Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 103 : Wanita Ular itu Rosa


__ADS_3

Sebelum Indah sadar, Nathan menyuruh Ayah dan Ibunya untuk datang ke Rumah Sakit dan mengambil Agam. Dia tidak tega membiarkan Agam terlalu lama di Rumah Sakit. Karena Rumah Sakit tidak bagus untuk anak kecil. Apalagi untuk bayi.


Satu jam kemudian, Ayah dan Ibunya datang. Ibu menanyakan perihal perkara sebenarnya. Awalnya Mereka cemas. Ayah dan Ibu mengira, Nathan dan Michelle yang kecelakaan. Ternyata mereka sedang menolong orang.


"Bu, Nathan titip Agam ya! Biar Michelle disini menemani Nathan. Karena Ibu tahu sendiri kan, Nathan menolong teman wanita! Takut terjadi fitnah! Makanya Nathan menyuruh Michelle menemani Nathan disini!" ucap Putranya.


"Kamu tenang saja, Nath! Ibu akan menjaga cucu Ibu dengan baik! Ngomong-ngomong mana Michie?"


"Dia sedang sholat. Mungkin sebentar lagi balik kesini!"


Baru saja dibicarakan, Michelle datang dengan membawa dua kantong kresek berisi makanan dan minuman. Melihat Ibu dan ayah mertuanya datang, dia langsung menyalami keduanya.


"Ayah dan Ibu kesini?"


"Iya. Nathan yang menyuruh kami datang kesini untuk membawa Agam!" jawab Ayah.


"Oh!" wanita itu membulatkan bibirnya.


Michelle mengerti maksud dari suaminya, menyuruh Ayah dan Ibu membawa Agam. Dan kebetulan jarak Rumah Sakit dan rumah mertuanya tidak terlalu jauh.


"Iya sudah. Ibu dan Ayah langsung pulang saja! Kasihan Agam jika terlalu lama di Rumah Sakit!"


"Baiklah, Yah, Bu! Michelle minta tolong ya!" ucap Michelle, kemudian maniknya menatap putranya. Michelle mencium putranya berkali-kali. Seolah-olah dia tidak menginginkan berpisah dengan sang buah hati walau hanya sebentar.


"Uhm, anak bunda! Jangan nakal sama nenek dan kakek ya!" ucap Michelle sambil menoel hidung mancung Agam. Putranya hanya terkekeh geli.


"Baiklah, Kami langsung pulang!"


"Hati-hati dijalan, Yah, Bu!"


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam," jawab Nathan dan Michelle.


Selepas kepergian Bapak dan Ibu, Michelle mengajak sang suami untuk makan siang. Karena ini sudah jamnya makan siang. Dia membuka kantong kresek yang berisi makanan. Dan memberikannya satu pada sang suami. Nathan makan dengan lahap. Memang perutnya sudah terasa lapar.


____


____


"Sial. Kemana wanita itu?" geram Kevin, maniknya nampak mencari ke kanan dan ke kiri jalan. Namun tidak ditemukan. Dia pun memutuskan kembali ke rumah.


"Sayang, Kemana perempuan itu?" tanya Rosa menggelayut manja di lengan Kevin.


"Entahlah, Aku nggak menemukannya! ****** itu kabur!" kesal Kevin.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan! Aku yakin nanti dia kembali! Kan dua anaknya disini!" gelak Rosa sambil menunjuk sebuah kamar pembantu di samping dapur.


"Apa yang kamu katakan benar, Sayang! ****** itu pasti kembali kesini!" kekeh Kevin.

__ADS_1


BRAKK ...


BRAKK ..


Hiks ... Hiks ... Hiks


Seorang anak kecil berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar. Dia merasa takut karena adiknya yang masih kecil terus saja menangis.


"Ayah, Buka pintunya!" teriaknya, "Kasihan Vino, Yah! Dia lapar, mau ketemu sama Ibu!"


"Ayaaaaaaaah!" teriaknya lagi.


BRAKK ...


BRAKK ...


Rosa menarik tangan Kevin untuk masuk ke kamar. Mereka saling memeluk tubuh dan saling melepaskan pakaian. Bercumbu penuh dengan kenikmatan tanpa memperdulikan suara teriakan anak kecil yang dikurung di dalam kamar.


Mereka saling mereguk kenikmatan, berdua tanpa memperdulikan status mereka. Peluh dan keringat bercampur menjadi satu. Saling menyesap dan saling menikmati tautan lidah dan air liur yang menyatu.


Sementara seorang anak merasa ketakutan di dalam kamar, kala melihat sang adik menangis hingga seluruh tubuhnya membiru. Vano berusaha keras untuk mendekap erat sang adik. Bocah sekecil itu takut terjadi sesuatu dengan sang adik.


"Vino, Sabar ya! Ibu pasti datang menjemput kita! Kamu sabar! Kita pasti keluar dari kamar ini!" isaknya berusaha untuk menguatkan sang adik.


"Ibu? Dimana Ibu? Kenapa lama sekali, Bu?" isak Vano.


