
Setelah mandi dan sholat Isya, Nathan merebahkan tubuhnya di kasur busa yang empuk. Sambil memandang langit-langit kamar, tidak berhenti dia bertasbih dan menyelipkan nama istrinya di setiap doa.
Tak ada yang lebih kuasa atas hati, selain Sang Pencipta, maka jika ingin melembutkan hati seseorang, selain ihtiar adalah tetap berdoa dan memohon agar pemilik hati manusia melembutkan hatinya.
Nathan mengecek ponselnya. Dia lupa kalau ponselnya sedari tadi belum ia aktifkan. Saat diaktifkan, banyak sekali notifikasi masuk ke kotak pesan.
"Nomor siapa ini?" gumam Nathan setelah memeriksa ponselnya, ada beberapa panggilan telepon yang nomornya tidak ia kenal. Nathan nampak mengernyitkan alisnya.
Belum sempat dia membalas semua notifikasi pesan yang masuk, rasa kantuknya sudah mengalahkan segala-galanya. Matanya terpejam seiring telinganya mendengarkan alunan ayat-ayat Allah yang dibaca seorang hafidz Qur'an dengan mendayu-dayu. Rasanya sangat indah di indera pendengaran, menyejukkan kalbu.
Pagi-pagi sekali Michelle sudah bangun. Setelah sholat subuh, dia mendekati kamar Umi untuk meminjam ponsel Uminya. Dia berencana ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada sang suami. Bagaimanapun suaminya berhak tahu mengenai kehamilannya.
Namun saat akan meminjam ponsel Umi, ternyata Abahnya sudah bangun. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menelpon sang suami. Sedikit kecewa, tapi dia harus lebih bersabar. Untuk meluluhkan hati yang keras kita harus banyak bersabar dan berdo'a. Kita serahkan kepada Sang Pemilik Hati Manusia. Agar hati Abahnya dilembutkan, tanpa harus menyakitinya.
"Mau kemana, Neng?" tanya Bi Ijah.
"Saya mau menghirup udara segar, Bi. Sudah lama juga, Michie nggak menghirup udara segar," ujarnya sambil tersenyum lebar. Kata Umi, jika seorang wanita sedang mengandung. Wanita itu harus selalu bahagia, supaya anak yang ada di dalam kandungan juga turut bahagia. Sambil mengelus-elus perut ratanya, Michelle bermonolog sendiri.
"Sabar ya, Nak. Pasti kamu bertemu dengan ayahmu kok. Anggap saja kamu sedang berlibur di sini!" ucap Michelle.
"Michie!" panggil seseorang dari arah pagar rumah.
"Teh Siti," kaget Michelle. Sambil menangis Siti menghampiri adiknya, dan memeluknya dengan erat.
"Ada apa? Apa yg terjadi?"
"Hiks ... Hiks ... Hiks." Siti semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas Hendra, Michie,"
"Kenapa dengan Mas Hendra?" tanya Michelle penasaran.
"Dia sudah berani main tangan, Michie," isak Teh Siti.
"A-pa?"
"Ayo, Kita masuk dulu bertemu Umi dan Abah!" ajak Michelle kepada kakaknya.
"Umi, Abah!" panggil Michelle, Umi dan Abah pun keluar.
"Ada apa, Nak?" tanya Umi.
__ADS_1
"Lihat siapa yang datang?"
"Si-ti," keget Umi.
"Si-ti," kaget Abah.
"Umi," isak Siti menghambur ke pelukan Uminya.
"Dengan siapa kamu kesini?" tanya Umi.
"Sendirian, Umi," jawabnya.
"Mana suami kamu?" tanya Abah.
"Mas Hendra nggak ikut, Bah. Siti pulang ke Bogor sendiri,"
"Jadi maksud kamu, kamu kabur dari rumah suamimu!" tanya Abah, dijawab anggukkan kepala oleh Siti.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Nak? Nggak baik kamu kabur seperti itu!" kesal Abah.
"Sudah dong, Bah!" ucap Umi, "Suruh Siti masuk. Dan dengarkan penjelasan Siti di dalam. Nggak enak juga kalau tetangga sampai dengar!" ucap Umi.
"Iya, Umi!" berengutnya, "Ayo masuk Siti! Kamu berhutang penjelasan dengan Abah dan Umi!" geram Abah.
"Sekarang, katakan! Kenapa kamu kabur dari rumah?" bentak Abah.
"Si-ti," ucap Siti tergagap, dia menangis sedih.
"Ayo katakan! Malah tergagap kayak gitu! Kamu punya mulut kan!" marah Abah.
"Abah!" kesal Umi.
"Hiks ... Hiks ... Hiks."
"Malah nangis ini, gimana sih?"
"Ayo ceritakan, Teh! Jangan takut!"
