Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 54 : Bangkit untuk Berjuang


__ADS_3

Nathan keluar kamarnya. Dia nampak berseri-seri, dan semangat kembali. Dia melihat Ibu dan Mba Retno sedang sibuk di dapur. Sepertinya mereka sedang membuat sarapan pagi. Sedangkan Ayah sedang menikmati secangkir kopi dan pisang goreng.


"Selamat pagi, Yah!" sapa Nathan.


"Eh, Nak. Kemarilah!" Ayah memerintahkan Nathan duduk di sebelahnya.


"Iya, Yah,"


"Minumlah teh hangat ini. Ibumu yang membuatkan," ujarnya.


"Iya, Yah," jawabnya. Nathan merasa beruntung memiliki keluarga seperti mereka. Yang selalu ada untuknya disaat masa sulit.


"Apa rencanamu selanjutnya, Nak?" tanya Bara.


"Nathan akan bangkit kembali, Yah. Nathan akan terus berjuang membuka Cafe. Seperti rencana awal Nathan dengan Michie," ujarnya.


"Bagus. Ayah suka dengan semangat kamu," ujar ayahnya.


"Apakah semuanya sudah siap?"


"Belum, Yah. Nathan berencana ingin menjual rumah Nathan untuk tambahan modal. Nathan perlu modal banyak untuk membuka Cafe," ujarnya.


"Jika memang kamu membutuhkan modal, jual saja tanah kita yang di jalan Sudirman. Itu adalah bagianmu, Nak!" ucap Ayahnya.


"Yang di jalan Sudirman?"


"Iya, itu adalah jatah kamu dari Bapak dan Ibu,"


"Punya Mba Retno?" tanya Nathan. Dia juga harus tahu jatah untuk kakaknya. Bagaimanapun kakaknya yang seorang janda, harus diutamakan terlebih dulu.


"Kakakmu sudah mendapatkan haknya. Kamu ingatkan, tanah yang di jalan Sutomo. Itu adalah hak kakak kamu. Dan sudah dijual untuk biaya Kuliah anaknya Tiara. Jadi, tanah itu ya hak kamu," terang Ayah.


"Tapi ... !"


"Kamu jangan khawatir. Ayah sudah membagi warisan sesuai dengan syariat agama. Dan Mbakmu juga sudah tahu itu. Kalau Kau tidak percaya, kamu bisa tanyakan ke Mbakmu!" sela Ayah.


"Iya, Nath," ucap Retno, tiba-tiba datang membawa secangkir teh, "Itu memang jatah kamu. Jatahnya Mba sudah digunakan untuk keperluan Tiara," ujarnya.


"Alhamdulillah kalau begitu. Jadi, bisa Nathan pergunakan untuk tambahan modal," ujarnya.


"Mba denger kamu ingin menjual rumah?"


"Iya, Mba. Bagaimanapun juga rumah itu juga ada haknya Michie. Dan Nathan akan bagikan juga untuk Michie sebagai harta gono-gini,"


"Iya, Kau benar," ucap Retno, "Mba hanya bisa berdoa untuk kalian berdua,"


"Terimakasih banyak, Mba,"


"Oya, ngomong-ngomong, Apakah semuanya sudah siap?"

__ADS_1


"Sudah 75 persen, Mba. Insyaallah bulan depan siap," ujarnya, "Nathan tinggal mencari seseorang yang mengurus dapur. Tentunya yang masakannya harus enak dong!"


"Kenapa nggak Mbakmu saja yang masak, Nath?" sela Ibu yang tiba-tiba datang. Ternyata sedari tadi Ibu mendengarkan percakapan kami.


"Benar juga, Mba Retno kan masakannya enak. Gimana Mba?"


"Duh, Mba kurang percaya diri," gelaknya.


"Ayolah, Mba. Kita buat ini seperti bisnis keluarga. Mba tenang saja, semua kerja keras Mba, Nathan bayar Kok!"


"Gimana ya?" Retno nampak berfikir, "Mba takut masakan Mba nggak enak,"


"Retno, masakan kamu tuh enak. Bukankah dari dulu, kamu juga punya keinginan membuka warung makan?" ucap Ibu.


"Tuh, kan. Punya bakat itu harus dikembangkan, Mba. Nathan bantu deh!"


"Konsepnya, Mba yang mengurusi semua bagian dapur. Nathan juga akan mempekerjakan Chef juga untuk membantu Mba. Tujuannya supaya Mba nggak terlalu repot," jelas Nathan.


"Baiklah, Mba, setuju," ucap Retno dengan semangat.


"Alhamdulillah," senang Nathan.


Setelah sarapan bersama. Nathan berpamitan kepada Ayah dan Ibu untuk melihat Cafe. Dia juga harus bertemu dengan seseorang untuk membahas masalah cafenya.


