
Sedangkan Nathan sedang sibuk mengupas mangga di dapur. Setelah di kupas dan di cuci, Nathan memotong-motong mangga tersebut ke bagian paling kecil. Supaya istrinya tidak kesusahan saat akan memakannya.
Michelle keluar dari kamar mandi dengan memakai daster panjang. Dan berlengan pendek. Rambutnya yang basah dan panjang tergerai indah.
Nathan masuk ke kamar dengan membawa baki berisi irisan mangga dan susu hamil. Ternyata Michelle sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Nathan tersenyum tipis. Dia meletakkan baki tersebut di atas meja. Dan mengambil handuk dari tangan istrinya, kemudian membantu mengeringkan untaian hitam dan panjang itu.
"Terimakasih, Mas!"
Nathan lebih mendekatkan tubuhnya ke arah istrinya. Dari arah belakang, dia memeluk tubuh sang istri dengan mesra. Mencium wangi shampoo pada rambut istrinya. Menyenderkan dagunya di pundak sang istri.
"Aku merindukanmu!"
"Aku juga Mas." Michelle tersenyum manis.
"Apakah Mas mau mandi?"
"Sebentar lagi. Aku ingin memelukmu sebentar lagi!"
Michelle membiarkan tubuhnya dipeluk oleh sang suami. Dia tahu, pasti suaminya sangat merindukan dirinya. Begitu juga sebaliknya. Dia juga sangat merindukannya.
"Mas, Cepatlah mandi! Nanti keburu malam!" suruh Michelle.
"Ehm, baiklah. Aku akan mandi dulu!"
"Sudah mandi saja! Biar aku yang menyiapkan baju ganti!"
"Terimakasih banyak, Sayang!"
"Sama-sama."
"Oya, itu aku sudah membawa pesanan kamu. Kamu makan ya!"
"Iya, Mas. Nanti aku makan!"
"Susunya juga jangan lupa!"
"Iya. Sudah sana mandi! Kasihan ayah dan Ibu, pasti mereka menunggu Mas di meja makan!"
"Iya, Sayang!"
Setelah suaminya masuk ke kamar mandi. Segera Michelle menyiapkan baju ganti suaminya. Dia tata dengan rapih di atas kasur.
Nathan selesai mandi dan berganti baju. Dia berkumpul di meja makan untuk menikmati makan malam. Sedangkan istrinya tidak keluar kamar. Michelle memilih di kamar, karena kepalanya sedikit pusing dan perutnya terasa mual.
Nathan segera menghabiskan makanannya. Kemudian langsung menyusul ke kamar untuk melihat sang istri. Dia lihat, sang istri sudah terlelap. Mungkin karena kecapean, membuatnya tidur lebih awal. Nathan tidak mau mengganggu, dengan perlahan dia menutup pintu. Memandang wajah cantik sang istri. Bahkan istrinya terlihat lebih cantik saat sedang mengandung.
Nathan mendekatkan diri ke tempat tidur. Dia mengusap-usap perut istrinya. Terbit senyumnya di bibir. Betapa bahagia hatinya. Sebentar lagi akan ada suara tangisan bayi, dan akan ada makhluk mungil yang akan selalu membuatnya terjaga.
Nathan cium kening Michelle dengan penuh kasih sayang. Dengan penuh cinta. Kemudian dia berdoa kepada Allah, meminta agar rumah tangganya kali ini tidak ada gangguan, dan dijauhkan dari orang-orang yang dzalim.
Keesokkan paginya, seperti biasa Michelle selalu bangun pagi untuk melaksanakan sholat subuh. Saat akan bangun, dia merasa berat dibagian perutnya. Ternyata tangan Nathan memeluknya dari belakang.
Michelle memutar tubuhnya menghadap persis ke arah sang suami. Dia tersenyum manis. Meraba bibir mancung itu, dan bibir yang menurutnya seksi.
