
Pagi yang cerah, Michelle sudah bangun paling awal bersamaan dengan ART. Mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah sholat subuh, Michelle duduk di taman belakang rumah sambil membaca ayat apa saja agar hatinya tenang.
"Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Umi.
"Eh, Umi. Iya Umi. Michelle sudah bangun. Michelle ingin menghirup udara segar," ujarnya.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu mau keluar kamar. Umi sangat cemas melihat keadaanmu, Nak!"
"Umi jangan terlalu mengkhawatirkan Michelle. Michelle baik-baik saja, Umi!" ucapnya tersenyum tipis.
"Bagaimana Umi tidak cemas? Seharian Kamu mengurung diri di kamar!"
"Lain kali Michelle tidak akan seperti itu!" ucap Michelle.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Umi.
"Mau kemana Umi?"
"Terserah kamu saja, Nak," ujar Umi.
"Ehm, Michelle sedang malas Umi," jawabnya.
"Ayolah, kamu perlu refreshing, Nak!"
"Tapi, kita mau kemana?"
"Berbelanja mungkin,"
"Kita ke pasar. Bagaimana?" tanya Umi, "Kita masak makanan kesukaan kamu. Masak Lobster asam manis,"
"Ehm, Bagaimana ya?"
"Ayolah, Nak. Sudah lama juga kita nggak pergi ke pasar bersama. Masak bersama. Umi kangen, Sayang!"
"Baiklah. Setelah sholat Dhuha kita pergi ke pasar," ujarnya.
"Ratna ikut!" suara teriakan Ratna terdengar dari dalam. Kemudian menyembulkan kepalanya di celah pintu.
"Ish, kamu mengangetkan saja!" ujar Umi, namun Ratna hanya terkekeh geli.
"Baiklah, nanti kita berangkat jam delapan. Biar nggak terlalu panas," ujar Uminya.
"Oke,"
Abah mendapatkan notifikasi pesan dari Nathan. Dipesan tersebut Nathan mengatakan bahwa dirinya akan datang ke Bogor, dan masih dalam perjalanan. Ada sedikit rasa khawatir didalam hati Abah. Pria tua itu mengusap wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Aku harus bertindak tegas kepada Nathan. Aku harus menyerahkan surat perceraian untuk Nathan tanda tangani," batin Abah.
Umi keluar dari kamar dengan memakai pakaian yang bagus dan rapi. Istrinya juga menggamit tas berwarna hitam. Abah sampai terheran-heran. Mau kemana istrinya itu? Karena tidak biasanya.
Umi akan berdandan rapi kalau hendak bepergian. Namun, kalau di rumah, dia hanya memakai daster panjang yang menurutnya santai dan berbahan adem.
"Umi mau kemana?" tanya Abah.
"Oh, Umi mau ke pasar bersama Michie dan Ratna. Kenapa? Abah mau nitip sesuatu?"
"Wah kebetulan sekali," batin Abah.
"Bah, kok malah melamun?"
"Eh, nggak," jawab Abah tergagap, "Abah nitip jajanan pasar kesukaan Abah dong, Umi. Bandros dan combro," ujar Abah.
"Okey, nanti Umi belikan," jawab istrinya.
Setelah semua siap, mereka bertiga pun berangkat dengan mobil Abah. Mang Udin menjadi sopirnya.
Mereka berangkat dengan hati riang. Terutama Ratna, dia tidak berhenti bercerita kepada Kakaknya. Membuat Michelle tersenyum, terkadang terkekeh geli.
Ratna adalah adik dari Michelle. Anak terakhir Abah dan Umi. Dia duduk di bangku kuliah, dan sebentar lagi Ratna akan lulus. Cita-citanya ingin menjadi seorang psikolog. Makanya dia mengambil jurusan Psikolog di Universitasnya.
Sampai di pasar, mereka turun dari mobil. Mereka bertiga berjalan berkeliling pasar. Membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat makanan yang akan mereka masak hari ini. Mereka membeli dua ekor lobster ukuran jumbo, dan cumi-cumi.
"Umi, beli alpukat juga," ucap Ratna menunjuk buah alpukat yang masih segar.