Dengan kecepatan tinggi Nathan melajukan mobilnya. Dia sudah ada janji bertemu dengan Byan di Restaurannya. Dan dia tidak mau jika janji bertemunya sampai gagal.


"Silahkan, Pak! Bapak sudah ditunggu diruangan Pak Byan!" ucap pelayan.


"Terimakasih,"


Byan sudah menunggu di ruangannya. Dia menyambut Nathan dengan hangat. Seperti sahabat lama yang tidak pernah bertemu, mereka begitu akrab.


"Silahkan, duduk!"


"Terimakasih,"


"Gimana? Ada kabar apa?" tanya Byan penasaran.


"Ini, Bang. Saya ingin meminta bantuan kepada Abang. Kiranya, Apakah Abang bersedia?" tanya Nathan.


"Apa itu?"


"Masalah Cafe yang akan saya buka,"


"Oh, Cafe,"


"Apakah Abang mempunyai Chef yang bisa bekerja di Cafe ku?"


"Ehm, butuh berapa?"

__ADS_1


"Satu saja, Bang. Aku butuh satu. Karena ada seorang lagi yang bekerja di bagian dapur,"


"Gampang itu. Kamu serahkan saja padaku. Aku punya kenalan Chef banyak,"


"Terimakasih banyak, Bang. Aku selalu merepotkan Abang,"


"Ah, nyantai saja. Lagian Kau ini kan suaminya Elle. Dan Elle adalah temanku di kampung," ujarnya, "Eh, ngomong-ngomong sendirian saja. Nggak sama Elle?" tanya Byan yang baru menyadari kalau Nathan datang sendiri saja.


"Iya, Bang. Sekarang Michelle ada di Bogor. Di rumah orangtuanya," jawabnya.


"Oh, sedang liburan?"


"Nggak juga," jawab Nathan tersenyum simpul. Dia bingung bagaimana memulainya untuk bercerita.


"Kami sudah bercerai, Bang,"


"Kok bisa?" kaget Byan.


"Huft," Nathan menghela nafasnya berat.


"Ini semua adalah kesalahan ku. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahan kami,"


"Ada apa? Cerita saja kepadaku! Mungkin saja aku bisa membantu?" tawar Byan, "Anggap saja aku ini sahabatmu juga," ucap Byan.


"Terimakasih, Bang. Abang sudah bersimpati kepada ku," jawabnya, "Sebenarnya ini adalah cerita yang tidak pantas untuk diceritakan,"


"Ceritakan saja. Aku siap kok untuk mendengarkan!"


Nathan pun menceritakan semuanya kepada Byan. Byan yang memang usianya lebih dewasa dibandingkan Nathan, dia bisa menyikapi masalah Nathan dengan bijak.


"Aku kenal Elle dengan keluarganya sejak dulu. Begitulah sikap Abah Aang. Dia terlalu penurut dengan kakaknya, Pakde Kartono. Dan masalah Dewi, sejak kecil memang Dewi tidak pernah merasa suka dengan Elle. Dewi selalu iri dengan apa yang dimiliki Elle. Hidup Elle yang serba berkecukupan, apapun yang Elle inginkan selalu ada, kepintaran Elle, karir Elle. Semua yang ada pada Elle, Dewi tidak memilikinya. Dengan terang-terangan Dewi memperlihatkan ketidaksukaannya kepada semua orang. Namun memang karena Elle memiliki sifat yang lembut dan baik, sekalipun tidak pernah mempersoalkan sikap Dewi kepadanya. Semua orang mungkin berpikir bahwa itu hanyalah kenakalan anak-anak. Tapi tidak bagi Dewi, kebenciannya kepada Elle semakin bertambah. Mungkin setelah tahu bahwa kekasihnya yaitu kamu, menikahi Elle. Aku yakin kebencian Dewi kepada Elle semakin besar!"


"Karena itu, Bang. Aku melepaskan Michie," sedihnya, "Aku tidak mau dia sampai di tekan oleh semua anggota keluarganya. Terutama kedua orangtuanya. Biarlah aku melepaskan untuk melihatnya bahagia,"


"Kamu yang sabar ya. Mudah-mudahan masalah kamu cepat selesai. Dan kebenaran cepat terungkap. Yakinlah, bahwa bangkai tidak bisa selamanya ditutupi!" ucap Byan.


"Terimakasih, Bang,"


"Nanti aku kabari! Jika butuh bantuan ku untuk promosikan Cafe kamu, jangan sungkan-sungkan! Aku siap membantu!"


"Terimakasih banyak, Bang!"


Nathan bersyukur, didalam keterpurukannya masih ada sahabat-sahabat yang mendukung dan memberikan semangat.


to be continued ...


Ayo dong Say bantu likenya, komentar, rate bintang lima, dan votenya.


Jangan lupa tabur hadiah bunga dan kopinya....😘😘

__ADS_1


__ADS_2