Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 32 : Ketulusan Michelle


__ADS_3

Hampir Maghrib, suaminya belum kunjung pulang. Tentu saja Michelle sangat khawatir. Dia berdiri menunggu kedatangan suaminya. Hatinya gelisah tidak karuan. Michelle berusaha untuk mendial nomor suaminya, namun ponselnya tidak aktif.


"Mas, kamu kemana sih?" batinnya. Niat hati ingin menyusul sang suami, sebuah taksi berhenti didepan rumah. Michelle menautkan kedua alisnya, penasaran dengan penumpang yang ada di dalamnya.


"Mas?" keluar seorang pria dari dalam taksi. Hatinya senang bukan kepalang. Michelle menyambut kedatangan suaminya. Dia mencium punggung tangan Nathan dengan takzim. Nathan mengulas senyum. Rasa lelah tergantikan setelah melihat sang istri. Nathan mencium kening Michelle penuh rasa cinta dan sayang.


"Ayo masuk dulu!" ajaknya sambil menggamit lengan sang suami. Michelle pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh hangat. Kemudian dia berikan kepada suaminya.


"Minum dulu, Mas!"


"Terimakasih banyak, Sayang,"


Glek ..


Satu cangkir teh hangat tandas tanpa sisa. Michelle tersenyum sangat manis. Menampilkan sederetan gigi putihnya.


"Gimana? Apakah Mas sudah mendapatkan pekerjaan?" pertanyaan Michelle membuat Nathan tidak bersemangat. Dia tertunduk lesu dan sedih.


"Tidak apa-apa. Mungkin belum rezekinya. Kita harus lebih bersungguh-sungguh lagi berdo'a, supaya Allah mengabulkan doa kita," jawab istrinya. Kata-kata istrinya seperti siraman qolbu yang sangat menyejukkan. Nathan menatap manik bening itu. Dia mencium kening istrinya dengan penuh cinta dan sayang.


"Sudah sholat ashar?" tanya Michelle.


"Sudah, Sayang. Tadi Mas mampir ke Mesjid sebentar, kemudian sholat ashar di sana,"


"Alhamdulillah. Kalau begitu Mas mandi ya! Aku akan menyiapkan baju ganti untuk Mas,"


"Terimakasih banyak, Istriku!" Michelle tersipu malu.

__ADS_1


Sembari menunggu suaminya mandi, dia menyiapkan baju ganti di kasur. Kemudian dia ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Michelle sibuk dengan bahan-bahan di dapur. Tangan lentiknya sangat cekatan mengolah bahan-bahan makanan. Sop ayam kampung, sambel hati sapi dan perkedel siap di hidangkan. Aromanya sangat menggugah selera. Membuat suaminya yang baru selesai mandi langsung keluar menuju dapur.


Perutnya terasa sangat lapar. Sedari siang, dia belum mengisi perutnya. Nathan harus lebih berhemat, karena uang direkeningnya sudah sangat menipis. Dia harus mempergunakan tabungannya sebaik mungkin, sampai ia mendapatkan pekerjaan lagi.


"Heum, baunya lezat banget, Sayang. Tercium sampai ke kamar," puji Nathan sambil memeluk pinggang Michelle dari belakang.


"Tentu saja. Kan aku yang memasak," ujarnya, "Mau makan sekarang?"


"Ehm, tapi, ini belum jam makan malam?" ucap Nathan sambil melirik jam yang terpasang di dinding.


"Ehm, aku tahu kok. Sedari siang kamu belum makan," ucap Michelle membuat Nathan terhenyak.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya mengira saja," kekeh Michelle. Nathan hanya terdiam. Sudah dipastikan, suaminya memang belum makan sedari siang. Dan Michelle yakin, suaminya sedang mengalami kesulitan keuangan.


"Ayo makan!" Michelle menggandeng suaminya ke meja makan. Dia menyendokkan nasi, sayur dan lauk.


"Makanlah,"


Suaminya makan dengan sangat lahap. Satu piring ia habiskan dengan cepat. Michelle mengambilkan satu gelas air putih untuk suaminya.


"Terimakasih, Sayang,"


"Pelan-pelan minumnya!"


"Kok kamu nggak makan?" sedari tadi Michelle hanya menatapnya makan.


"Aku belum lapar, Mas," jawab Michelle, "Kalau sudah lapar pasti aku akan makan!"

__ADS_1


"Oh,"


"Alhamdulillah," ucap suaminya, merasa perutnya sudah kenyang.


"Terimakasih banyak, Sayang," ucap Nathan.


"Jangan berterima kasih terus. Kan ini sudah menjadi kewajiban ku," ucap Michelle sambil tersenyum.


Selesai membereskan meja makan, Michelle mendekati suaminya yang sedang bersantai di dekat kolam renang. Nampaknya sang suami sedang melamun. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Mas?" panggil Michelle lembut.


"Eh, Sayang," kaget Nathan.


"Ini!" Michelle menyodorkan amplop coklat berisi uang.


"Apa ini?"


"Uang,"


"Untuk apa?"


"Bisa Mas gunakan untuk keperluan Mas, sebelum Mas mendapatkan pekerjaan,"


"Tapi kenapa? Apakah kau tidak percaya kepadaku, Sayang?"


to be continued ...

__ADS_1


__ADS_2