Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 42 : Membawa Abah ke RS


__ADS_3

"Kewajiban apa yang kamu maksud? Pernikahan macam apa yang kamu pertahankan? Abah sudah mendengar semua dari Dewi. Jika bukan karena penyakit itu, Nathan juga akan menceraikanmu. Dan hidup dengan Dewi, bukankah begitu?" bentak Abahnya. Michelle hanya terdiam, dia bingung harus menjelaskan apa kepada Abahnya. Tapi, memang apa yang dikatakan Abah semuanya tidak ada yang salah.


"Tapi, Bah ... !" belum menyelesaikan kalimatnya, Faiz sudah menarik tangan Michelle untuk segera mengemasi barang-barangnya.


"Ayo, cepat kemasi barang-barang kamu!" bentak Faiz.


"Nggak, Bang. Michelle nggak mau!" isak Michelle, "Lepaskan, Bang! Michelle mempunyai hak menentukan masa depan Michelle!"


"Kau mau jadi anak durhaka dan pembangkang! Hah!" hardik Faiz.


"Bang, Tolong jangan kasar sama Michie!" bela Nathan yang melihat istrinya diseret.


"Tahu apa kamu?" bukannya melepaskan, justru Faiz kalap. Dia kembali memukuli wajah Nathan.


"Maaaaaaaas!" jerit Michelle.


"Bugh ... Bugh ... Bugh!"


"Faiz!" teriak Abah.


"Bang Faiz, Hentikan!" teriak Michelle sambil terisak.


Melihat tindakan brutal Faiz, Abah berusaha melerai mereka. Namun tenaga Faiz dan Nathan yang terlalu kuat, membuat tubuh Abah terdorong, dan kepalanya membentur sudut meja. Darah segar mengalir di kepala sang Abah.


"Aaaaaaaaahhh," pekik Abah.


"Abah?" teriak Michelle melihat Abahnya ambruk, jatuh dan pingsan. Sontak dua pria itu berhenti, dan menoleh ke sumber suara Michelle yang berteriak.


"Abah?" Michelle menggoyangkan tubuh Abahnya. Namun tidak bangun juga.


"Mas, kening Abah berdarah. Ayo bawa ke Rumah Sakit!" suruh Michelle.


"Bang, bantu aku!" pinta Nathan. Faiz pun membuang ego-nya, untuk menolong sang paman.

__ADS_1


Mereka berdua membopong tubuh Abah masuk ke mobil. Dengan gegas, Faiz menyalakan mesin mobil, untuk membawa pamannya ke Rumah Sakit.


Sedangkan Michelle dan suaminya menyusul dari arah belakang dengan mobilnya sendiri. Michelle nampak sangat gelisah. Dari tempatnya duduk, badannya tidak berhenti bergerak. Nathan bisa merasakan kegelisahan sang istri. Dengan lembut Nathan menggenggam tangan sang istri.


"Kita akan hadapi sama-sama! Kamu jangan khawatir ya!" ucap Nathan berusaha untuk menenangkan hati sang istri. Michelle menoleh ke arah suaminya. Dia mengulas senyum termanisnya.


"Iya, Mas. Kita sama-sama berdoa ya! Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Abah!"


"Iya, Sayang!"


Sampai di Rumah Sakit. Faiz berteriak meminta tolong kepada petugas RS. Dua petugas datang dengan membawa brankar. Mereka membopong tubuh tua renta itu ke brankar, dan segera dilarikan ke ruang UGD. Nathan dan Michelle mengekor dibelakang Faiz.


Mereka menunggu di depan ruangan UGD dengan perasaan yang campur aduk. Nathan berusaha untuk menenangkan hati istrinya. Nathan sadar, sumber dari masalah ini adalah dirinya. Dan dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga tidak mau masalah seperti ini terjadi.


"Kita berdo'a, Sayang!" suruh Nathan kepada istrinya.


"Iya, Mas," sahut Michelle.


"Ini semua gara-gara Kau! Jika sesuatu terjadi pada Paman. Aku akan membuat perhitungan denganmu!" hardik Faiz.


"Sudah dong, Bang. Abah sedang ditangani oleh Dokter. Sedikit saja Abang bersimpati dengan keadaan Abah!" kesal Michelle pada sepupunya itu.


Faiz pun mengatupkan rahangnya, menahan amarah yang sudah memuncak di ubun-ubun. Michelle kembali duduk disebelah suaminya. Dia melirik ke arah Faiz, sepertinya Faiz sedang menghubungi seseorang. Entah siapa itu, Michelle tidak tahu.


