Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 100 : New House Full of Blessing


__ADS_3

"Aku akan mengajak Michie untuk membeli perabot rumah!" gumamnya, "Jika Michelle tahu kalau rumahnya sudah jadi, dia pasti seneng banget!" senang Nathan.


Dia pun pulang ke rumah dengan membawa kabar yang sangat menggembirakan untuk sang istri.


____


____


Sampai di rumah, Nathan disambut senyuman istri dan anaknya. Dengan melihat senyuman keduanya, rasa lelah yang menggelayut di tubuhnya tiba-tiba menghilang.


"Anak ayah!" Nathan hendak mencium sang buah hati. Namun Michelle menatap tajam ke arah sang suami.


"No! Cuci tangan dulu! Baru boleh cium Agam!" kekeh Michelle.


"Iya, Istriku Sayang!"


Mereka pun masuk ke dalam rumah. Ternyata semuanya sedang berkumpul di ruang tengah menonton acara Bola di TV. Nathan langsung ikut duduk disebelah Ayahnya.


"Mas?" panggil Michelle, "Mandi dulu!" suruh istrinya.


"Hehehehe, iya, Sayang! Lupa!" Nathan beranjak dari tempat duduknya. Ayah, Ibu dan Mba Retno terkekeh geli.


"Sudah sana mandi dulu! Mau Maghrib juga!" ujar Ibunya.


"Iya, nih mau mandi!"


____


____


"Bu, titip Agam dong! Michie mau nyiapin kopi!"


"Iya, Sini!" Ibu mengambil Agam dari gendongan menantunya, "Cup, Cup, Sayang. Cucu ganteng nenek!"


Michelle sudah menyiapkan secangkir kopi di atas nakas, dan baju ganti sang suami di atas tempat tidur. Suaminya keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Rambutnya masih basah, Michelle meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambut sang suami.


"Oya, Mas, tumben nyampenya sore banget?" tanya Michelle.


"Iya, Sayang, aku mengecek pembukuan Cafe dulu! Semuanya harus aku kalkulasi dengan benar! Untuk pengeluaran bahan dan bumbu, pengeluaran listrik, air, gaji karyawan dan lain-lain! Aku harus membaginya dengan benar! Cafe yang di kelola Mba Retno saja, aku belum sempat ke sana!"


"Jangan terlalu diforsir, Mas! Kesehatan itu nomer satu!" tutur Michelle.


"Iya, Sayang! Terimakasih ya, tidak pernah bosan mengingatkan suamimu ini!" Michelle terkekeh.


"Oya, pulang dari Cafe, Aku mampir ke rumah baru kita! Dan Alhamdulillah, rumah kita sudah siap huni lho!"


"Benarkah?"


"He'em! Kita tinggal membeli perabotan saja untuk rumah kita!"


"Alhamdulillah, akhirnya rumah impian kita jadi juga! Aku nggak sabar pindah deh, Mas!" senang Michelle.


"Iya, Sayang! Nanti sebelum pindah kita buat acara syukuran bersama anak-anak yatim ya! Kita buat pengajian kecil di rumah bersama anak-anak yatim. Insyaallah berkah dan rumah kita selalu dirahmati Allah!"

__ADS_1


"Amin!"


°°°°°°


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, Musim berganti Musim. Akhirnya seiring berjalannya waktu, kepindahan yang sudah direncanakan jauh hari oleh mereka terjadi juga.


Semua barang-barang di kamar Nathan diangkut oleh truk besar, kecuali kasur dan lemari. Dan nantinya kamar Nathan akan ditempati oleh anak perempuan Mba Retno.


Semua barang sudah dipindahkan ke rumah baru. Dan rencananya nanti sore akan ada syukuran dan mengaji bersama dengan anak-anak yatim. Pasangan itu berharap, dengan berbagi dengan sesama rezeki yang mereka miliki akan semakin berkah, bertambah dan bermanfaat bagi orang lain.


Selesai acara pengajian, di rumah baru itu juga diadakan makan bersama dengan anak-anak yatim. Mereka nampak sangat bahagiya, bisa menikmati makanan yang lezat hasil olahan dari Chef Cafe.


Bukan hanya mengaji dan makan bersama saja. Ternyata Nathan sudah menyiapkan bingkisan untuk mereka bawa pulang ke panti asuhan. Semuanya sudah dipersiapkan dengan matang oleh suami istri itu.


Hari pertama kepindahan mereka, Michelle meminta Ibu, ayah dan Mba Retno menginap. Karena memang masih banyak yang harus dibereskan, dan Michelle membutuhkan bantuan kakak iparnya untuk berberes rumah.


"Michie, Ini Mba buatin coklat panas dan juga cemilan! Ayo kita nikmati bareng-bareng!" ajak Mba Retno.


"Iya, Mba! Terimakasih banyak ya, Mba! Mba pasti capek banget, seharian membantu Michie mengurus semuanya!"