"Mas Hendra sudah melakukan kekerasan fisik kepada saya, Bah!" isaknya, "Dia sudah menyakiti lahir dan batin saya, Bah!" Siti memberikan bukti-bukti kekerasan yang Hendra lakukan kepadanya.
"A-pa? Bagaimana itu bisa terjadi?" kaget Umi.
"Astaghfirullah," kaget Michelle.
__ADS_1
"Kenapa dia melakukan hal itu? Apakah kamu melakukan kesalahan hingga Hendra melakukan hal itu?"
"Astaghfirullah, Bah. Istighfar! Tega-teganya Abah menuduh anak sendiri!" ketus Umi.
"Nggak, Bah. Siti bersumpah, Siti nggak pernah melakukan kesalahan. Justru Mas Hendra yang sudah mengkhianati pernikahan kami. Dia sudah menikah siri dengan wanita lain. Dengan teman sekantornya," terang Siti, "Dan Siti mengetahuinya. Harusnya Mas Hendra merasa bersalah, tapi, dia justru membawa madunya ke rumah. Siti nggak terima dan mengadukan hal ini kepada papa dan mama mertua!"
"Dan Abah tahu apa yang mereka katakan?"
"A-pa?"
"Mereka bahkan menyuruh Siti untuk menerima pernikahan Mas Hendra dengan wanita itu. Selama berbulan-bulan kami hidup bersama dalam satu atap. Dia berjanji akan berlaku adil sama Siti dan madunya. Tapi, Apa?" isak Siti lagi sambil menyeka air matanya.
"Justru sikap Mas Hendra berubah seratus delapan puluh derajat, Bah. Dia tidak bersikap adil kepada Siti. Bahkan saat memberikan nafkah lahir maupun batin, dia juga tidak pernah adil. Siti melakukan protes kepada Mas Hendra. Justru dia bermain kasar dan bermain fisik kepada Siti, Bah!" isaknya.
"Astaghfirullah, Kasihan sekali kau, Nak! Jadi selama ini, saat ditelepon kau menangis karena itu, Nak. Kenapa tidak pernah mengatakan kepada Umi?" isak Umi memegang pipi putrinya dengan sayang. Masih nampak terlihat luka lebam di area pipi dan sudut bibir.
"Siti nggak mau Umi bersedih. Siti takut, Umi!" isaknya.
"Lalu, Bagaimana kamu bisa kabur dari rumah?" tanya Abah lagi.
"Siti berencana ingin pergi dari rumah secara baik-baik. Mas Hendra tidak memperbolehkan Siti pergi, Bah. Justru pada malam itu, Siti dipaksa melayani nafsu setan nya. Siti ikhlas, Bah. Jika dia memintanya dengan baik-baik. Namun yang Siti alami adalah sebuah bentuk pelecehan!" isaknya lagi, "Siti tidak tahan dengan sikap dan perilaku Mas Hendra, Bah. Siti berhasil kabur dari rumah neraka itu. Siti mau langsung pulang ke rumah. Tapi, Siti ingat kalau Siti tidak membawa uang sepeserpun. Akhirnya Siti berbelok ke rumah Pak RT. Di sana curhatan hati Siti didengarkan oleh Pak RT dan Bu RT. Mereka bersedia membantu Siti untuk melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib. Bahkan ingin melaporkan tindakan tersebut ke Komnas Perempuan. Untuk memperkuat bukti, Bu RT menyuruh Siti melakukan visum di RS. Itupun mereka yang membayarnya,"
"Sungguh mulia hati mereka," puji Umi.
"Saat Bu RT menyuruh Siti untuk mengadukan perkara ini kejalur hukum, Siti menolaknya, Bah. Ada anak-anak diantara kami. Jika mereka sampai tahu bahwa sebejat apa ayah mereka, Siti yakin mereka pasti akan bersedih. Siti hanya takut kejiwaan mereka terguncang, Bah!" isak Siti lagi, "Siti pun hanya meminta cerai dari Mas Hendra. Dan meminta uang kepada Mas Hendra untuk pulang ke sini!"
"Tega sekali Hendra kepada anak kita, Bah!" namun suaminya hanya terdiam seperti patung.
"Sudah, Nak. Sekarang kamu aman! Masalah anak-anak, jangan kamu khawatirkan! Nanti kita urus! Sekarang beristirahatlah di kamar. Umi tahu kamu pasti lelah dan letih setelah menempuh perjalanan jauh dari Surabaya ke Bogor!"
"Terimakasih, Umi," isak Siti.
"Michie, Antarkan teteh kamu ke kamarnya!"
"Baik, Umi,"
"Ayo, Teh!" ajak Michie.
to be continued ...
Penasaran dengan kelanjutan Babang Nathan dan Michelle. Ayo dukung terus karya ini. Kasih bunga dan kopinya....Vote ... Vote ... Vote....
__ADS_1