ingin berpisah, tapi mau bagaimana lagi. Mereka harus kembali ke Bogor.
"Kalau Agam sudah bisa diajak jalan-jalan, ajaklah main ke Bogor!"
__ADS_1
"Insyaallah, Umi!" ucap Michelle.
"Kami pamit pulang ya! Jaga diri kalian baik-baik!"
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
°°°°°°°
Satu bulan berlalu, keluarga kecil Nathan terasa lengkap dengan kehadiran Agam. Apalagi Agam yang sudah berusia satu bulan, sudah mulai terlihat menggemaskan. Dia sudah mulai mengenali suara kedua orang tuanya.
Michelle duduk di tempat tidur sambil menyusui sang buah hati. Nathan mendekat dan mencium bayi menggemaskan itu.
"Aku mau ke Cafe, Sayang! Terus habis ke Cafe, Mas mau lihat rumah baru kita!"
"Memang sudah jadi, Mas?"
"Belum sih! Tinggal pasang keramik dan masih banyak lah! Tapi Insyaallah tahun ini kita bisa pindah ke rumah baru kita!"
"Michelle, Nathan! Ada tamu di luar!" panggil Ibu melongok kan kepalanya diantara celah pintu.
"Siapa, Bu?" tanya Nathan.
"Ehm, itu ... !"
"Siapa sih, Bu? Jadi penasaran saja!"
Nathan keluar dari kamar. Dia penasaran dengan tamu yang datang sepagi ini. Nathan sangat terkejut, ternyata yang datang Pakde Kartono dengan istrinya.
"Pakde Kartono! Bude Salma!" Nathan mencium punggung tangan kedua orang tua itu. Bagaimanapun mereka adalah keluarga istrinya. Dia juga harus menghormati meski pernah menyakitinya.
"Nathan." Pria tua itu bersimpuh dikaki Nathan.
"Tolong jangan seperti ini, Pakde! Nggak pantas Pakde melakukan ini pada saya!"
"Nathan, Tolong kamu cabut laporan kamu pada polisi! Kasihan Dewi. Dia sangat menderita, Nath!"
__ADS_1
"Duduk dulu, Pakde, Bude! Sebenarnya ada apa ini?"
"Dewi sedang sekarat, Nath! Tolong cabut tuntutan kamu! Biarkan Dewi berkumpul dengan keluarganya, menghabiskan sisa hidupnya dengan kami!" ucap Pakde Kartono dengan penuh penyesalan.
"Pakde!" Michelle keluar langsung menyalami punggung tangan Pakde dan Budenya.
"Michelle keponakan Pakde!" Kartono mengelus kepala Michelle.
"Ada apa ini, Pakde?" tanya Michelle penasaran.
"Kedatangan Pakde dan Bude kesini, Kami memohon kepada kalian supaya kalian berdua mencabut tuntutan pada Dewi! Dewi itu sepupu kamu. Dia sakit Michelle! Dan hidupnya nggak akan lama lagi! Biarkan Dewi menghabiskan sisa hidupnya dengan kami, Nak!" mohon Pakde Kartono.
Michelle tersenyum manis.
"Pakde, Bude! Dari lubuk hati Michelle yang paling dalam. Michelle sudah memaafkan kesalahan Dewi! Michelle sudah melupakan apa yang Dewi lakukan! Tapi semua kan ada hukumnya! Dewi harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku di Indonesia! Jadi kami minta maaf, jika kami tidak bisa membebaskan Dewi sepenuhnya! Mungkin kami hanya bisa membantu meringankan masa tahanan Dewi saja, Pakde!"
"Apa yang dikatakan Michelle benar, Pakde! Kami tidak bisa membebaskan Dewi sepenuhnya. Karena tindakan yang Dewi lakukan adalah sebuah tindakan kriminal. Jadi dia akan diproses sesuai hukum di Indonesia!"
"Hhhhhh, Maafkan Pakde! Selama ini Pakde sangat egois dan jahat pada kalian! Maafkan Pakde!"
"Kami sudah memaafkan Pakde dan Dewi! Semoga ada jalan terbaik untuk masalah Dewi ya, Pakde!" ucap Michelle.
"Semoga saja!"
_____
_____
Selepas dari rumah Nathan. Pakde dan Bude berpamitan. Mereka bilang, mereka ingin menjenguk Dewi di kantor polisi.
Michelle dan suaminya hanya bisa menitipkan salam. Mereka juga mendo'akan Dewi agar dimudahkan dalam mengatasi segala urusan.
Bukannya Michelle tidak mau menjenguk Dewi di kantor polisi. Dia masih trauma dengan kejadian satu bulan yang lalu. Tapi Insyaallah Michelle sudah memaafkan mereka semua.
To be continued ....
Mana dukungannya????
__ADS_1