Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 93 : Melebarkan Sayap


__ADS_3

Kematian merupakan wilayah incognita yang penuh misteri. Tidak seorangpun tahu kapan kematian akan datang. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami seperti penyakit atau karena penyebab tidak alami seperti kecelakaan. Jika kematian dapat diketahui, tentulah setiap makhluk terlebih manusia akan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin.


Bagaimana menghadap sang Pencipta dengan biasa-biasa saja. Sudah tentu harus dengan persiapan yang matang dan istimewa. Tidak mau berantakan saat bertemu sang Maha Indah.


Biasanya orang teringat sebuah kematian saat diri sakit dan tak kala melihat sebuah kematian. Saat tergeletak sakit tak berdaya, tak jarang orang berpikir bahwa hidupnya tak lama lagi. Meski saat sakit harus tetap berpikir positif akan sembuh, namun bayang kematian terus melintas.


Tak ada yang bisa memastikan kapan kematian menjemput.Tak ada yang mampu memastikan bahwa diri telah memiliki bekal yang cukup. Tak ada yang bisa memastikan kapan Malaikat pencabut nyawa datang. Karena kematian adalah sebuah misteri. Maut tidak mengenal usia dan tidak mengenal kasta.


Ada yang pagi hari terlihat segar-bugar, siangnya sudah tiada. Ada yang sakit sudah menahun, akhirnya sehat kembali. Saat kontrak di dunia selesai. Tak ada bekal terbaik selain amalan saleh saat hidup di dunia.


____


____


Jenazah Dewi langsung di makamkan. Karena semakin cepat dimakamkan akan semakin baik. Acara pemakaman selesai sekitar satu setengah jam. Semua pelayat pulang ke rumah masing-masing, sedangkan Salma dan Kartono menangis pilu diatas pemakaman anaknya.


Umi dan Abah berusaha untuk menguatkan keduanya. Memberikan ketabahan dan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan.


°°°°°°


Setelah tiga hari menginap di rumah Abah. Nathan dan Ayahnya pun berpamitan pulang. Nathan harus kembali ke Jakarta, karena Nathan masih memiliki tanggung jawab besar lain yang menanti.


"Nak Nathan, Ini Umi titip oleh-oleh buat Michelle dan keluarga di kota! Ini makanan kesukaan Michelle!"


"Iya, Umi! Terimakasih banyak! Kami pamit ya, Umi, Bah!"


"Iya, hati-hati di jalan!"


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."

__ADS_1


Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi menuju kota Jakarta. Membelah jalanan yang masih sepi, karena mereka berangkat lebih awal dari biasanya. Setelah sholat subuh mereka berangkat dari rumah Abah.


Nathan mengulas senyum kala mobilnya sudah memasuki kota Jakarta. Sebentar lagi dia akan bertemu anak dan juga istrinya. Beberapa hari tidak bertemu, rasanya sudah berbulan-bulan. Dia sangat merindukan mereka.


Tidak terasa mobilnya sudah berhenti di halaman rumah. Michelle keluar menyambut kedatangan mereka. Ia sangat bahagia saat sang suami pulang. Apalagi membawa oleh-oleh dari Bogor dari Uminya.


"Assalamualaikum!" ucap Nathan sambil mengecup kening sang istri.


"Walaikumsalam!" Michelle mencium punggung tangan sang suami dan ayah mertuanya.


"Di mana Agam?"


"Ada, dikamar! Sebaiknya sebelum memegang Agam, Mas bersih-bersih dulu! Karena orang yang bepergian jauh, besar kemungkinan membawa banyak bakteri dan virus!" tutur Michelle tegas pada suaminya. Bara hanya terkekeh geli, baru datang anaknya sudah diceramahi sang istri.


"Iya, Sayang! Aku mandi dulu!"


___


___


"Iya nih, Bu! Siapkan Ayah baju, Ayah mau mandi dulu!" ujar Ayah sambil berlalu ke kamar mandi.


Sementara Michelle, menyiapkan baju ganti untuk sang suami. Dia juga sudah menyiapkan satu gelas lemon tea dingin untuk sang suami. Cuaca panas seperti ini, paling enak minum yang dingin-dingin.


"Gimana acara pemakamannya?" tanya Michelle kala sang suami baru keluar dari kamar mandi. Michelle meraih handuk yang dipegang sang suami, dan membantu mengeringkannya.


"Alhamdulillah lancar! Tapi Pakde dan Bude nangis terus!"


"Iya, Aku bisa merasakan kesedihan mereka! Semoga Dewi diampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan di sisi yang terbaik!"


"Amin."

__ADS_1


Nathan duduk di lantai, dan Michelle duduk disisi tempat tidur sambil mengeringkan rambut suaminya. Nathan menyenderkan kepalanya ke pangkuan sang istri. Sepertinya ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.


"Ada apa?" tanya Michelle.


"Ingat dengan Dewi! Aku ingat dengan masa laluku!" lirihnya, "Aku tidak menyangka, nasibnya sangat menyedihkan seperti ini! Aku bersyukur, Allah mengingatkan aku dengan cara memberikan penyakit! Aku juga bersyukur, Allah juga yang mengangkat penyakit itu dari tubuhku! Semuanya adalah karena kasih sayang dari Allah yang begitu besar untukku, Sayang!"


"Iya, Mas! Karena itu, Kamu harus banyak-banyak bersyukur! Allah memberikan kesempatan pada setiap hamba-nya yang benar-benar mau bertaubat!"


"Iya, Kau benar! Allah sangat menyayangi hambanya. Buktinya, aku diberikan kesempatan memiliki seorang anak!" gelaknya.


Nathan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian mendekat ke arah box bayi. Betapa menggemaskan putranya saat tidur. Saat disentuh, bayi mungil itu hanya menggeliat tanpa membuka mata.


"Jadilah anak yang Sholeh, Nak! Kelak jadilah pria yang bertanggung jawab, mencintai keluarga! Dan menjadi seorang Imam yang bertanggung jawab untuk istri dan anakmu kelak!"


"Amin." Michelle mengulas senyum tipis.


____


____


Satu bulan berlalu. Nathan kembali beraktivitas seperti biasa. Sibuk mengembangkan bisnis Cafenya. Dan mulai mengembangkan sayapnya.


Sekarang dia sudah memiliki 2 cafe di tempat yang berbeda. Dia sangat bersyukur sekali, cafenya semakin ramai. Ditambah dengan menu cafe yang semakin banyak. Membuat para pengunjung tidak bosan untuk menikmati menu dari Cafe Nathan.


Mba Retno yang sangat lihai mengkolaborasikan beberapa makanan mancanegara dengan makanan Indonesia, membuat menu Cafe semakin beragam dan tentunya rasanya tidak mengecewakan. Banyak orang yang suka dengan menu tersebut. Cafe pun bertambah ramai. Dan semua itu tidak lepas dari usaha Mba Retno. Dan sekarang Nathan memberikan kepercayaan penuh cafe yang satu pada Mba Retno.


Setiap bulan Nathan menyisihkan pendapatannya untuk bersedekah. Karena itu sudah menjadi tujuan hidupnya. Michelle sangat bahagia dengan dengan rencana sang suami.


____


____

__ADS_1


To be continued ...


__ADS_2