Penyesalan Suami : Air Mata Istriku

Penyesalan Suami : Air Mata Istriku
Episode 55 : Ketika Allah Sudah Berkehendak


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Byan, entah kenapa Nathan ingin sekali mengunjungi tempat pengajian Ustadz Adnan. Dia juga ingin mendapat wejangan dari ustad muda itu membahas pernikahannya.


Mobil Nathan melaju menuju tempat pengajian Adnan. Tempatnya sepi, sepertinya tidak ada pengajian di sana. Hanya terdengar suara orang menghafal Al-Qur'an .


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam," jawab orang dari dalam.


"Eh, Mas Nathan. Mencari ustadz ya?"


"Iya, Mas,"


"Monggo. Silahkan duduk dulu! Saya panggilkan Pak Ustadz,"


"Terimakasih banyak ya, Mas,"


"Sama-sama,"


Beberapa menit kemudian, Ustadz Adnan keluar. Dia menyambut Nathan dengan hangat. Adnan merangkul Nathan layaknya saudara.


"Silahkan duduk! Senang rasanya bisa melihatmu lagi. Bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah sehat, Bang," ujarnya.


"Alhamdulillah,"


"Gimana? Apakah semuanya sudah kelar?" tanya Adnan.


"Belum, Bang," ucap Nathan tersenyum tipis, kemudian menghela nafasnya panjang.


"Aku sudah menceraikan Michelle," sedih Nathan.


"Kok bisa?"


"Itulah yang harus saya lakukan sejak dulu, Bang. Agar tidak menyakitinya terus!"


"Kenapa kamu berfikiran seperti itu, Nath?"


"Hhhhhhhhhhhh," Nathan membuang nafasnya kasar.


"Abahnya Michelle sudah mempersiapkan surat perceraian untuk saya tandatangani, Bang. Dan beliau juga meminta saya untuk melepaskan putrinya," ucapnya, "Saya sadar, siapa saya ini. Saya hanyalah seorang pendosa yang tidak patut bersanding dengan wanita baik seperti Michelle. Saya juga seorang yang hina, yang tidak patut hidup bahagia," lirihnya.


"Kenapa kamu terus menyalahkan dirimu sendiri, Nath?" tanya Adnan, "Allah itu Maha Pemaaf bagi umatnya yang benar-benar melakukan taubat. Ingat Nathan! Allah itu sangat mencintai para pelaku maksiat yang gemar bertaubat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa bersalah!" tandas Adnan, "Jadi, berhentilah menyalahkan diri sendiri!"


"Sangat normal jika kita penuh dosa dan penuh dengan kekurangan, Nath. Yang menjadi masalah adalah saat kita berhenti menyesali dosa-dosa yang kita lakukan dan tidak bertaubat kepada Allah! Aku malu saat dianggap baik padahal aku adalah pendosa yang hebat hanya saja Allah sedang menutup aibku!" ucap Adnan.


"Astaghfirullah. Apa yang sudah aku pikirkan. Aku telah mendzolimi diriku sendiri. Terimakasih banyak, Bang. Abang sudah mengingatkanku!"


"Itulah manfaatnya seorang saudara muslim. Mereka akan saling membantu dan saling mengingatkan!" ucap Adnan, "Saranku, perbanyaklah berdoa. Serahkan semua masalah kepada Sang Pencipta. Jika memang dia adalah jodohmu pasti akan bersatu kembali. Namun jika hanya sampai disini kisah cinta kalian, berarti kalian tidak berjodoh. Karena jika memang berjodoh Allah akan semakin mendekatkan, bukan menjauhkan."


"Allah selalu punya skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam menanti. Bersyukur atas semua kebaikan dan ujian yang Allah berikan pada kita. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang taat,"


"Iya, Bang. Nasehat Abang akan selalu ku ingat! Aku beruntung bisa mengenal Abang!"

__ADS_1


"Ah, Kau bisa saja! Aku juga sedang proses belajar. Aku juga bukan seorang yang sempurna! Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah,"


"Aku mengerti, Bang. Terimakasih sekali lagi! Aku sangat bersemangat, Bang!" senang Nathan. Nathan sangat bahagia jika sudah bertemu dengan Ustadz muda itu. Meskipun usia mereka tergolong tidak terlalu jauh, namun Nathan sangat senang jika dinasehati ustadz muda itu. Nasehat-nasehatnya bagaikan air sejuk yang menyirami gurun gersang dan panas.


"Oya, Bang. Rencananya aku akan membuka cafe dipusat kota. Mungkin Abang punya kenalan atau santri-santri Abang yang ingin bekerja di cafe saya. Insyaallah ada lowongan untuk 6 pekerja laki-laki. Dan yang jelas mereka berniat untuk bekerja!"