Bibir Nathan tidak berhenti berdzikir dan berdoa. Dia menginginkan yang terbaik untuk ayah mertuanya. Dia sadar, dirinya adalah akar dari semua masalah. Tapi, jika dia dituduh sebagai penular penyakit terkutuk itu. Hati nuraninya membantah. Namun dia belum terpikir untuk memberikan bukti-bukti kepada keluarga istrinya. Yang sekarang dia fokuskan adalah kesembuhan ayah mertuanya.


Satu jam menunggu, akhirnya Dokter keluar dari ruangan UGD. Michelle dan Nathan langsung berdiri mendekati Dokter tersebut. Mereka semua nampak sangat khawatir.


"Keluarga Abah Aang Koswara Atmaja?" panggil Dokter.


"Saya, Dok. Saya anaknya," ujar Michelle, "Bagaimana keadaan Abah saya, Dok?" tanya Michelle.


"Alhamdulillah lukanya nggak terlalu dalam. Ada sedikit sobekan dikeningnya. Dan sudah saya jahit. Mungkin beberapa jam kedepan, Abah akan sadar. Sementara dirawat di RS dulu ya, Bu. Kita periksa ulang. Takutnya ada cidera dikepala yang tidak kami ketahui. Ibu bisa mengurus administrasi di depan. Agar pemindahan pasien ke ruang rawat dilakukan hari ini juga!" ucap Dokter.

__ADS_1


"Terimakasih banyak, Dok!" jawab Michelle dan Nathan.


Setelah Dokter pergi. Nathan berpamitan kepada Michelle untuk mengurus biaya ke bagian admistrasi. Michelle tahu, bahwa saat ini keuangan suaminya sedang tidak baik-baik saja. Dia pun menyerahkan kartu kreditnya kepada sang suami tanpa sepengetahuan Faiz.


"Pakailah ini untuk membayar biaya RS!"


"Tapi, Sayang!" kata-katanya tercekat di tenggorokan.


"Aku tahu. Mas sedang membutuhkan uang banyak untuk usaha, Mas. Apalagi kemarin saja sudah banyak uang yang keluar untuk membeli ruko. Jadi, pakai saja punyaku. Aku mohon jangan menolak. Kita kan suami-istri. Jadi harus saling membantu!" ucap Michelle dengan tulus.


"Aku tidak mau. Aku benar-benar tidak berguna untukmu saat ini!" sedih Nathan.


"Jangan berkata begitu, Mas. Jika Mas tidak enak, anggap saja Mas meminjam dari aku. Dan setelah Mas ada uang, Mas bisa membayarnya. Bagaimana?" Nathan nampak berfikir.


"Baiklah. Terimakasih, Sayang!" jawab suaminya tersenyum.


Sebenarnya Nathan sangat malu dengan keadaannya sekarang. Dia sudah menjadi suami yang tidak berguna untuk istrinya. Dulu, dia sangat loyal membelanjakan uangnya untuk Dewi. Membelikan Dewi barang-barang branded. Makan di Restaurant mewah. Dan membelikan banyak perhiasan untuk kekasih gelapnya. Sekarang, untuk membantu membayar biaya RS saja, dia harus memakai kartu kredit sang istri. Penyesalan itu yang sekarang ini menggelayut di pikirannya.


Setelah membayar biaya RS, Nathan kembali ke ruangan UGD. Ternyata pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat. Michelle mengirimkan notifikasi pesan ke ponselnya, dan kebetulan baru dibuka oleh Nathan.


"Mas, Abah sudah dipindahkan oleh Bang Faiz ke ruangan VIP. Cepat datanglah kesini. Umi dan keluarga yang lain juga sudah datang," pesan dari istrinya.


Nathan pun menyusul ke ruangan VIP. Dengan langkah pasti dia datang ke sana. Hati kecilnya tidak berhenti berdoa, ada ketakutan terbesar yang akan terjadi di depan mata. Namun dia harus tegar menghadapinya.


Di depan ruangan VIP, sudah berdiri Michelle dan keluarganya. Ada Faiz, kedua orang tua Faiz, dan adik Michelle. Mereka menatap ke arah Nathan dengan tatapan tidak suka. Melihat suaminya datang, Michelle langsung menghampirinya. Dan menyuruh sang suami untuk menyalami pakdhe dan budhenya.


"Pakdhe! Budhe!" bukan uluran tangan yang ia dapatkan, namun sebuah tamparan keras yang berhasil mendarat di pipinya.


PLAKK ...


Darah keluar dari sudut bibir Nathan. Rasa perih, pedih dan panas menjalar di pipinya. Michelle sangat terkejut dengan perlakuan Pakde Kartono, kakak kandung Abahnya. Orang tua yang sangat ia dan keluarganya hormati.


to be continued .....

__ADS_1


__ADS_2