Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 40 : Panggilan Hati


__ADS_3

"Sudah, Sayang?" tanya Nathan, melihat istrinya membawa barang-barang.


Dan Nathan membantu memasukkan barang -barang sang istri ke bagasi mobil.


"Sudah semua, Mas. Ayo kita jalan !"


"Baik, Sayang," sahutnya, "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya suaminya melihat sang istri bersedih.


"Nggak, apa-apa kok. Mas tenang saja!" jawabnya sambil tersenyum.


Mobil mereka sampai di depan ruko yang cukup luas untuk ukuran cafe. Terletak di pusat kota, dan strategis tempatnya. Catnya masih terlihat bagus, hanya sedikit merubah desain interior saja. Tinggal menambahkan lampu-lampu, dan juga sedikit hiasan.


"Bagaimana, Sayang? Bagus tidak?" tanya Nathan.


"Bagus, Mas. Tempatnya lumayan luas. Tempat parkirnya juga cukup luas. Nanti kita tambahkan kursi dan meja didepan sana," ujar Michelle.


"Iya, Aku setuju, Sayang," jawab Nathan.


"Oya, konsepnya Apa, Mas?"


"Aku ingin konsepnya anak muda, Sayang,"


"Kalau bisa jangan hanya anak muda, Mas. Kita buka untuk semua kalangan. Jadi, siapapun boleh datang ke sini," tutur Michelle.


"Kamu benar, Sayang. Kamu memang pintar! Baiklah aku ganti konsepnya. Aku akan buka untuk semua kalangan. Jadi bukan hanya yang muda saja. Tapi, yang tua juga bisa datang kesini," jawab suaminya, "Terimakasih, Sayang. Kamu sudah mau mendukungku,"


"Sama-sama, Mas. Kita kan suami istri, jadi, harus saling mendukung!" jawabnya sambil tersenyum manis.


"Kapan renovasinya, Mas?"


"Insyaallah besok, Sayang. Cuma perlu renovasi sedikit kok!"


"Oh, begitu,"


"Sudah siang, Ayo kita pulang!" ajak Suaminya, setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ayo!"


"Lapar nggak?" tanya Nathan.


"Iya, Mas. Aku lapar. Kita makan dulu yuk!" ajak Michelle.


"Ayo, kita cari makan dimana?"


"Dimana ya enaknya?" Michelle nampak berfikir.


"Mas, aku lagi pengen bakso. Kita ke kedai bakso yang ada di jalan Suropati, yuk!" ajak istrinya.


"Bakso? Tumben kamu pengen makan bakso?" heran Nathan.


"Nggak tahu. Tiba-tiba saja aku pengen makan bakso," ujarnya.


"Ehm, baiklah. Ayo kita makan bakso!" ujar suaminya.


Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju jalan Suropati. Untungnya jalanan tidak begitu macet. Sehingga dengan cepat Nathan bisa sampai di sana.


"Ayo kita turun!" ajak Nathan.


"Rame banget, Mas!"


"Iya, sudah, kamu tunggu di sana saja. Biar aku pesankan buat kamu!" Nathan menunjuk bangku kosong disudut kedai itu.


"Okey,"


Dua mangkok bakso sudah tersaji di atas meja. Harum kuah baksonya sangat menggugah selera. Entah kenapa melihat bakso itu, Michelle sangat antusias. Dia ingin secepatnya menikmati bakso itu dengan sambal dan kecap yang banyak, ditambah banyak bawang goreng yang kriuk.

__ADS_1


"Heum," membayangkan itu semua membuat Michelle menelan salivanya sendiri. Setelah membaca basmalah, dia langsung menyantap bakso tersebut. Nathan sampai heran melihat istrinya begitu menikmati makanan tersebut.


"Astaga, Sayang, sambalnya nggak kebanyakan tuh!" ucap Nathan. Nathan melihat kuah bakso yang sedang dimakan istrinya itu sudah sangat merah. Tapi, Michelle masih saja menambahkan dua sendok sambal ke mangkoknya.


"Aku lagi pengen makan pedes, Mas!" ucapnya tidak jelas. Karena mulut istrinya penuh dengan bakso.


"Tapi kuah bakso kamu sudah sangat merah, Sayang. Nanti perut kamu mulas!" tutur suaminya.


"Nggak akan, Mas. Mas tenang saja," jawabnya.


Satu mangkok bakso dengan kuah berwarna merah, habis tanpa sisa. Anehnya, sang istri tidak merasa kepedesan. Nathan sampai geleng-geleng kepala, namun, dengan santai sang istri hanya tersenyum.


"Mau nambah?" tanya Nathan.


"Nggak ah, aku sudah kenyang, Mas!" jawabnya sambil mengelus perutnya.


"Yakin?" gelak Nathan.


"Iya, beneran. Aku sudah kenyang,"


"Baiklah, aku bayar dulu. Lalu, kita langsung pulang ya!"


"He'em,"


Setelah membayar ke kasir, mereka pun melanjutkan perjalanan. Kali ini Michelle merengek ingin ke rumah Aminah. Nathan nampak heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba manja.


"Ayolah, Mas. Aku ingin melihat Mustofa!" rengek istrinya.


"Baiklah. Kita ke sana!"


"Tapi, kita mampir ke toko kue dulu ya, Mas. Aku ingin membelikan kue brownies coklat dan keju buat Mustofa. Dia paling doyan dengan brownies coklat dan keju,"


"Okey,"


Tok ... Tok ...Tok


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam," jawab suara dari dalam.