"Apakah aku terlihat tampan?" ucap Nathan. Namun matanya masih terpejam. Michelle sedikit terkejut. Ternyata suaminya sudah bangun dari tadi.
"Kamu sudah bangun, Mas?"
"Iya. Bangun dari tadi. Bahkan aku mendengar kau memuji di dalam hati!" goda Nathan, membuat Michelle tersipu malu. Pipinya merona merah.
"Ck, sudah bangun dari tadi. Kenapa harus berpura-pura tidur?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin menggoda mu!" ujarnya.
"Aku mau mandi dan sholat subuh!"
"Tunggu dulu!" Nathan menarik tangan Michelle hingga terhuyung ke belakang, dan Nathan menangkap tubuh sang istri.
"Aku sangat merindukanmu!" ujarnya.
"Ish, Mas. Sebentar lagi mentari akan bersinar, Cepatlah mandi dan sholat subuh!"
"Iya, Sayang. Berikan aku ciuman dulu!" pinta Nathan.
"Ih, Mas. Malu ah!"
"Ayo dong, Sayang. Lumayan lama kan kita tidak berciuman!" kata-kata suaminya membuat Michelle malu sendiri. Pipinya semakin merona.
"Muuaacccchhhh."
"Sudah ah, aku malu!" lirihnya. Segera Michelle beranjak dari tempat tidur, langsung ke kamar mandi. Nathan hanya tergelak.
"Hem, menggemaskan. Padahal sudah hampir enam tahun menikah. Masih saja dia malu-malu!" gumam Nathan.
Selesai mandi, Mereka sholat subuh berjamaah. Selesai sholat, mereka saling mendoakan satu sama lain. Saling mengecup, saling memuja dan memuji.
Michelle keluar kamar. Dia melihat Mba Retno sedang sibuk di dapur menyiapkan menu setengah jadi untuk dibawa ke Cafe.
"Selamat pagi, Mba!" sapa Michelle.
"Pagi,"
"Oh, ini. Mba buat rolade daging ayam dan sapi. Ini juga ada lumpia kering isi rebung dan ebi. Coba deh! Enak ngga?"
"Michie coba satu ya, Mba!"
"Ayo cobalah!"
"Ehm, enak, Mba. Ini enak banget!" puji Michelle.
"Ini juga ada pastel isi ayam, risoles isi kornet dan keju. Coba juga nih!"
"Duh sepertinya enak semua!"
"Biar Michelle bantu, Mba!"
"Memang kamu sudah nggak mual kalau bau masakan?"
"Mendingan, Mba."
"Ehm, iya udah deh kalau mau bantu. Mba nggak bisa nolak!" gelaknya.
"Tolong lumuri dengan tepung panir ya! Nanti kalau sudah semua taruh di toples itu. Nanti akan Mba bawa ke cafe dan ditaruh di freezer. Jadi Mba tinggal goreng saja!"
"Wah, Mba pintar."
"Enak nggak, Michie?"
"Enak, Mba. Luar biasa enak!" ujarnya.
"Alhamdulillah."
__ADS_1
"Sayang, Apakah kau mau ikut ke Cafe?" tanya Nathan yang baru keluar dari kamar. Nathan sudah menggunakan kaos warna hitam dan jas warna hitam juga. Tidak terlalu formal, tapi cukup rapih dan cocok untuk ukuran seorang bos.
"Boleh, Mas. Daripada aku hanya berdiam diri di rumah!"
"Iya, Sudah. Kamu siap-siap dulu!"
"Iya, Mas."
Setelah semuanya siap, mereka semua masuk ke mobil untuk berangkat ke Cafe. Ayah dan Ibu tidak ikut. Nathan melarang mereka untuk ikut, karena Nathan tidak mau ayah dan ibunya kecapean karena membantu di cafe.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju cafe. Sepanjang perjalanan Mba Retno tidak berhenti bercerita, menceritakan keadaan Cafe yang ramai, dan hari kedua juga tidak kalah ramainya. Michelle yang mendengar hanya terkekeh geli.