"Wah, hebat kamu! Jadi, Kamu mau membuka Cafe!"


"Begitulah, Bang!"


"Sepertinya ada, dan mereka juga pasti mau! Karena, mereka memang ingin bekerja mencari nafkah untuk keluarganya,"


"Bagus itu, Bang. Abang bisa menyuruh mereka untuk datang ke alamat ini!" Nathan menyerahkan alamat Cafe miliknya.


"Memang baru pembukaan sih. Tapi, Insyaallah jika Cafe itu sukses maka akan menjadi ladang bagi mereka untuk mencari rezeki,"


"Iya, nanti coba aku tanyakan pada santri-santri ku!"


"Kapan grand openingnya?"


"Insyaallah bulan depan tepat tanggal satu, Bang. Abang dan keluarga datang ya! Saya mengundang Abang secara khusus!"


"Wah, saya jadi tamu istimewa dong!" gelak Adnan.


"Iya, Bang," tawa Nathan.


"Insyaallah, Saya dan keluarga datang. Semoga Allah terus melimpahkan Rahmat, nikmat dan rezekinya kepada kamu, Wahai Saudara muslimku!"


Setelah melaksanakan shalat dhuhur berjamaah di tempat pengajian Ustad Adnan, Nathan pun berpamitan pulang. Masih banyak yang harus dia urus. Dia harus ke Cafe, karena hari ini kulkas besar dan Freezer pesanannya akan diantar ke Cafe.



Michelle mengerjapkan matanya. Dia nampak mengamati sekelilingnya. Umi yang melihat putrinya sudah siuman, dia langsung mendekati tempat tidur Michelle.


"Sayang, Kau sudah bangun?" senang Umi.


"Michie dimana, Umi?"


"Kamu di RS. Kamu pingsan, Sayang. Umi panik dan menyuruh Abah untuk membawamu ke sini!"


"Badan Michelle lemes, Umi,"


"Tentu saja, Nak. Kan dari kemarin kamu memang tidak makan nasi. Kamu asyik makan asinan!" kekeh Umi.


"Maafkan Michie, Umi. Michie selalu merepotkan Umi dan Abah," ujarnya.


"Kamu ini ngomong apa sih? Sama sekali kamu nggak merepotkan kami," jawab Umi bahagia, "Kamu harus makan teratur ya! Sekarang bukan kamu saja yang harus diberi makan. Tapi, baby yang ada didalam kandungan kamu juga harus makan," tutur Umi.


"Iya, Umi," sahut Michelle, "A-pa? Baby? Maksud Umi?" Michelle membulatkan matanya. Umi tahu kalau Michelle pasti terkejut mendengar kabar gembira ini.


"Iya, Baby," gelak Umi, "Sekarang diperut kamu ada kehidupan. Kamu sedang mengandung, Nak,"


"Umi sedang nggak bercanda kan?"

__ADS_1


"Ish, Mana mungkin sih Umi bercanda!" kekeh Umi, "Bukankah ini yang kamu tunggu-tunggu selama ini!"


"Jadi maksud Umi, Michie akan menjadi seorang ibu?"


"Iya," sahut Umi Kulsum.


"Alhamdulillah," senang Michelle dengan deraian air mata.


"Umi nggak bohong kan? Umi sedang nggak bercanda kan?" tanya Michelle ingin memastikan bahwa kehamilannya benar.


"Nggaklah, Sayang. Buat apa Umi bercanda?"


"Hiks ... Hiks ... Hiks." dengan deraian air mata, Michelle menengadahkan kedua tangannya menghadap kiblat seraya berdoa kepada Allah SWT.



"Bismillahilladziilaailaaha illaa huwal haliimul kariimu rabbil 'arsyil 'azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul'arsyil 'azhiim."



"Dengan menyebut nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Penyabar, Yang Maha Mulia, Tuhan 'Arsy yang Agung. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan semesta langit dan bumi dan Tuhan 'Arsy yang agung."



"Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."



"Allahummah fazh waladii ma daama fii bathnii. Wasyfihi ma'ii. Anta asy-syaafii laa syifaa'an illa syifaa 'uka syifaa 'an laa yughaadiru saqamaa."



"Ya Allah, semoga Engkau lindungi bayiku ini selama ada dalam kandunganku, Berikanlah kesehatan kepadanya bersamaku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesehatan selain kesehatan yang Engkau berikan, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain."



"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh."



"Amin," dijawab Umi.



to be continued ...



Ayo Readers sayang, Tabur bunga dan kopinya, supaya Authornya semangat...💪💪



Sun jauh dari Author.....😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2