"Aminah?"


"Michelle, saudariku!" Aminah memeluk Michelle dengan kerinduan yang teramat sangat.


"Aminah. Aku rindu kepadamu!"


"Aku juga," senang Aminah. Aminah baru menyadari kalau sahabatnya datang dengan sang suami.


"Eh, Mas Nathan. Ayo silahkan masuk!" Aminah mempersilahkan tamunya duduk diruang tamu.


"Terimakasih," sahut Nathan. Nathan nampak mengamati rumah Adnan dan Aminah.


Rumah yang cukup besar. Dan cukup nyaman untuk dihuni. Dihalaman depan terdapat banyak sekali tanaman hias. Bisa ditebak, penghuninya sangat menyukai tanaman. Rumah Adnan juga terlihat sangat adem dan ayem, apalagi didalam rumah terdengar alunan murattal yang sangat merdu dan syahdu.


"Sebentar ya, Aku telepon dulu Mas Adnan,"


"Wah, kami jadi merepotkan nih!"sahut Nathan.


"Ah, nggak kok. Tempat ngajinya Mas Adnan kan dekat, nggak terlalu jauh juga," jawab Aminah. Nampak Aminah sedang menelepon suaminya. Kemudian dia tersenyum. Dan kembali menemui tamunya.


"Sebentar lagi Mas Adnan pulang," jawabnya.


"Mana Mustofa? Ini aku bawakan brownies kesukaannya," ucap Michelle.


"Wah, jadi merepotkan kamu, Michie,"

__ADS_1


"Nggak. Aku sama sekali nggak repot!" ujar Michelle.


"Musthofa ikut Abinya ke tempat ngaji. Sebentar lagi pulang!"


Memang beberapa menit kemudian Adnan dan Musthofa datang. Musthofa begitu riang menyambut kedatangan Michelle. Anak laki-laki itu akan langsung memberondong Michelle dengan banyak pertanyaan. Membuat semua orang di sana terkekeh geli.


"Kenapa Tante baru datang kesini? Siapa pria itu?" tanya Musthofa dengan wajah lucunya.


"Maaf, Tante sibuk. Jadi baru sempat datang kesini. Dan perkenalkan ini suami Tante. Namanya Om Nathan,"jawab Michelle.


"Hallo, ganteng. Siapa nama kamu?"


"Mus-to-fa," ucapnya sambil mengeja namanya sendiri. Siapa yang tidak terkekeh melihat tingkah menggemaskan anak itu.


"Tante membawa apa buat aku?" tanyanya tiba-tiba. Karena memang setiap Michelle bersilahturahmi ke tempat Aminah, dia selalu membawa buah tangan untuk anak itu. Jadi, tidak heran jika anak itu bertanya.


"Oya, Tante hampir lupa. Tante membawa brownies kesukaan Musthofa," jawab Michelle.


"Wah, Asyik. Aku suka,"


"Kamu mau? Katakan kepada Umi, kamu mau makan brownies," ucapnya.


"Sini biar Umi potong-potong brownies nya!"


Aminah beranjak dari tempat duduknya menuju dapur. Dan Michelle mengikuti langkah Aminah ke dapur juga. Aminah dan Adnan sudah seperti saudara baginya. Jadi, Michelle tidak merasa canggung di rumah Aminah dan Adnan. Selagi para istri membuat minuman dan cemilan. Adnan mengajak Nathan mengobrol santai di dekat kolam renang.


"Bagaimana kabarmu, Nath?" tanya Adnan.


"Berkat kasih sayang Allah dan kalian semua. Saya masih diberikan kesempatan untuk sehat, untuk berubah dan yang paling penting untuk bertaubat!" jawab Nathan mantap.


"Alhamdulillah Wa Syukurillah," jawab Adnan, "Allah paling suka dengan hamba yang taubat. Dan taubatnya dari lubuk hati yang paling dalam!" ucap Adnan sambil menepuk pundak Nathan.


"Terimakasih banyak, Bang. Ini juga berkat doa, motivasi dan dorongan semangat yang Abang berikan!" ujarnya.


"Sama-sama, Nathan. Sesama muslim harus saling mengingatkan," jawab Adnan.


"Ikutlah pengajian dipondokanku. Di sana kamu akan bertemu dengan orang-orang yang baru. Orang-orang yang miskin ilmu agama. Dan mereka berusaha untuk belajar!"


"Kapan itu, Bang?"


"Kajian ilmunya akan diberikan setiap hari Kamis dan Minggu malam. Kamu bisa mengikutinya!"


"Insyaallah, Bang. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam langkah umatnya menuju kebaikan!"


"Harus diniati dari hati. Jangan karena paksaan ataupun tekanan!"


"Insyaallah,"


"Bagus kalau begitu," gelak Adnan.


"Minumannya datang!" seru Michelle membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Alhamdulillah. Akhirnya dahagaku bisa terobati dengan segelas air dan kurma," ucap Adnan terkekeh. Mereka juga ikut terkekeh mendengar candaan ustadz muda itu. Suasana yang tadinya kaku, sekarang sudah mencair. Ternyata Adnan orang yang sangat asyik diajak mengobrol dan sharing.


to be continued .....


☄️☄️☄️☄️☄️


Yuk kenalan dengan karya Author berbau horor....


Judul : KADARSIH


Karya : Cahyaning Fitri


__ADS_1


__ADS_2