
"Dewi? Jika Padhe sama Budhe tahu apa yang terjadi sama kamu, pasti mereka sangat sedih!" batin Michelle.
"Hey, kenapa melamun?" tepukan tangan Mba Retno membuyarkan lamunannya.
"Eh, nggak ada apa-apa Kok, Mba," ucapnya tersenyum, "Oya, Mba, jangan sampai ayah dan ibu mengetahui perihal ini. Michie takut jika ayah sampai tahu, penyakitnya akan kambuh,"
"Iya, mba tahu. Tapi, Apakah baik jika kita menyembunyikan kebenaran dari ayah. Lambat laun ayah akan mengetahuinya. Ibarat bangkai, serimpan apapun bangkai disembunyikan, baunya akan tercium juga,"
"Iya, Mba. Michelle tahu. Tapi, kita lakukan untuk kebaikan semuanya. Biarlah waktu yang mengungkapkan. Kita hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik,"
"Baiklah, jika itu mau kamu. Lalu, Bagaimana hubunganmu dengan Nathan? Setelah Kamu tahu bahwa adik Mba seperti itu?"
"Huft," Michelle membuang nafasnya kasar.
"Doakan saja, Semoga Mas Nathan berubah. Michie akan memberikan kesempatan kedua untuk Mas Nathan. Michie mau mempertahankan rumah tangga ini," ujarnya.
Mba Retno sangat kagum dengan keputusan wanita cantik di depannya. Dia tahu betul bahwa seorang wanita yang sudah sering disakiti hatinya, pastilah jarang ada yang mau mempertahankan pernikahan tersebut. Mereka akan lebih memilih bercerai dan menjalani hidupnya masing-masing. Namun, wanita yang sedang duduk di depannya adalah sosok wanita yang luar biasa, yang Allah pilihkan untuk adiknya Nathan. Mba Retno memeluk adik iparnya.
"Mba sebagai kakak kandung Nathan sangat malu memiliki adik berkelakuan bejat seperti dia. Mba akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Kamu adalah seorang istri solehah, perhiasan yang tidak ternilai harganya. Bodohnya Nathan, dia sudah menyia-nyiakan istri cantik dan solehah sepertimu," isaknya.
"Terima kasih banyak, Mba," isak Michelle juga. Tidak terasa bajunya dibanjiri oleh air mata mereka.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar hebat setelah membuka amplop putih itu. Disana tertulis dengan jelas bahwa dirinya dinyatakan positif HIV oleh Rumah Sakit. Sesuatu yang ditakutkannya selama ini akhirnya terjadi juga. Dunianya terasa sangat gelap. Hatinya kosong, dan merasakan penyesalan yang tiada guna.
Dua Minggu yang lalu, wanita cantik itu mendapatkan sebuah kabar duka, yaitu meninggalnya pemilik agensi tanpa nama. Dan penyebab kematiannya adalah penyakit terkutuk itu. Mendengar berita itu, kakinya terasa lemas, pikirannya traveling kemana-mana. Dia pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke RS.
Dewi Maharani adalah sepupu dari Michelle, wanita cantik itu sudah terjebak terlalu dalam. Dia mengikuti ajang pencarian model porno, dengan bayaran yang tinggi. Bahkan pendapatan yang diperolehnya melebihi dari pendapatan di agensi modelnya dulu.
Dewi mencari agensi lain yang bakatnya bisa ia salurkan, dan paling terpenting baginya adalah pendapatan yang diperoleh lebih dari agensinya dulu. Dia pun ditawari untuk menjadi model porno.
Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kali. Tanpa berpikir panjang, Dewi pun menandatangani kontrak perjanjian dengan pihak agensi.
__ADS_1
Awal melakukan pekerjaan pertama, dia terlihat nampak takut dan malu. Apalagi semua pekerjanya adalah seorang pria. Dimana dia harus berpose sensual tanpa busana, didepan banyak mata pria. Tidak bisa ia bayangkan? Namun karena dia sudah terlanjur menadatangani kontrak, dengan setengah hati dia melakukan pekerjaan itu.
Dalam waktu tiga bulan dia mendapatkan hasil yang fantastik. Bahkan dengan hasil kerja kerasnya, dia bisa membeli Apartemen mewah di pusat kota.
Untuk meningkatkan karirnya, Dewi Maharani bersedia menjadi wanita simpanan pemilik agensi. Dia menyerahkan kegadisannya demi karier semata.
Namun sungguh naas, dia dihadapkan dengan keadaan yang menyedihkan. Pria yang sudah menidurinya berkali-kali adalah seorang maniak \*\*\*\*, dimana ribuan wanita penghibur sudah menjadi penghangat ranjangnya. Termasuk model-modelnya sendiri.
Dewi duduk di sofa Apartemennya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana. Bukan hanya cita-citanya yang telah hancur, tubuh dan hatinya juga ikut hancur. Dia terisak sendiri meratapi nasibnya.
to be continued .....
__ADS_1