
"Bagaimana pertemuan Mas dengan Bang Byan?" tanya istrinya, saat mereka bersantai di dalam kamar.
"Baik, Sayang. Aku sudah bertemu dengan teman Bang Byan. Namanya Marco. Dan, rencananya Marco akan kembali ke Australia untuk melanjutkan bisnisnya di sana. Itulah mengapa Marco menjual tokonya,"
"Oh, begitu. Aku jadi penasaran deh Mas, tokonya seperti apa," kekeh Michelle.
"Nanti jika kamu punya waktu, Mas akan mengajakmu melihat cafe kita. Ada beberapa sih yang perlu direnovasi," ucap suaminya.
"Aku mau, Mas," ucap Michelle bahagia.
"Oya, Sayang. Setelah aku membuka cafe, kamu mau kan berhenti bekerja?" tanya Nathan berhati-hati. Nathan takut kalau istrinya akan tersinggung. Michelle duduk di samping sang suami, dan menyenderkan kepalanya di dada bidang milik sang suami. Nathan memainkan rambut hitam, panjang dan wangi milik istrinya.
"Iya, Mas. Aku akan berhenti bekerja," jawab Michelle, "Mas adalah imamku. Dan seorang istri harus taat dan patuh kepada suaminya,"
"Wanita-wanita yang salehah akan senantiasa taat kepada Allah, patuh kepada suami dan menjaga hak-hak suami mereka," imbuhnya lagi.
"Terimakasih banyak, Sayang. Kamu begitu menghormati dan menghargai aku sebagai seorang suami. Padahal aku sudah sering menyakiti hatimu!" ucap Nathan menatap manik istrinya dengan syahdu.
"Jangan ucapkan itu lagi!" Michelle menutup mulut suaminya dengan tangannya. Dia menggeleng pelan.
"Aku tidak mau Mas terus menyalahkan diri sendiri. Aku sangat bahagia, Mas Nathan bisa berubah. Mas Nathan kembali ke jalan yang benar," ujar Michelle.
“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At-Taubah {9} : 104).
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa' {4} : 110).
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisa’ {4} : 145-146).
"Di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allâh berfirman, Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. At-Tirmidzi no.3540)
"Disitu sudah sangat jelas apa maksudnya. Perbanyaklah taubat dan istighfar, itulah yang akan menghilangkan gelapnya hati dan membuat hati semakin bercahaya sehingga mudah menerima petunjuk atau kebenaran," tutur suaminya.
"Iya, Sayang. Kau benar. Aku ingin bertemu dengan Bang Adnan dan belajar banyak dari beliau," ucap Nathan.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya, hati suamiku dibuka lebar. Semoga taubatnya, Engkau terima dan mudahkanlah jalannya,"
"Amin," dijawab oleh Nathan dengan penuh pengharapan dan kebahagiaan, "Kapan-kapan kita main ke rumah Bang Adnan ya!"
__ADS_1
"Boleh. Kenapa kita nggak datang ke tempat ngajinya saja?" ucap Istrinya.
"Kau benar, Sayang. Kita datang ke tempat ngaji Bang Adnan,"
"Iya, Mas. Nanti aku Antarkan kes sana," ucap Michelle tersenyum manis.
"Bolehkah malam ini Mas meminta hak Mas?" tanya Nathan tanpa merasa malu. Michelle yang mendengar jadi merasa sangat malu dan gugup. Seketika pipinya memerah.
"Iya, Mas," jawab Michelle menahan malu.
Rona merah jambu menghias dipipi wanita yang tengah berbaring. Sedangkan Nathan bagaikan kumbang lapar menatap madu yang tersaji di depannya. Sentuhan jari lentik menyusuri wajah yang terpejam. Tidak perduli lagi dengan helaian kain-kain yang berserakan di lantai. Berbagi selimut dan mengikis jarak diantara keduanya. Mereka larut dalam percintaannya, menyemai benih-benih harapan dan keturunan.
Suara deru nafas panjang terdengar. Menandakan ada aktivitas yang membuat mereka terhempas. Tubuh mereka menyatu dengan iringan basmalah, agar menjadi jalan harapan akan hadirnya jiwa-jiwa yang baru.
