
"Bah, Abah harus mengambil sikap! Apakah Abah akan diam saja?" kesal Umi, "Apa yang dilakukan oleh Hendra sama halnya sudah menginjak-injak keluarga kita!"
"Iya, Umi. Nanti akan Abah bicarakan dulu dengan Kang Kartono," ujarnya.
"Kartono, Kartono lagi!" kesal Umi, "Sampai kapan Abah akan terus bergantung dengan Kang Kartono? Sampai kapan Abah selalu mendengarkan ucapan Kang Kartono? Sampai semua anak-anak kita hidup menderita. Umi tidak rela, Bah!" geram Umi.
"Sabar dulu, Umi. Apapun yang terjadi dengan keluarga kita, kita harus bertanya dulu dengan orang yang lebih tua!"
"Umi teh nggak ngerti dengan pola pikir Abah. Mungkin Abah baru sadar, jika anak-anak sudah mulai memberontak karena sikap Abah yang tidak peduli dengan kebahagiaan anak sendiri!" ketus Umi sambil berlalu pergi.
Abah mulai merenungi kata-kata Umi. Umi terlihat marah, dan pergi begitu saja. Apakah sikapku sangat keterlaluan dengan anak-anak? Tapi, aku hanya berusaha menghargai pengorbanan kakakku selama ini? batin Abah.
Cafe baru telah dibuka dengan nama 'Fajrin Cafe'. Sengaja Nathan memberikan nama Cafenya dengan nama Fajrin Cafe. Karena Fajrin sendiri memiliki arti bahagia. Nathan berharap setelah orang datang ke cafenya, mereka turut bahagia.
Setelah pembacaan doa dari Bang Adnan, Nathan mulai menggunting pita merah, Sebagai pertanda bahwa cafenya sudah dibuka, dan siapa pun bisa menikmati makanan yang ada di cafe tersebut.
Sebagai awal pembukaan cafe, Nathan sengaja memberikan makanan gratis selama satu hari. Itupun ia bagi menjadi 3 batch. Batch pertama, dari awal cafe dibuka sampai jam dua belas siang. Batch kedua dari jam dua sampai jam lima sore, dan Batch ke tiga dari jam tujuh sampai jam sembilan malam. Untuk masing-masing batch minimal 50 orang. Nathan sengaja mengatur itu semua, supaya orang yang ditugaskan untuk melayani pengunjung tidak kerepotan. Tenaga juru masak di dapur juga tidak terlalu diforsir.
Berbondong-bondong orang datang untuk menikmati makanan dan minuman cafe milik Nathan. Seperti dugaan Nathan, pengunjung sangat menyukai makanan yang dibuat oleh Mba Retno, yaitu nasi biryani daging. Dan nasi biryani ini menjadi menu utama cafe itu.
Bukan hanya makanan berat saja, desert juga ada. Seperti risoles ayam, pancake durian, waffle saus keju, puding, kue Pei susu keju, dan custard puding. Semuanya sudah terdaftar di buku menu. Pengunjung tinggal memesan kepada salah satu pelayan, apa pesanannya.
Ada meja kasir di sana, disebelah meja kasir ada etalase yang tingginya satu meter. Di etalase tersebut, dipajang berbagai kue basah yang rasanya tidak diragukan lagi. Boleh dimakan ditempat, boleh juga untuk oleh-oleh dibawa pulang.
Nathan mempersilahkan Bang Adnan, istri dan juga putranya duduk di bangku dekat jendela. Selain tempatnya cukup nyaman, dengan kursi sofa yang empuk. Dari sini kita bisa langsung melihat jalan raya. Di belakang mereka, ada akuarium besar. Dimana di akuarium tersebut terdapat banyak ikan hias yang terlihat sangat cantik dan memperindah cafe. Musthofa nampak sangat bahagia melihat ke arah akuarium.
"Bang, mau pesan apa? Hari ini adalah promosi cafe, jadi gratis! Terserah Abang mau pesan apa!" ucap Nathan.
"Beneran nih? Kamu nggak rugi?" goda Adnan.
"Insyaallah, nggak, Bang! Bukankah rezeki seseorang itu sudah ditakar. Dan tidak bisa tertukar!" kelakar Nathan.
"Ah, kau ternyata sangat pandai bercanda!" gelak Adnan.
"Makanan apa yang paling direkomendasikan di cafe ini?"
"Makanan yang paling rekomendasi, ada nasi biryani yang rasanya tidak kalah dengan negara asalnya. Tinggal pilih dengan daging, empal, atau ayam. Coba juga cumi dan udang tepung, sangat bagus untuk anak-anak!" Nathan sangat pandai mempromosikan masakan Mba Retno.
__ADS_1
"Boleh tuh!" ujar Adnan.