"Sudah sampai! Ayo turun, Sayang!" ajak Nathan membantu istrinya turun dari mobil.
"Terimakasih, Mas."
Mba Retno turun dari mobil, menyuruh Udin untuk membawa barang-barang yang ada di mobil. Sedangkan karyawan yang lain menyambut ramah kedatangan bos dan istri bos-nya.
"Semangat kalau bekerja!" ucap Nathan.
"Siap, Bos!"
Ada yang membersihkan meja. Ada juga yang menyapu dan juga mengepel lantai. Dan sisanya menata kursi dan meja agar terlihat semakin rapih.
"Sayang, Kau duduk saja disini! Jangan terlalu capek! Oke!"
"Oke, Mas!" Michelle terkekeh geli.
Suaminya juga ikut membantu. Mengecek bahan-bahan yang habis. Dan mengecek apa yang kurang dari Cafenya.
Sedangkan Mba Retno sudah sibuk di dapur. Menggoreng sebagian risoles, pastel, dan lumpia untuk dipajang di etalase.
Chef juga sedang sibuk membuat cheese cake dan donat. Cafe ini sedang promosi sampai tiga hari. Kalau membeli makanan dalam jumlah banyak, maka akan mendapat bonus satu kotak donat berjumlah 4 donat.
Tepat pukul 9 pagi, Cafe sudah mulai dibuka.
Pelanggan pertama, dua perempuan centil masuk ke dalam cafe. Dan duduk di sebelah jendela. Sepertinya mereka anak-anak kuliah. Bisa dilihat dari tas dan buku yang mereka bawa.
Sebagai pelanggan pertama, Nathan menyambut dengan ramah.
"Mau pesan Apa, Mba?" tanya Nathan. Kedua perempuan itu saling melempar pandang. Kemudian saling berbisik. Masih bisa didengar lirih, kalau dua perempuan itu sedang memuji ketampanan Nathan. Namun Nathan pura-pura cuek saja.
"Ehm, Ehm. Mau pesan apa?" Nathan mengulang pertanyaannya.
"Untuk sarapan, Apa yang paling enak di Cafe ini?" tanya gadis berkacamata.
"Ada sandwich isi daging, ada juga burger. Atau cemilan yang enak untuk mengganjal perut Nona sekalian. Ada pastel, risoles, dan lumpia!" ujar Nathan. Dari jauh Michelle mengangumi cara suaminya mempromosikan menu yang ada di Cafe ini. Michelle tersenyum tipis.
"Kalau minumnya, disitu ada menu minuman yang cocok diminum saat pagi hari. Ada susu hangat, cokelat panas, dan jus juga sangat bagus untuk pencernaan Anda!"
"Oke deh, Om. Saya mau pesan dua sandwich dan dua susu cokelat ya, Om!"
"Oke. Pesanan sudah saya catat. Ditunggu ya, Mba! Terimakasih!" ucap Nathan.
Nathan memberikan catatan itu kepada Mba Retno. Supaya segera disiapkan. Sepuluh menit kemudian, pelayan menyajikan di meja nomor 7. Tempat dua anak kuliah tersebut.
Kemudian datang lagi pasangan muda-mudi. Mereka memesan dua kopi dan cemilan. Setelah itu datang lagi ibu-ibu. Memesan risoles, pastel dan lumpia dalam jumlah banyak. Membuat para pelayan kualahan. Hingga Nathan pun ikut turun tangan lagi untuk membantu. Michelle juga tidak tinggal diam. Dia juga membantu suaminya membungkus makanan tersebut ke dalam kardus besar. Kemudian diikat dengan pita, hingga terlihat sangat menarik.
Bersambung ...
__ADS_1
Mana dukungannya????? Vote.. Vote ... Vote...