"Ish, Kau ini apaan sih? Kita kan keluarga, dan sudah menjadi tugas kita saling membantu keluarga!"


"Terimakasih banyak ya, Mba!" senang Michelle mempunyai kakak ipar seperti Mba Retno.


"Ehm, Umi dan Abah kamu tidak di undang ke acara syukuran rumah?"


"Sudah kok, Mba! Tapi Umi nggak bisa ninggalin Abah. Abah kan sedang sakit!"


"Oh, Mba doakan, semoga Abah kamu cepat sembuh ya!"


"Terimakasih banyak ya, Mba!"


"Iya, Mba! Mas Nathan sudah memikirkan itu kok! Nanti kita mau cari yang benar-benar niat kerja!"


"Bener tuh!"


"Kemarin sih kata Umi, rekomendasiin Bi Ijah!"


"Nah, Bi Ijah lebih berpengalaman!" ujar Mba Retno.


"Michelle kasihan sama Bi Ijah. Bi Ijah kan sudah tua! Semua keluarganya di Bogor! Kasihan juga harus bolak-balik dari Bogor ke Jakarta!"


"Iya juga sih! Nanti deh kalau Mba ada kenalan ART, Mba kabarin kamu!"


"Terimakasih banyak ya, Mba!"


____


____


Tiga hari berlalu,


Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia ingin segera sampai di rumah, mengingat putranya yang semakin menggemaskan dan membuatnya selalu kangen.

__ADS_1


Apalagi sekarang Agam yang sudah pandai berceloteh lucu, membuatnya ingin cepat-cepat sampai dan mengajaknya bermain.


Sebelum pulang ke rumah, Nathan mampir ke toko mainan. Dia ingin membelikan mainan untuk putranya. Padahal sudah begitu banyak mainan di kamar putranya.


Nathan turun ke Toko mainan. Dia ingin membeli mainan untuk anak laki-laki. Dan ada begitu banyak mainan, hingga Ia bingung memilihnya.


"Ini juga bagus, Pak!" pelayan menunjukkan robot-robotan kepada Nathan.


"Anak saya masih dua bulan, Mba! Belum ngerti robot-robotan!" ujarnya.


"Oh, kalau begitu ini saja! Ini aman kok buat anak usia dua bulan. Ada lampunya lagi!"


"Wah, ini juga bagus! Iya deh, Saya ambil yang ini!"


Nathan menunggu pelayan membungkus mainan itu. Sambil menunggu, maniknya melihat seseorang yang sangat Ia kenal. Ia melihat seorang wanita dengan memakai dress usang, dengan menggendong seorang anak kecil sepertinya berusia satu tahunan, dan anak berusia sekitar 5 tahunan di samping kanan. Ditangan kirinya, dia membawa keranjang rotan. Dimana dikeranjang itu berisi tisu-tisu. Sepertinya wanita itu penjual tisu keliling.


"Indah?" panggil Nathan. Wanita itu menoleh ke arah Nathan. Wanita itu sangat terkejut melihat Nathan. Dia hendak berlari, namun Nathan berusaha menghalanginya.


"Indah, Tunggu!" panggilnya lagi, "Kamu Indah kan?"


"Bukan, Saya bukan Indah!" ujarnya.


"Tapi saya yakin kamu, Indah!"


Indah hendak pergi dari tempat itu. Namun anak yang ada di gendongan nya menangis, entah minta apa. Kemudian anaknya yang satu lagi merengek minta makan. Indah terlihat sangat bingung dan cemas.


"Bu, perut Vano laper!" ujarnya, "Ayo cari makan, Bu!"


"Iya, Nak. Sabar ya! Tunggu tisu ini habis dulu!" ujar Indah.


"Maaf, Saya harus pergi!" ucap Indah pada Nathan.


"Indah tunggu! Kamu beneran Indah kan!" akhirnya wanita itu mengangguk.


"Maaf Saya harus pergi, Nath!" lirihnya.


___


___


"Vano lapar, Bu!" rengeknya.


"Iya, sabar ya, Sayang!"


"Kamu lapar!" Nathan menoleh ke kanan dan kiri, dia mencari tempat makan terdekat di sana.


"Indah, ini anak kamu?" Indah mengangguk lagi, "Sepertinya lapar! Ayo kita makan di sana!" tunjuk Nathan ke sebuah warung makan terdekat. Karena di sana hanya ada warung makan, berjalan ke arah Restaurant yang agak jauh, Nathan tidak tega. Dia pun mengajak Indah dan kedua anaknya makan di Warung terdekat.


Nathan membelikan mereka tiga porsi nasi ayam bakar, cumi tepung, sup ayam, dan tiga es teh.


"Makanlah!" suruh Nathan.


Mereka makan dengan sangat lahap. Begitu juga Indah. Indah memakan makanannya dengan lahap, sesekali Ia menyuapi anaknya. Baru dirinya. Nathan tersenyum melihatnya. Melihat Nathan tersenyum, Indah merasa canggung dan tidak enak.

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2