"Okey, aku catat ya!" melihat para karyawannya sibuk dengan pengunjung yang membeludak, Nathan pun ikut berperan melayani para pembeli.
"Minumnya?"
"Es teh saja deh," ucap Aminah, "Es susu juga boleh buat Musthofa!" imbuhnya lagi.
"Okey, sudah saya catat. Mohon ditunggu! Pesanan akan segera datang!"
Nathan memberikan catatan tersebut kepada Mba Retno. Ibu juga ada di sana, membantu Mba Retno membuat minuman. Ayah juga tidak mau tinggal diam, dia membantu Retno didapur menyiapkan gelas dan piring yang akan digunakan. Padahal Retno sudah melarang ayahnya untuk bekerja, tapi, Bara tidak mau. Dia tidak mau hanya menjadi penonton saja, melihat yang lain sibuk.
Sedangkan Chef Tomy, chef yang ditunjuk oleh Byan untuk bekerja di cafe milik Nathan, dia juga sibuk membuat masakan lainnya.
Satu orang pelayan mengantarkan pesanan ke meja Bang Adnan. Nathan mempersilahkan Bang Adnan dan keluarganya untuk menikmati makanan di cafenya. Sembari menunggu Bang Adnan menikmati makanan, Nathan melayani pembeli yang lain.
Cafe terlihat sangat ramai, meskipun sudah diatur sedemikian rupa, tetap saja orang-orang rela mengantri di depan cafe menunggu hingga tiba giliran. Mereka sengaja datang lebih awal, supaya tidak kehabisan makanan. Apalagi makanan tersebut gratis.
"Akhirnya Abang datang juga!" senang Nathan.
"Maaf aku terlambat. Anakku agak rewel!" ujarnya.
"Anak?" tentu Nathan bingung, dia baru tahu kalau Byan sudah memiliki seorang anak.
"Oya, aku lupa! Bukankah Michelle pernah mengatakan kepadamu bahwa aku seorang duda!"
"Iya, itu benar,"
"Aku memang seorang duda dengan satu anak. Dan ini adalah anakku," ucap Byan, "Dan kenalkan, dia ibuku. Datang dari kampung!"
"Ah, Abang bisa saja!"
"Wah, senang bisa berkenalan dengan temannya Byan! Maaf ya, Tante datang ke acara kamu, padahal kan Tante nggak diundang!"
"Duh, Tante ... !"
"Tante Ningsih," sambung Bu Ningsih.
"Nathan merasa bahagia, Ibunya Bang Byan bisa datang kesini! Itu suatu kehormatan lho, Tan!" puji Nathan. "Eh, kita kok malah ngobrol terus! Silahkan duduk!" ucap Nathan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Terimakasih," jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Ramai juga ya!"
"Alhamdulillah,"
"Bang Byan mau pesan apa?"
"Aku kopi saja, Nath. Baru saja aku makan masakan ibu di rumah. Jadi, masih agak kenyang!"
"Kalau, Tante?"
"Tante ngemil aja deh,"
"Okey. Aku pesankan Coffe latte dan jus. Dan cemilannya, Nathan pesankan risoles ayam dan custard puding coklat. Gadis cantik ini pasti suka!" ucap Nathan sambil menoel pipi gembul anak Byan.
"Siapa nama kamu, Cantik?" tanya Nathan.
"Amira," jawabnya.
"Wah, pintar sekali! Berapa umur kamu?"
"Lima tahun," jawabnya lagi.
"Cantik, suka nggak sama ice Cream? Om Nathan punya banyak ice Cream loh!"
"Suka,"
"Okey, Om minta cium dulu dong!" Amira pun mencium pipi Nathan. Siapa yang tidak gemas coba? Melihat gadis kecil itu sangat pintar dan tanggap menjawab pertanyaan orang dewasa.
"Om ambilkan ice Cream untuk kamu!" Nathan masuk ke dapur, dan keluar kembali dengan membawa satu gelas ice Cream coklat dan vanilla, dengan biskuit dan permen sebagai hiasannya. Tentu saja Amira begitu senang.
"Ini buat tuan putri yang cantik jelita,"
"Terimakasih, Om,"
"Terimakasih lho, Nak Nathan,"
"Sama-sama, Tante,"
Beberapa menit kemudian pesanan Byan datang. Nathan mempersilahkan Byan untuk menikmatinya.
"Silahkan, Tante, Bang Byan! Dicicipi! Gimana rasanya?"
"Enak kok, Nath. Bahkan sangat enak! Benarkan, Bu?" jawab Byan.
"Iya, Nak. Ini enak banget!" jawab Ibunya Byan.
"Wah, terimakasih banyak atas pujiannya. Aku senang kalau Tante dan Bang Byan suka!"
"Iya. Tapi, beneran, ini enak banget," puji Ningsih lagi.
"Alhamdulillah,"
__ADS_1
to be continued ...