Hiks ... Hiks ... Hiks


____


____


Disebuah rumah besar dan cukup dibilang perumahan elit. Seperti biasa, seorang wanita sibuk membersihkan rumah. Dari pagi dia sudah mengepel, menyapu dan mencuci.


Semua dia kerjakan sendiri, setelah suaminya memecat asisten rumah tangga. Suaminya bilang, itu semua untuk mengurangi biaya pengeluaran rumah tangga. Sebagai istri dia hanya menurut dan menurut.


Setelah mengerjakan semua pekerjaan rumah, barulah dia membangunkan dua buah hatinya. Menyuruh Vano, anak pertamanya untuk mandi. Barulah wanita itu memandikan anak yang kedua.


Setelah selesai memandikan Vino, dia begitu terkejut, kala suara gaduh di meja makan. Piring dan sendok ada yang sengaja membuangnya.


Indah nama wanita itu berlari kecil menuju ruang makan. Ternyata Rosa membuang piring dan sendok yang sudah tertata rapi di meja makan.


Memang setelah kedatangan wanita yang bernama Rosa, Kevin sang suami menyuruh istrinya tidur di kamar pembantu. Sedangkan kamar yang dulu Ia tempati, diisi oleh suaminya dan selingkuhannya. Rasanya hancur sudah hati dan perasaannya. Dia sudah tidak perduli lagi dengan kelakuan bejat sang suami.


"Mana sarapannya?" teriak Rosa kepada Indah.


"Saya belum masak!" jawab Indah.


"Apa kau bilang belum masak?" bentak Rosa.

__ADS_1


"Ta-di sa-ya si-buk. Sa-ya harus memandikan Vino du-lu!"


"Aku nggak perduli!" teriak Rosa mendorong tubuh perempuan lemah itu.


Tubuh Indah terjatuh tepat di pecahan beling, hingga mengenai tangan dan kakinya. Namun dia bisa menahan rasa perih dan sakit ditubuhnya. Itu sudah biasa.


Dia sudah biasa diperlakukan seperti itu. Semenjak wanita ular itu datang dan menghancurkan biduk rumah tangganya. Rasa sakit sudah menjadi makanannya sehari-hari.


"Saya akan masak!" ujarnya dengan tangan bergetar.


"Ayo cepat! Saya lapar ******!" teriak Rosa tepat ditelinga Indah. Membuat Indah harus menutup telinganya.


"Akan aku obati dulu tanganku!"


"Apa kau bilang? Itu terlalu lama BODOH!" Rosa kembali mendorong tubuh lemah itu hingga tersungkur.


"Tapi tangan saya sakit!" pekiknya.


Bukannya iba, Rosa justru menginjak tangan Indah yang terluka itu. Membuat Indah mengaduh kesakitan.


"Sakiiiiit!" isaknya menahan rasa perih dan sakit ditangannya.


"Dasar pemalas!" ujarnya dengan masih menginjak tangan Indah.


Vano yang baru keluar dari kamar, dengan sekuat tenaga, bocah kecil itu menabrak tubuh Rosa hingga terjungkal ke samping.


BRAKK ...


Bugh ...


"Auw!" pekiknya sangat keras.


"Ada apa?" Kevin terkejut karena mendengar teriakkan Rosa yang mengaduh kesakitan.


"Sayang, Lihatlah apa yang mereka lakukan! Mereka berdua sengaja ingin mencelakai ku!" isak Rosa dengan memegangi tangannya. Sebelum itu, dia sudah melumuri tangannya sendiri dengan darah Indah yang bercecer di lantai.


Sontak Kevin begitu marah. Apalagi melihat kekasihnya terluka. Manik Kevin memerah, dia menatap tajam ke arah Indah.


"Dasar wanita tak tahu diri!" murka Kevin.


Pria bertubuh tegap itu menjambak rambut Indah. Dan mendorong hingga menabrak dinding. Entah berapa helai yang tercabut paksa dari kulit kepalanya. Indah merasakan sakit yang luar biasa pada seluruh tubuhnya.


Belum lagi tubuhnya yang dibanting. Dan dipukuli dengan sapu. Dia hanya bisa berteriak dan meminta ampun pada sang suami yang kalap. Namun Kevin tidak mau berhenti memukuli dirinya. Hingga Vano, putranya. Dia berusaha dengan keras memohon di kaki sang ayah, untuk menghentikan aksinya memukuli tubuh sang ibu.


"Ayaaaaah, berhenti! Kasihan Ibu!" isak Vano melihat Ibunya yang sudah tidak berdaya.


"Sayang, Vano juga mendorongku! Anak ini yang membuatku jatuh, Sayang!" seru Rosa.


Kevin menoleh ke arah Vano. Dia pun menarik tangan anak kecil itu, dan mengurungnya dengan sang adik di kamar. Dia biarkan Vano dan Vino menangis keras di kamar.

__ADS_1


To be continued ...


Hey², Mana dukungannya?????


__ADS_2