"Baiklah, kita beli dua kilo ya?" ujar Umi. Ratna membeli alpukat di tempat itu. Manik Michelle melihat ke arah kedai yang menjual berbagai macam asinan Bogor. Michelle menelan salivanya sendiri.
"Umi, Ratna, Ayo kita ke sana!" ajak Michelle kepada umi dan Ratna.
"Kedai asinan," gumam Ratna.
"Iya. Entah kenapa aku ingin sekali memakan asinan Bogor. Panas-panas begini pasti seger banget," ucap Michelle berkali-kali menelan salivanya, "Ayo ah buruan!" Michie menarik tangan keduanya untuk segera masuk ke kedai tersebut.
Michelle memilih bangku kosong. Mereka duduk dekat dengan kipas angin. Hawa panas berubah menjadi adem.
"Ah, segarnya," gumam Ratna. Umi dan Michelle terkekeh melihat tingkah laku Ratna yang seperti anak kecil.
"Mau pesan apa, Teh?" tanya seorang pelayan kepada Michelle.
__ADS_1
"Saya ingin asinan buah dan sayurnya ya! Yang super pedes, dan kacangnya dibanyakin," ucap Michelle sambil tersenyum," Umi sama Ratna mau pesan apa?"
"Umi, asinan buah saja," sahut Umi.
"Ratna sama seperti Umi, Teh," ucap Ratna.
"Berarti asinan buahnya tiga, dan asinan sayurnya satu ya, Teh," ucap pelayan mencatat pesanan.
"Iya,"
Beberapa menit kemudian, asinan yang mereka pesan sudah terhidang di meja makan. Dua porsi asinan Michelle habiskan tanpa sisa. Umi sampai tercengang melihat putrinya memakan semua asinan tersebut, bahkan sampai habis.
"Kamu kok tumben sih pengen makan asinan? Umi baru tahu lho kamu suka dengan asinan!" ujar uminya.
"Iya. Ratna juga heran. Makannya banyak lagi. Dua porsi lho, Umi," gelak Ratna. Membuat pipi Michelle memerah karena malu.
"Enggak tahu. Tiba-tiba saja Michie pengen asinan, Umi. Dan asinan disini tuh rasanya enak banget, Umi," ujar Michelle terkekeh.
"Umi ikut seneng kalau kamu sudah doyan makan. Kemarin-kemarin Umi sempat khawatir karena kamu nggak mau makan dan keluar kamar," ucap Uminya.
"Ah, Michie jadi malu,"
"Kenapa harus malu? Kalau kamu mau asinan lagi, Sok atuh pesan lagi. Nanti Umi yang bayar!" ucap Umi.
"Benar, Umi?"
"Iya," sahutnya.
"Ratna juga mau dong ditraktir, Umi. Masa cuma Teteh saja," manyun Ratna.
"Kalau kamu mau asinan, sok atuh, Umi juga akan traktir kamu!" ucap Umi.
"Ratna nggak mau asinan. Ratna kan nggak begitu suka, Umi. Bagaimana kalau bakso?" tawar Ratna.
"Ck, dikasih hati minta jantung!" cebik Umi kepada Ratna. Ratna hanya terkekeh.
"Iya, sudah sana! Pesen tuh! Disamping juga ada kedai bakso!" tunjuk Umi ke warung sebelah, "Kamu mau, Sayang?" tawar Umi kepada Michelle.
"Nggak ah. Michelle maunya asinan buah saja buat di rumah. Kalau ditaruh di kulkas pasti segar banget," ujarnya membayangkan asinan yang keluar dari lemari pendingin.
Keluar dari kedai itu, Umi mengajak mereka ke pasar bagian jajanan tradisional. Di sana ada banyak penjual menjajakan dagangannya. Kue-kue tradisional khas Bogor ada di sana.
Umi mencari jajanan pasar pesanan suaminya. Abah memang paling suka dengan kue Bandros dan combro. Jajanan tradisional tersebut tidak pernah sepi pelanggan.
__ADS_1
Selain Bandros dan combro. Ada misro, katimus, gemblong, kalontong dan masih banyak lagi jajanan tradisional yang sampai sekarang masih dijual di pasar tradisional. Bukan hanya jajanan tradisional saja, makanan seperti laksa Bogor, toge goreng, es pala, mie glosor dan lain-lain juga di jual di pasar tersebut.
to be continued ...