
Selepas kepulangan Pakde dan Bude, Michelle jadi merasa bersalah. Dia terdiam sejenak sambil melamun. Nathan tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya.
Kemudian dia mengusap puncak kepala sang istri dengan penuh cinta damba. Ia tidak mau istrinya terus memikirkan tentang Dewi. Meskipun Dewi adalah sepupu Michelle, tapi perbuatan Dewi sudah sangat keterlaluan. Dan perbuatanya tersebut tidak bisa ditolerir lagi.
Nathan berusaha untuk menjelaskan dengan lembut. Dia tidak mau istrinya merasa terbebani dengan masalah Dewi. Apalagi Michelle juga baru sembuh dari trauma. Dan Nathan tidak mau istrinya kembali trauma.
Dengan kasih sayang yang melimpah, dia mengecup singkat bibir sang istri membuat Michelle sedikit terkejut. Lalu dia tersipu malu.
"Yang lalu biarlah berlalu! Sekarang tugas kita adalah berdoa! Mendoakan orang yang sudah berbuat jahat kepada kita supaya sadar dan meminta maaf kepada kita dengan niatnya sendiri!" tutur suaminya, "Yang kamu pikirkan sekarang adalah anak kita. Jaga anak kita dengan baik selama aku mencari nafkah!"
"Ih, iyalah. Tentu saja istrimu ini akan menjaga anak kita dengan baik. Aku kan ibunya!" gelak Michelle. Nathan tersenyum bahagia.
"Mas berangkat kerja ya! Nggak enak kalau terlambat!"
"Iya, Mas! Hati-hati ya!"
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
____
____
__ADS_1
Selepas kepergian suaminya, Ibu datang ke kamar Michelle membawa susu dan buah-buahan yang sudah dikupas. Michelle bersyukur memiliki ibu mertua seperti Ibunya Nathan. Beliau sangat sabar dan lembut.
"Minum, Nak! Ini susu supaya ASI mu lancar! Dan makan buah-buahan ini. Karena sangat baik untuk tubuh kamu dan ASI kamu!"
"Terimakasih banyak ya, Bu!"
____
____
Dewi merasakan tenggorokannya sangat kering. Saat makan tenggorokannya juga sangat sakit. Disertai dengan batuk, demam tapi berkeringat.
Perutnya juga terasa mual. Kemudian dia buru-buru ke kamar mandi, mengeluarkan semua isi perutnya. Teman satu selnya, bukannya membantu, mereka malah jijik melihat Dewi. Mereka menghindar takut tertular.
"Tolong!" pekiknya, "Tolong aku!"
"Tolooooooong panggilkan petugas!" ujarnya lirih.
____
____
Beberapa saat, tubuh Dewi ambruk. Dari tubuhnya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Salah satu tahanan berteriak. Meminta pertolongan.
__ADS_1
Petugas polisi memanggil tim medis. Mereka langsung melarikan Dewi ke Rumah Sakit. Sementara tahanan lainnya, langsung membersihkan tempat Dewi terjatuh tadi. Mereka takut tertular penyakit yang diderita oleh Dewi.
Padahal menurut Dokter penularan HIV bukan melalui air liur, keringat, cairan, sentuhan, ciuman, atau gigitan nyamuk. Penyakit tersebut dapat ditularkan melalui kontak cairan tubuh, seperti carian ****** atau ****** saat melakukan aktivitas seksual. ( Dikutip dari Hallodokter)
Bisa juga lewat jarum suntik, itu justru lebih cepat. Tapi para tahanan lain sudah salah mengartikan semuanya. Mereka sangat takut tertular penyakit tersebut.
____
____
Dokter memeriksa kondisi Dewi yang semakin melemah. Bahkan dia sudah tidak sadarkan diri saat dibawa ke Rumah Sakit. Kondisi Dewi yang sudah melemah, membuat para polisi sangat iba. Mereka pun menyuruh keluarga untuk datang ke Rumah Sakit.
Mendengar kabar tersebut, tentu Kartono dan istrinya sangat khawatir. Mereka pun langsung bergegas ke Jakarta untuk ke Rumah Sakit. Dan kabar tersebut juga sampai ke telinga Abah dan Umi. Mereka juga merasa sangat iba yang luar biasa.
Mereka juga ikut ke Jakarta dengan membawa mobil sendiri. Mereka semua berangkat setelah melaksanakan sholat dhuhur. Berdoa kepada Allah supaya semuanya baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, Salma terus menangis. Dia tidak bisa membayangkan nasib putrinya yang sudah tidak sadarkan diri. Faiz putranya berusaha menenangkan hati sang Ibu, mendo'akan untuk kebaikan dan diberikan kemudahan untuk Dewi.
"Kita berdoa sama-sama ya, Bu! Semoga Dewi diberikan kekuatan dan kesabaran!" ujar Faiz berusaha menenangkan hati sang ibu.
Salma masih menangis sesenggukan. Hatinya benar-benar sangat sedih. Dia hanya berharap Dewi diberikan kemudahan saat meninggalkan dunia fana ini.
To be continued ..
__ADS_1
...Di dunia ini kita hidup hanya sementara. Semua makhluk yang hidup, termasuk manusia akan mengalami kematian yang sudah pasti terjadi....
...Dunia hanya sebagai tempat persinggahan maupun penginapan untuk menunggu hari akhirat. Tak seorang pun mengetahui datangnya kematian, termasuk Rasulullah SAW juga tidak mengetahuinya....