"Semoga apa yang kusemai menjadi benih-benih yang tumbuh di rahimmu, dan menjadi cikal bakal keturunan terbaik kita," bisik Nathan.
"Amin," Michelle tersenyum dan menarik tubuh suaminya, untuk menjadi selimut dikala lelahnya.
☄️☄️☄️☄️☄️
Keesokkan Paginya
Sangat berat bagi bos-nya untuk kehilangan sekertaris seperti Michelle. Bukan hanya cekatan dalam bekerja. Michelle juga tergolong sangat pintar. Dia bisa menyelesaikan pekerjaan yang diberikan bosnya dengan sangat baik. Dan membuat Maya sangat mengagumi Michelle, dia wanita yang agamis. Menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam kehidupannya. Meskipun dia seorang sekertaris, dia menutup auratnya dengan cara yang sopan. Jarang ada seorang sekretaris yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tertutup. Mereka malah bangga dengan menampilkan auratnya.
"Baiklah, Michelle. Aku tidak akan melarang kepergian mu. Sebenarnya ini sangat berat untukku. Harus kehilangan orang sepertimu. Tapi, itu adalah hakmu. Aku tidak akan melarang mu!" ucap Bu Maya, selaku bos-nya.
"Terimakasih banyak, Bu. Ibu inspirasi saya menjadi sukses. Semoga ibu mendapatkan sekretaris seperti saya. Bahkan kemampuannya melebihi saya!"
"Iya, Kamu dan suami juga sukses ya!"
"Terimakasih banyak, Bu!"
Setelah berpamitan, Michelle pun keluar dari ruangan bos-nya. Nampak Tasya sudah menunggu kedatangannya. Matanya berkaca-kaca saat menatap sahabatnya. Michelle memeluk tubuh Tasya.
"Gue pasti akan sangat merindukan, Lu!" ucap Tasya.
"Aku juga, Sya!" sahutnya, "Jika kamu kangen, kamu bisa mampir ke cafe. Aku akan menerima kamu dengan senang hati,"
__ADS_1
"Ah, Michelle. Gue jadi terharu. Lu memang sahabat gue!" isaknya.
"Malu dong, Sya. Jangan nangis lagi!" kekeh Michelle.
"Iya, Gue sedih, Beb. Nggak ada Lu, pasti gue kesepian!" isaknya sambil mengusap ingusnya.
"Ih, kamu jorok banget sih, Sya!" gadis itu malah tertawa cekikikan.
"Aku pulang ya. Nanti kalau aku butuh bantuan kamu, aku akan menelfon mu!"
"Baiklah. Gue tunggu telefon dari Lu, Michelle!"
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam,"
Michelle berpamitan dengan orang-orang di kantor. Sikap ramah Michelle membuat mereka sangat kehilangan sosok Michelle.
"Hati-hati ya, Mba. Sukses selalu buat Mba dan suami," ucap mereka satu persatu.
"Terimakasih banyak," sahutnya.
Setelah berpamitan kepada semuanya. Michelle pun melangkahkan kakinya keluar dari Perusahaan. Dia menatap Perusahaan dengan senyum mengembang. Ada kebanggaan tersendiri dihatinya. Namun, kewajiban seorang istri adalah mentaati dan mematuhi perintah suaminya. Dia menyeka sedikit air matanya. Kemudian keluar dari Perusahaan tersebut dengan senyum mengembang.
"Sudah, Sayang?" tanya Nathan, melihat istrinya membawa barang-barang. Dan Nathan membantu memasukkan barang -barang sang istri ke bagasi mobil.
"Sudah semua, Mas. Ayo kita jalan !"
"Baik, Sayang," sahutnya, "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya suaminya melihat sang istri bersedih.
"Nggak, apa-apa kok. Mas tenang saja!" jawabnya sambil tersenyum.
to be continued ....
☄️☄️☄️☄️☄️
Maaf baru update, terjadi kesalahan teknis diprofil Author. Semoga Author bisa lebih bersemangat lagi meneruskan cerita ini....
__ADS_1
Ayo kasih dukungannya dengan like, komentar, bunga dan votenya.......🥰🥰🥰