
Michelle pulang dari Rumah Sakit, dia membawa pakaian kotor suaminya untuk dicuci. Saat wanita cantik itu memarkirkan mobilnya di halaman rumah, dia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang duduk di teras rumah.
"Mba Retno?" panggilnya seraya keluar dari mobil dan menghampiri kakak suaminya.
"Michie." Wanita itu berjalan mendekat ke arah Michelle.
"Mba Retno datang kok nggak bilang-bilang?" tanya Michelle.
"Lah wong ponsel kamu sama Nathan nggak bisa dihubungi," ujarnya. Michelle mengulas senyum.
"Iya, Maaf, Mba. Saking sibuknya, Michelle baru tahu kalau kuotanya habis," kekeh Michelle mengecek kuota HP-nya, "Mba menunggu lama di sini?"
"Lumayanlah. Tapi, nggak apa-apa!" sahutnya.
"Maaf, ya, Mba. Michelle jadi nggak enak,"
"Nggak apa-apa. Kamu nyantai saja," sahut Mba Retno terkekeh.
"Masuk, Mba!" Michelle membuka kunci pintu rumahnya, dan mempersilahkan kakak iparnya masuk ke dalam.
"Lho, kok rumah berantakan banget?" ujarnya setelah masuk ke dalam rumah. Michelle malah tersenyum.
"Sebenarnya dari kemarin Michelle di Rumah Sakit, Mba. Jadi, Michelle belum sempat membenahi barang-barang yang berserakan," terangnya.
"Silahkan duduk dulu, Mba!"
"Iya, terima kasih banyak," jawabnya, "Memangnya siapa yang sakit?" Michelle nampak terdiam. Dia bingung harus menjelaskan darimana.
"Lho, kok, malah diam?" tanyanya, membuat lamunan Michelle buyar.
"Ceritanya panjang, nanti Michelle ceritain," jawab Michelle tersenyum. Mba Retno hanya garuk-garuk kepala saja.
__ADS_1
"Michie membersihkan ini dulu ya, Mba. Rasanya nggak enak di pandang mata kalau berantakan begini,"
"Iya, sudah, mba, bantuin!"
"Eh, nggak usah, Mba! Mba duduk manis saja di sana!"
"Alah, cuma beres-beres begini saja mah gampang," ujarnya, tidak mau mendengarkan ocehan adik iparnya.
"Iya, sudahlah, terserah mba saja!" Mereka tertawa bersama.
Dengan semangat empat lima, mereka membereskan barang-barang yang berserakan di lantai. Michelle mengumpulkan semua pakaian dan seprei yang kotor, ia satukan di dalam mesin cuci, dan membubuhkan sabun antibakteri dan pewangi pakaian. Mesin cuci berputar dengan cepat, menciptakan aroma sabun yang wangi.
Sedangkan Mba Retno sibuk mengepel lantai, semua sudut ruangan tidak lepas dari jangkauannya. Setelah lantai mengering, barulah kemudian ia sapu. Sembari menunggu pakaian selesai dicuci, Michelle membuat dua es lemon tea dan juga cemilan.
"Mba, istirahat dulu!" ajaknya.
"Ah, nanggung. Nih, tinggal nyapu saja, beres semuanya!" ujarnya. Michelle terkekeh geli.
Dari uang pensiunan suami, Mba Retno menghidupi dirinya dan anaknya hingga kuliah. Wanita yang super sabar ini menjadi inspirasi Michelle sejak dulu. Sifatnya yang terbuka, dan sangat hangat membuat Michelle tidak malu-malu lagi untuk bercerita atau sekedar sharing.
"Ah, akhirnya selesai juga!" ucapnya seraya mendudukkan pantatnya di sofa yang empuk. Michelle menyodorkan segelas lemon tea kepada kakak iparnya itu.
"Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama," sahutnya, "Michie yang harusnya berterimakasih karena sudah dibantu oleh Mba,"
Sruuuuuuuup ...
Satu gelas lemon tea tandas tanpa sisa. Michelle tersenyum geli melihat tingkah laku kakak iparnya.
"Michelle buatkan lagi ya?"
__ADS_1
"Ah, tidak usah. Nanti kalau mba haus, mba bikin sendiri saja," ujarnya.
"Baiklah," Michelle mengulas senyum.
"Oya, tadi kamu mau bercerita apa? Kamu bilang ceritanya panjang? Apakah soal Nathan? Apakah wanita pelakor itu mengganggu rumah tangga kalian lagi? Awas ya kalau memang benar, mba bejek-bejek tuh pelakor!" cecarnya.
"Bukan, bukan itu, Mba!" ujarnya.
"Lalu, masalah apa?"
"Mas Nathan masuk ke Rumah Sakit, Mba,"
"Apa? Ba-ba-bagaimana bisa?"
"Dia terjangkit penyakit sifilis," lirih Michelle, namun masih terdengar jelas di telinga Mba Retno.
"Apa kamu bilang? Sifilis? Itu kan penyakit kel*min?"
"Iya, Mba. Dan sekarang Mas Nathan di Rumah Sakit," jawabnya lesu.
"Ba-ba-bagaimana bisa? Apakah Nathan sering celap-celup sana-sini?"
"Mas Nathan bilang, dia hanya berhubungan dengan Dewi. Jika memang itu benar, berarti Dewi juga terpapar penyakit itu, Mba?"
"Penyebabnya adalah wanita murahan itu. Biarkan saja wanita itu membusuk dengan penyakitnya" ucap Mba Retno dengan suaranya agak meninggi.
Huft ...
Michelle hanya menghela nafasnya panjang.
"Dewi? Jika Padhe sama Budhe tahu apa yang terjadi sama kamu, pasti mereka sangat sedih!" batin Michelle.
__ADS_1
to be continued..